Kepala K

MALAM belum larut benar. Namun jalanan lengang. Daun-daun masih berat menyimpan sisa hujan seharian. Adi hampir sampai di ujung jalan. Dia harus cepat. Sebentar lagi warung Pak Dimas tutup. Padahal dia masih harus berjaga semalaman.

Tapi kakinya seolah membentur batu kali. Adi berhenti. Walau hanya sekilas bayangan gelap, Adi hapal benar sosok yang sedang menikung di depannya. Adi cepat merapat ke dekat selokan depan sebuah rumah kosong. Menyusup dekat pagar tanaman. Bulan bercadar awan semakin menyembunyikannya. Adi merasa jantungnya berdegup melebihi jatuhnya titik air ke atap seng. Perutnya terasa bergejolak. Adi mual. Dia jongkok. Muntah.

Adi tidak tahu berapa lama dia di situ dengan bau masam nempel di sepatu. Dia hanya merasa kakinya yang kanan kesemutan, sukar digerakkan. Adi tidak yakin sosok itu sudah tidak ada. Dengan air liur masih memenuhi mulut, dan lutut seperti tak bertungkai, Adi berbalik arah. Dia urung membeli rokok. Uang puluhan ribu rupiah dalam genggamannya terasa lembab.

Di waktu lalu, perasaan Adi berbeda. Siulannya nyaring dan riang ketika meninggalkan pos penjagaan. Marno dan Iyan yang jadi temannya berjaga dengan senang hati menyilakan Adi berkeliling kompleks. Mereka jadi punya jatah lebih nonton televisi. Adi juga rajin ke warung. Dalam satu hari tak terhitung berapa kali dia pergi pulang beli rokok ketengan. Tidak peduli siang terik atau malam gerimis. Siulan Adi sama nyaring dan sama riang. Hanya Marno dan Iyan tidak lagi merasa senang, mereka mendengus kesal. Sampai akhirnya kedua temannya itu bosan. Bahkan bergantian membujuk Adi menggantikan tugas kalau mereka ada janji dengan Sri dan Minah.

Adi selalu ingin ke warung itu. Di situ dia bertemu sosok itu.

Tidak seperti pembantu lain. Sosok itu, yang dipanggilnya Noni, tidak mungkin ditemuinya selain di warung yang tak jauh dari tikungan. Perempuan itu tidak pernah terlihat nongkrong di trotoar depan rumah. Rumah tempat perempuan berambut tipis itu bekerja berpagar besi setinggi dua meter. Jadi kalau pun Noni menyapu, mencabuti rumput atau menyiram tanaman di halaman, Adi tidak bisa melihatnya. Satu-satunya kesempatan bertemu, ya, hanya di warung itu. Walau hanya melihat Noni tersenyum.

Angin malam menggoyangkan daun-daun mangga. Air sisa hujan jatuh di seragam Adi. Meresap. Adi menggigil. Dia tahu, tadi pagi, juga pagi kemarin, Noni melewati pos penjagaan waktu belanja sayuran. Dia tahu, perempuan itu hapal jalan yang lebih dekat. Tapi itu tidak dipilihnya. Perempuan itu sengaja memutar. Noni ingin bertemu Adi.

Adi menyepak-nyepak kerikil. Bayangan-bayangan bersama Noni di kepalanya menyamar. Semakin buram. Adi kesal. Kerikil yang disepaknya kena tiang listrik. Berdenting. Adi benar-benar kesal. Laki-laki itu tahu ini semua bukan salah Noni.

Tapi dia tidak mungkin bersama perempuan yang punggungnya saja sudah bisa membuat perut Adi mual.

Gara-gara malam itu….

ADI merasa berubah tepat di malam setelah pemotongan kurban. Sebagai Satpam, Adi diminta membantu panitia pemotongan hewan kurban. Atas pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Adi yakin akan dapat jatah lebih. Karena itulah Adi berani ngajak Noni nyate. Dia membayangkan malam itu akan jadi peringatan peresmian hubungan mereka. Adi akan nembak Noni. Dengan honor sebagai Satpam senior, dan pemasukan tambahan dari para pemilik rumah yang dijaganya, Adi yakin, tak lama mereka bisa menikah. Mungkin, bayangan di kepalanya terlalu jauh. Tapi Adi yakin benar, Noni adalah jodohnya.

Lagi pula, kata orang, kesempatan tidak dua kali datang. Kalau tidak malam itu, kapan lagi mereka punya waktu panjang bersama. Hanya berdua. Dan Adi tidak salah. Perempuan itu mau memenuhi ajakannya. Kebetulan majikan Noni merayakan Idul Adha di tempat anaknya, dan dua teman Noni yang juga pembantu di rumah itu tidak keberatan.

Adi merasa matahari lupa bergerak. Hari terasa lambat. Tapi Adi rasa semuanya sudah siap. Kecuali daging kambing. Adi memang dapat dua bungkus. Satu bungkus untuk ibunya. Satu bungkus lagi akan dibakarnya bersama Noni. Baru saja Adi mau mandi, sore itu, adiknya datang. Adiknya yang sedang ngidam itu ingin makan daging kambing. Gule kambing yang dimasak ibunya sudah habis oleh lima adiknya yang lain. Adi tidak tega tidak memberikan jatah dagingnya yang dititipkan di lemari es warung.

Matahari sudah mendekati bukit. Hari mulai gelap. Adi belum juga membawa arang dan jerigan minyak tanah ke tempat perjanjiannya. Dia masih duduk di pos penjagaan.

“Ntar telat….”

“Pusing, No. Kambingmu aku beli, ya.”

“Kambing apa?”

“Jatahmu.”

“Biar dikasih seratus ribu, enggak kukasih. Siang tadi punyaku udah habis.”

“Di pasar bawah masih ada nggak, ya?”

“Ada. Besok pagi. Sekarang si udah tutup. Terus gimana?”

“Di mesjid enggak ada lagi?”

“Kan tadi kamu yang bagi-bagi. Mana sekarang yang kurban sedikit tapi yang datang banyak. Kupon pembagian aja kurang.”

“Aduh, gimana ya?”

“Besok aja enggak bisa?”

“Besok majikan Noni datang.”

“Kalau….”

“Kalau apa?”

“Di rumah Jenderal Sukron kan ada….”

“Ada apa? Aku enggak bisa mikir.”

“Si Iyan kan jaga rumah Pak Jenderal. Dia bilang di situ banyak kelinci….”

“Minta?”

“Minta mah enggak akan dikasih.”

“Maling?”

“Bukan maling. Minta. Tapi bilangnya dalam hati. Tenang. Enggak akan ketauan. Pak Jenderal datangnya kadang-kadang. Kata Iyan, kemarin kelincinya banyak yang lahir. Gimana? Kalau mau, aku ambilin. Maleman dikit aku anter dagingnya biar tinggal tusuk. Aku emang niat minta kelincinya Pak Jenderal. Mau bakar-bakaran sama si Nandang. Dia baru datang dari Jakarta. Lagi banyak uang. Tambah gila. Segalanya dicampur. Nah, sekarang minuman dicampur sate kelinci. Model baru….”

Tidak ada jalan lain. Adi mengiyakan dan bergegas ke rumah kosong yang ditungguinya. Mata laki-laki itu mengalahkan sinar bulan, berbinar. Adi menyiapkan panci untuk liwet, tusuk sate, arang, kecap, cabe rawit. Tak lama Iyan mengantar tas plastik berisi daging karena Marno, si pembuat rencana, dan Nandang sudah tertidur oleh minuman sebelum sempat mengantarkan tas plastik itu.

“Kang, maaf ya. Tadi telat. Habis Cinta Fitri-nya tanggung. Eh, Kang, liwetnya kekerasan, ya? Habisnya Noni biasa masak di rais kuker.”

“Enak kok, Non. Tambah lagi satenya, Non?”

“Iya, Kang, ini mau. Kata orang, makan daging kelinci bagus lo untuk rahim. Kelinci kan anaknya banyak. Bener lo, Kang. Mau Noni suapin?”

Noni mengerling. Jarinya lembut menarik tusuk sate dari bibir. Jari yang sama memasukkan jejeran daging bakar ke dalam mulut Adi. Mata laki-laki itu bisa tak lepas dari lidah Noni yang menyapu kecap di bibirnya. Adi tersedak. Noni tertawa kecil.

“Dagingnya keras.”

“Iya ya, Kang. Agak asem juga.”

“Daging kelinci memang gini kali, Non.”

Walau daging kambing digantikan daging kelinci, bayangan di kepala Adi nyaris semuanya terwujud. Adi merasa jantungnya penuh udara, mengembang. Adi ingat benar sentuhan mereka ketika duduk bersebelahan di atas koran. Bara masih menyala. Langit seperti bersetuju, warnanya biru. Laki-laki itu hampir lupa kalau saja Iyan tidak lewat memukul tiang listrik satu kali, dan Noni yang harus diantarnya pulang.

Mereka berdua saja menyusur malam. Rumah-rumah sudah mematikan lampu. Tangan Noni yang melingkar di tangan Adi dirasanya seakan enggan lepas. Mereka berjalan selambat tiupan angin malam itu. Seperti sedang mimpi. Adi tidak mau bangun. Dia rasa Noni juga begitu. Tapi pintu gerbang tinggi itu seperti bergerak dan tiba-tiba sudah di depan mereka.

Adi terkesiap. Tiba-tiba bibir Noni menyentuh pipinya sebelum perempuan itu berlari mendekati gerbang. Jantungnya yang mengembang seolah meledak. Adi tersenyum dan ingin bergegas tidur. Membawa kecupan lembut itu masuk mimpinya. Tapi dia masih harus membereskan kulit kelinci yang kata Iyan ditinggalkan Marno tak jauh dari selokan di ujung kompleks perumahan.

Adi berjalan cepat. Dia menuju tempat yang tidak banyak dilalui orang itu. Tempat para pemulung biasa membuang barang yang tidak mereka butuhkan. Selokan di ujung komplek itu gelap. Tanaman menyemak. Adi mencari-cari dengan senternya. Di bawah pohon kersen berdaun lebat, yang dicarinya tampak samar.

Marno memang teman yang baik, tapi kalau sudah mabok, asal aja dia buang….

ADI merogoh saku jaket. Mengeluarkan kantung plastik. Dia ingin cepat menjalankan tugas pamungkas. Dan cepat memimpikan kecupan Noni. Tapi tangan Adi berhenti terulur. Pori-pori membesar. Makanan dalam perut menyodok lambung. Liur masam. Adi muntah. Tak jauh dari kepala kucing kesayangan Jenderal Sukron.***

Dimuat di Koran Tempo, 05/31/2009

Published in: on 06/27/2009 at 8:09 am  Comments (1)  
Tags: ,

Keluarga, Komunikasi, dan Demokrasi

“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada istri saya, telah memberi izin suaminya untuk menerima pekerjaan baru yang sudah terbayang akan lebih sulit dari pekerjaan-pekerjaan sebelumnya…”

Begitu, seingat saya yang dikatakan Boediono di awal pidatonya dalam deklarasi capres dan cawapres Partai Demokrat, Jumat (15/5), di Sasana Budaya Ganesa, Bandung. Saya yang bukan simpatisan atau kader satu pun partai politik, sejujurnya, terpesona.

Pernyataan sederhana itu, saya rasa belakangan tidak muncul dari banyak mulut politisi. Pernyataan yang disadari atau tidak, lahir dari kepercayaan, tak ada satu pun keluarga yang tidak dipengaruhi negara, dan tak ada satu pun negara yang tidak dipengaruhi keluarga. Saling pengaruh keduanya belumlah bernilai. Sebab, nilai baru datang dari bagaimana politik negara dan keberadaan keluarga itu sendiri.

Luputnya, keluarga dalam kampanye dan Pemilu Legislatif 2009 dan kini mendekati pemilu presiden, saya kira tidak bisa lepas dari cerita panjang keluarga Indonesia di masa negara, pinjam istilah Daniel Dhakidae, Orde Baru (Orba). Orba mempraktikkan sistem negara Demokrasi Kekeluargaan, yang merupakan penebalan dari negara integralistik ditawarkan Supomo dalam pidatonya di BPUPKI pada 1945. “Negara dimengerti sebagai suatu keluarga yang diperluas, maka ia merupakan substansi prapolitis dan warga negara dimengerti lebih sebagai ethnos (bangsa menurut hubungan darah, kultural, atau agama) daripada sebagai demos (bangsa menurut hubungan legal atau politis)” (F. Budi Hardiman, 2007:143).

Idealisasi keluarga Indonesia versi Orba, diterima sebagai (satu-satunya) model berkeluarga yang juga berarti tuntutan bagaimana jadi warga negara. Selama 32 tahun, idealisasi keluarga ini menyusup dengan berbagai cara dan media, antara lain dengan mereduksi peran perempuan dalam keluarga. Misalnya, pelibatan istri pegawai negeri sipil dalam Dharma Wanita. Organisasi ini bertujuan mengembangkan wawasan anggotanya, agar dapat membantu tugas dan menunjang karier suami (Anggaran Dasar Dharma Wanita, Bab II, Pasal 6 ayat c). Demikian juga di perdesaan. Lembaga Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dibentuk lebih hanya untuk menekankan tanggung jawab perempuan, sebagai pengurus rumah tangga dan memelihara generasi penerus bangsa (Katryn Robinson, 2001).

Media yang digunakan tidak hanya lembaga formal seperti di atas–termasuk sejumlah UU, dunia pendidikan, atau lembaga agama–tetapi utamanya menghegemoni melalui lembaga nonformal. Konsekuensinya, komunikasi yang terjadi cenderung manipulatif, instruksional, dan distorsif. Komunikasi tidak ditempatkan sebagai ruang untuk saling menghadirkan diri, yang menjadikan para anggota keluarga lebih bisa saling memahami, lebih dekat, dan ikatannya kian kuat. Komunikasi demikian jauh dari jenis yang mengandaikan adanya pribadi-pribadi masing-masing hidupnya khas, kompleks, dan bermartabat.

Pola komunikasi begitu mengekalkan hubungan keluarga-negara, yang hanya menjadikan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat yang feodal, patriarki, dan konsumtif. Dan darinya, seperti yang ditemukan Saya Sasaki Shiraishi (2006), tidak mengherankan kalau lahir pribadi-pribadi yang lebih menekankan “harmoni” (yang sebenarnya perwujudan “asal bapak senang”), “komunalitas” bermuatan nilai gotong royong (satu eufimisme dan permakluman untuk nepotisme), dan “tidak sensitif”. Padahal, negara sekarang ini tidak mungkin menjadi the idea of good yang dapat menyimpul seluruh kompleksitas masyarakat. Negara “hanya” mungkin berperan semacam fasilitator bagi daulat rakyat (Habermas melalui F. Budihardiman). Dan daulat rakyat ini baru mungkin ada bila negara–lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif–tersambung secara diskursif, dengan proses pembentukan aspirasi dan opini publik. Jadi, sumber legitimasi negara tidak terletak pada kehendak perorangan dan umum, melainkan pada proses pembentukan keputusan politis yang terbuka dan diskursuf-argumentatif. Proses pembentukan keputusan politis tersebut–yang mensyaratkan adanya gerakan diskursus publik dalam ruang-ruang publik–jelas, harus ditopang “kematangan” individu.

Akan tetapi, selama negara Orba, keluarga Indonesia tidak dihuni individu-individu. Potensi-potensi individu yang idealnya berkembang dalam proses komunikasi, setara dan terbuka dikerdilkan. Potensi yang berbanding lurus dengan kesadaran akan kedalaman dan keluasan itu, yang karenanya akan menyediakan ruang bagi perkembangan potensi-potensi dari individu lain, harus kembali dilahirkan. Tentu, termasuk potensialitas sebagai warga negara. Pantaslah jika Bertrand Russel berkata, individu yang baik pasti warga negara yang baik.

Jika memang begitu, maka membangun (kembali) keluarga berbasis pengembangan individulitas dan sosialitas para anggota keluarga, agaknya salah satu jalan yang seyogianya kita tempuh. Disadari atau tidak, menempuh jalan ini sendirinya berarti memberi sumbangan berharga terhadap bangsa dan negara, dengan turut membangun negara demokrasi yang lebih fundamental. Jadi, siapa pun yang kelak terpilih sebagai presiden dan wakilnya, siapa pun yang dipercaya menjadi anggota legislatif, saya turut yang dikatakan Goenawan Mohamad di Gedung Indonesia Menggugat, “…, kami percaya, Anda tak akan menyia-nyiakan amanat ini”.***

Dimuat di Pikiran Rakyat, 23 Mei 2009

BAU GUNUNG SAMPAH

Seorang teman yang kuliah di Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan terlihat bersemangat ketika memulai skripsinya. Ia berencana membuat rancangan Perpustakaan Desa berbasis Perpustakaan Antar-RW di satu desa di Jatinangor. Asumsinya, warga desa itu punya industri rumahan yang masing-masingnya RW/dusun berbeda (pembuat layang-layang, kudapan, dan kerajinan tangan). Dengan industri rumahan itu, warga desa punya modal kreativitas, kemandirian ekonomi, dan kemampuan bersosialisasi. Maka, kehadiran perpustakaan desa mungkin kian meningkatkan modal sosial dan ekonomi yang sudah ada.

Saya sepakat asumsinya. Kini sukar rasanya menemukan desa yang warganya imun dari dunia luar. Banyak hal terutama informasi membanjiri desa, salah satunya melalui televisi. Bagi banyak warga desa, benda yang nyaris 24 jam bisa menyala itu, utamanya adalah penghibur. Setelah penat seharian bekerja, mereka duduk di depan televisi, menonton sinetron, infotainmen, musik, bahkan iklan. Aktivitas itu bukan hanya menonton. Tayangan-tayangan itu menawarkan cara hidup yang mungkin lain atau berbeda. Misalnya, sinetron kejar-tayang. Tayangan ini tidak menyediakan ruang dan waktu bagi aktor/aktrisnya mendalami peran. Wajar jika terlihat tokoh yang hitam-putih. Tokoh demikian titik-titik ekstrim dari kemiskinan/kekayaan atau kebaikan/kejahatan. Cerita diperalat dengan konflik untuk sekedar membuat penonton merasa sedih, marah, atau sensasi jatuh cinta. Dan karena yang mendasarinya logika ekonomi semata, sudah tentu penyelesaian cerita berdasarkan rating. Jika rating turun, selekasnya sinteron memungkas dengan kebahagian/ketidakbahagiaan yang instan. Jika rating naik, cerita dipanjang-panjangkan, mengada-ada, hingga tanpa logika. Maka sinetron ada tanpa kreativitas dan komitmen.

Warga desa yang menontonnya, mungkin, tanpa sadar mencerap sejumlah nilai. Di antaranya mentalitas instan yang tidak percaya pada belajar dan proses. Mereka juga mengadopsi gaya hidup urban yang konsumtif serta berbagai konsekuensinya. Cara hidup ini bisa membuat mereka lupa dan melupakan keseharian. Mereka juga dijauhkan dari realitas keseharian. Mereka tidak lagi mengenal diri sendiri.

Budaya membaca bisa jadi pintu untuk melepaskan jebakan televisi itu. Bisa menyatukan jiwa yang terbelah. Budaya membaca bukan sekedar bebas “buta huruf”. Tapi suatu pembiasaan bernalar tertib dan jernih untuk bisa mengurai kerumitan persoalan. Juga proses pembelajaran merentang jarak (objektif) agar bisa memilih dan memilah soal atau realitas keseharian yang jalin-menjalin. Dengan begitu warga desa akan tumbuh sebagai pribadi yang matang dan utuh dalam bersikap dan menyikapi hidup. Sikap ini bukan hanya modal bagi seseorang, tapi pun kehidupan sosial yang lebih luas. Karena warga desa sampai kini adalah mayoritas masyarakat Indonesia, maka warga desa yang demikian tentu tiang kukuh bagi tegaknya negara. Itu mungkin yang mendorong Pemerintah Indonesia pada 1 November 2007 mengesyahkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan.

Sebelumnya, memang sudah ada beberapa peraturan menyangkut perpustakaan. Semisal, Keputusan Presiden No. 11/1989 tentang Perpustakaan Nasional, Peraturan Pemerintah No. 73/1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah, Keputusan Menteri Dalam Negeri dan UU Otonomi Daerah No. 3/2001, pasal 2, tentang Perpustakaan Desa/Kelurahan. Tapi aturan-aturan itu tidak terintegrasi dan kurang mengikat. Dengan adanya undang-undang tersebut tanggung jawab pemerintah jadi mutlak, termasuk Pemerintah Jawa Barat. Sejak 2003, di Kabupaten Bandung telah ada 114 Perpustakaan Desa. Kota Bandung sendiri telah mengeluarkan Keputusan Walikota No. 819/2001 tentang penyelenggaraan perpustakaan di kecamatan/kelurahanan, dan 2009 ini tengah menyiapkan 185 perpustakaan desa, menambah 90 buah yang sekarang ada.

Akan tetapi saya membaca Buku itu Berserak di Gudang… (PR, 13/5/09). Di dalam gudang Kantor Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, yang “pintunya keropos dimakan usia. Dua buku tampak berserak di lantai gudang. Debu tebal menutupinya sehingga judul buku pun tidak terbaca dengan jelas. Sedangkan ratusan buku lainnya dimasukkan ke kardus bekas dan dibiarkan teronggok di sudut gudang”. Dan Desa Ciluncat tidak sendiri, “…rata-rata perpustakaan desa di Kab. Bandung bernasib sama”.

Saya kira hal di atas tidak akan terjadi bila pemerintah daerah menyadari penyelenggaraan perpustakaan desa sebagai “sarana yang paling demokratis untuk belajar sepanjang hayat demi memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh informasi melalui layanan perpustakaan guna mencerdaskan kehidupan bangsa” (Penjelasan UU tentang Perpustakaan). Konsekuensinya adalah menyadari bahwa program tersebut sebagai program panjang dan berkelanjutan. Sadar bahwa selain pengadaan sarana seperti ruang, rak, kursi, meja, pendanaan, dan buku-buku, keberlangsungannya juga ditentukan oleh pustakawan.

Untuk banyak desa di Jawa Barat yang membaca masih juga belum jadi budaya, tugas pustakawan jadi signifikan. Dialah pemungkin perpustakaan desa memiliki gambaran besar (visi). Visi tersebut lahir dari pembacaan konteks ekonomi, sosial, histroris dan budaya tempatnya berada. Ini lalu akan menentukan hal-hal teknis seperti lokasi, tata letak dan ventilasi, jenis dan jumlah buku; dan yang terpenting menyiapkan program. Program jangka pendek, menengah, dan panjang itu kesemuanya saling mendukung dan berkelanjutan. Dengan begitu, perpustakaan desa jadi bagian integral warga desa.

Lembaga seperti Badan Perpustakaan Arsip dan Pengelolaan Sistem Informasi (Bapapsi) tentu sadar bahwa tugas pustakawan perpustakaan desa tidaklah semudah meniup bulu ayam. Sukar membayangkan pustakawan berkemampuan kognitif, lebih lagi untuk menumbuhkan kecintaan dan kebutuhan membaca, bisa didapat dalam pelatihan singkat. Tapi itulah yang terjadi di Desa Ciluncat, Bapapsi mengadakan pelatihan 1 hari saja sebelum pemberian buku.

Program Perpustakaan Desa yang ideal masih jauh panggang dari api bila Bapapsi bekerja sendiri. Saya kira, dalam dirinya sendiri Bapapsi punya permasalahan, seperti anggaran dan kualitas sumber daya manusia. Untuk itu tidak ada salahnya Bapapsi terbuka dan mau bekerja sama dengan lembaga lain. Misalnya dengan Perguruan Tinggi seperti Universitas Padjadjaran yang sepengetahuan saya punya Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Bukan tidak mungkin keterbukaan memperlihatkan kesamaan program yang akan dan tengah dijalankan atau pun kesepakatan antara keduanya yang baik bagi Program Perpustakaan Desa. Dengan begitu, program dibuat dan dilaksanakan tidak hanya karena pelaksanaan intruksi dari atas atau kewajiban hukum legal-formal. Tapi benar-benar sebagai komitmen bersama menuju kehidupan yang lebih baik. Bila tidak, buku-buku di banyak perpustakaan desa itu mungkin bisa meruapkan bau gunung sampah Bantar Gebang.**

buku
Dimuat di Pikiran Rakyat, 18 Juni 2009

POSKOLONIAL

1.
Hari ini, sebenarnya, niat saya nulis soal dua film yang baru saya tonton, Slumdog Millioner dan The Boys with Striped Pijamas. Kebetulan keduanya diangkat dari novel. Kebetulan saya sudah membaca dan nonton keduanya. Tapi ketika berhadap-hadap dengan layar komputer, kepala saya sulit ditarik ke niat itu. Kepala saya malah kembali ke beberapa pekan lalu.

Tanggal 21 Desember 2008.

Hari itu Nalar menghentikan—untuk sementara—perkulakan buku (bukan nolak rejeki, tapi mulai jam 2 siang di Nalar akan ada diskusi “Agama & Konsumerisme”). Harri, sebagai salah satu pembicara, sudah sejak jam 11 nyepi di kamar tengah (walau sudah sarjana dan beberapa kali jadi moderator di kampusnya, toh sah kalau jantungnya berdetak ga sebagaimana biasa).

Selain Harri, ada seorang lagi yang punya “kelainan jantung”: Refki. Kawan satu itu memang relatif baru terlibat di Nalar tapi untuk urusan “bebas-aktif” menertawakan “senior”nya dia cepat belajar dan beradaptasi (kecuali untuk urusan plesetan…). Itu makanya ketika dia didaulat jadi pembawa acara dan tidak bisa menolak, para “senior” yang selama ini merasa ditindas oleh kebebas-aktifan Refki jelas-jelas kegirangan. Semakin lagi waktu Refki datang dan langsung menuju kamar tengah. Harri memang tidak terdengar mengatakan sesuatu, tapi Refki terlihat mundur dan mengurungkan niatnya. Kawan dari Bukit Tinggi itu lalu duduk di pojokan. Setelahnya, Refki yang pendiam itu semakin diam, hanya bibirnya—yang tidak berhenti bergumam—tidak bisa menyembunyikan ketegangan. Ketegangannya bertambah, kemungkinan, karena sorot mata Harri yang bilang, “Untuk hari ini, kamar ini hak pembicara. Jadi kalo mau latian, MC cari tempat lain…”

Ketika kami di tengah ephoria menyindir dua kawan itulah seseorang datang.

Dia dosen yang konon sedang mengambil S2. Saya pribadi merasa tidak terlalu dekat, hanya sekali dua pernah bertukar cakap, itu pun takjauh dari urusan perkulakan. Setelah dia membayar buku dan saya telah mengundangnya hadir di diskusi, dosen itu mengubah posisi duduk, terlihat dibuat lebih nyaman. Saya kira dia mau memenuhi undangan diskusi dan mencari bahan obrolan sambil menunggu waktu.

“Tesis saya mau ambil poskolonial.”
“Oh…”
“Elie Weisel.”
“Apanya?”
“Saya mau bahas karya Elie Weisel.”
“Oh…” (Ini memang respon “standar” ketika saya tidak tahu harus mengatakan apa. Saya suka Malam dan Fajar, tapi untuk membicarakannya saya harus memanggil-manggil ingatan atas buku itu. Hal yang ga mungkin dilakukan saat itu).
“Hem, menarik itu.” Sahut Hikmat yang diam-diam mendengarkan.
“…” (dia berbahasa Perancis)
“Apaan tuh?”
“Apa ya… mungkin, oh, ga tepat… Apa ya terjemahan judulnya?”
“Oh… yang barusan judul buku.”
“Iya. Saya mau membahas triloginya.”
“Oh… dia ada triloginya ya?” (Saya memang bodoh, banyak “oh…”).
“Buku Weisel yang sudah diterjemahkan Malam sama Fajar. Apa trilogi dari dua itu?” Sambung Hikmat.
“Sudah ada terjemahannya?”
“Iya. Sudah lama.”
“Oh… Mungkin trilogi dari itu. Tapi saya bingung. Kata *bip…* (nama seorang Doktor yang juga dosen senior), dia dosen pembimbing saya, kata beliau enggak bisa pakai poskolonial.”
“Kenapa? Bukannya malah pas.” (Ini juga masih Hikmat).
“Iya saya juga heran.”
“Alasannya kenapa?”
“Dia bilang mana bisa karya Wissel pakai metode poskolonial soalnya peristiwa di novel itu kan waktunya pas kolonialisme. Kalau setelah itu baru bisa pakai poskolonial. Aduh… bingung ni. Padahal saya sudah sreg dengan karya itu.”

Saya dan Hikmat saling melirik.
Tiktaktiktak….
Jam di Nalar menunjuk angka 13.30. Sebentar lagi diskusi dimulai.

“Oh… Begitu ya…” (Lagi-lagi saya pakai senjata kata “oh”)
“Eh, sudah jam segini. Aduh…. Saya pergi dulu ya. Mau mengajar ke Cihampelas.”
“Enggak ikut diskusi?”
“Lain kali aja. Terima kasih ya.”

Saya dan Hikmat kembali saling menukar lirikan. Dan ternyata bukan hanya saya dan Hikmat, beberapa kawan pun sama.

“Hushh… yang mau jadi MC ga usah ikutan nyengir. Sana ngapalin.”

2.
Untuk urusan menyelesaikan kuliah yang kudu dipungkas dengan skripsi, saya mungkin beruntung (?). Waktu itu, metode yang “diributkan” belum sebanyak sekarang. Bukan soal sekolahan atau dosen-dosen yang lupa mengajarkan (iyalah, tahun 90-an akhir, *bip…*—tabu menuliskan tahun sebenarnya—kan di “sana” sudah ada post-post-an), soalnya mungkin saya saja yang lambat meng-up grade.

Nah, makanya ketika tahun sudah berjalan lama (sudah 11 tahun lewat waktu saya—dengan susah payah, karena bodoh—menyelesaikan kuliah), soal yang saya tulis dalam POSKOLONIAL belum juga tuntas, jadi mengherankan. Jadi wajar ketika beberapa hari setelah kedatangan kawan dosen yang sedang S2 itu, saya cerita ke kawan yang juga sama-sama sedang menyelesaikan S2. Mereka satu kelas.

Dengan berapi-api (mungkin tepatnya: emosional) saya cerita ke kawan itu. Tapi ke-berapi-api-an saya ditanggapinya sedatar muka spinx, dingin.

“Masih mending…”
“Maksudnya? Itu kan rada absurd, Pik. *bip…” kan Doktor di Jurusan sastra *bip…*, udah sering ke luar negeri pula.”
“Apa hubungannya dengan luar negeri?”
“Ya berhubunganlah. Minimal dia bisa baca langsung bahasa asli, ga pake terjemahan yang kadang ampun-ampunan bacanya. Minimal lagi kalau di kita buku tertentu ga ada, kan bisa beli waktu ke luar.”
“Iya kalau begitu.”
“Kok begitu amat.”
“Memang harusnya gimana?”
“Aku spaneng ni… S2 kan idealnya lebih dari sekedar nulis skripsi, yang buat kebanyakan mahasiswa belakangan ini aku liat dibuat dengan beban. Padahal skripsi kan karya ilmiah pertama mereka yang utuh. Nah ini. S2.”
“Jangan ngomong tesis dululah. Masih ada waktu. Waktu di kuliah kemarin…”
“Kuliah apa?”
“Kuliah poskolonial. S2.”
“Memang kenapa?”
“Makanya jangan motong…”
“Maaf. Tapi kan wajar. Aku ga S2.”
“Ga nyambung. Dosen kuliah poskolonial itu masih muda. Kenal *bip…* ga?”
“Enggak. Tapi ga ada hubungannya kemudaan atau mau pensiun dengan yang sedang kita bicarakan.”
“Iya. Iya. Kan belum selesai…”
“Ops. Maaf.”
“Kemarin pertemuan kedua kuliah. Setelah membahas tugas, mungkin sebelum masuk ke kolonialisme sebagai metodelogi, dia menjelaskan beberapa kata kunci. Di antaranya membicarakan kolonialisme. Dia kasih beberapa contoh negera-negara koloni, penjajah dan jajahannya. Dan dia bilang yang dilakukan Jepang terhadap Indonesia itu tidak termasuk kolonialisme.”
“Maksudnya?”
“Iya. Karena Jepang bukan negara barat.”
“Maksudnya…”
“Kolonialisme itu, menurutnya, penjajahan barat atas timur. Jadi, karena Jepang bukan negara barat, yang dilakukan tahun 1942-1945 di Indonesia bukan kolonialisme. Karena waktu terbatas aku enggak sempet tanya soal barat. Tapi tafsirku, yang dia maksud barat itu Eropa. Hanya negara-negara Eropa.”

Oow…
Apa lagi yang bisa saya bilang?

Published in: on 02/11/2009 at 9:12 am  Comments (2)  
Tags: , ,

Bola Mainan

Tirani matahari! Angin kesetanan!
Sekarang memang pas angin doyan doyannya pelesir. Debu debu seperti di jalan bebas hambatan. Setelah dari selokan kering terbang ke batang pohon kersen, ke daun-daunnya, ke kaca rumah, ke tahu goreng, ke terpal penjual buah, ke spion mobil, ke trotoar, ke mata. Gila. Tapi yang gila itu, orang yang tengah hari begini berjalan tanpa tujuan. Tanpa topi. Padahal aspal saja menyerah. Dan orang itu aku. Tadi seharusnya aku nenteng majalah, setidaknya menolong dari tusukan matahari. Mana sempat berpikir? Pintu saja lupa kukunci.

Ketika bayangannya terlihat melintas aku langsung keluar.
“Pak. Pak.”
Laki laki itu menghentikan korehannya di bak sampah.
“Bisa minta tolong?”

Dia belum menjawab tapi mulai mendekat.
Rumah rumah di sekitar senyap. Waktu yang tepat untuk tidur siang. Para penghuni perempuan pasti sudah selesai masak makanan siang. Berada di sekitar rumah bertipe tidak terlalu nyaman itu sangat mudah tahu waktu. Hanya perlu mengendus udara. Pagi: busa deterjen dan pewangi baju. Sebelum jam 12: ikan asin atau bumbu sayuran. Sore: bau tanah terkena semprotan air. Suara suara juga begitu. Pagi: kuis, infotainmen, musik india. Lewat jam 12: film ber-dubbing. Sore: infotainmen, berita. Tengah malam: (suara yang paling kusuka) erangan tertahan.

Memasuki tahun pertama ini aku masih juga belum, tepatnya, merasa tidak perlu menyesuaikan waktuku dengan para tetangga. Aku sengaja mencari perumahan bukan deretan kamar di antara para mahasiswa untuk segera menyelesaikan tenggat skripsi.
Ternyata salah hitung.

Awalnya memang aku yang memperkenalkan diri ke tetangga kanan-kiri-depan-belakang. Tapi entah karena rumah kontrakanku tidak berpagar atau aku yang tidak bisa menolak, petaka mulai singgah. Mulanya pasangan Wir, tetangga kanan, setiap pagi titip kunci rumah. Jam 1 kunci itu diambil istrinya yang kerja jadi perawat. Jam 3 dititip lagi. Jam 7 malam pasangan itu kembali mengetuk pintu, mengambil kunci. Begitu seterusnya.

Mungkin karena itu, aku terlihat sebagai orang baik, sejak sebulan lalu tetangga depan berani titip anaknya yang masih belajar jalan.

“Biasalah, pembantu jaman sekarang, Dek, maunya gaji tinggi tapi kerjanya payah. Jadi sekarang saya mau nyuci baju. Anak kecil kalau liat air, maunya main, saya takut dia masuk angin. Jadi saya titip Fifi sebentar ya. Enggak akan lama kok. Ya?”

Sulit kan menjelaskan kalau aku bukan tanpa kerjaan dan pagi adalah saat yang tepat memikirkan skripsi? Sulit. Dan jadinya, di ruang tamuku tampak makhluk kecil yang asyik sendiri. Aku tidak tahu harus bicara apa ke anak yang baru kenal 10 kosa kata. Aku menyalakan tape, dia malah nangis. Daripada berurusan dengan ibunya yang kalau ngomong tanpa titik itu terpaksa membiarkannya menarik taplak meja, menumpahkan kopi, nyenggol toples. Kebaikan hatiku berlanjut hingga berhari hari. Rumah kontrakanku pun menyamai bangkai titanic.

Itu baru awal.
Tadinya supaya anak itu tidak mengganggu barang barang milikku, aku sengaja beli bola plastik. Hanya satu hari bola itu sanggup menahan jarahan tangannya, selanjutnya back to habit. Kisah tragisku berlanjut. Bola plastik itu kemudian “dipinjam”Cingat kata ini sengaja diberi tanda kutipCkakak si anak kecil mulai jam 3 sampai menjelang Magrib. Dia bersama kawanannya tanpa berdosa bermain di halamanku nan asri. Malapetaka. Bola itu tidak hanya bergaul dari kaki ke kaki tapi juga ke jendela dan dinding rumah batakoku. Gangguan si adik paling lama satu jam tapi si kakak, gila, tiga jam! Dan itu di saat saat aku harus memejamkan mata sebagai persiapan begadang malamnya. Aku langsung diserang penyakit baru, darah tinggi, migren berkepanjangan. Siang tidak bisa tidur dan malam, satu satunya ketenangan yang kupunya, lembar lembar A4 itu hanya kosong karena mata berkunang kunang.

“Punya siapa?”
“Saya.”
Bibirnya membuat bulatan.
“Namanya hidup bertetangga, jadi suka dipakai sama anak depan.”
Bulatan bibirnya makin sempurna.
“Memang tadinya saya mau simpan tapi namanya bertetangga, takut tidak enak dengan ibunya.”
“Jadi gimana?”
“Ambil aja buat Bapak.”
“Ya. Ya. Terima kasih.”
“Tapi, ambilnya nanti kalau saya sudah pergi.”
“Kok?”
“Ya, namanya bertetangga. Nanti saya disangka pelit.”

Kukira penjelasanku soal bertetangga cukup memuaskan. Buktinya kepala laki laki itu mengangguk.
Masih sekitar seperempat jam lagi supaya tidak terlalu mencurigakan.

Pintu wartel di muka jalan perumahan terbuka. Akhirnya kakiku punya tujuan melangkah. Lumayan untuk mendinginkan ubun ubun. Tadinya aku mau ke warung kopi tempat biasa aku nongkrong tapi tadi penuh sopir taksi yang kelihatannya juga punya niatan sama.

Di dalam hanya ada tukang parkir yang matanya menempeli pantat penyanyi dangdut di televisi. Mata penunggu wartel kelihatan jenuh.

“Kamar 1 bisa lokal?”
“Bisa.”
Aku memutar nomor telepon. Berdengung. Aku meletakkan gagangnya.
“Kenapa?”
“Belum ada yang angkat, masih istirahat kayaknya.”
“Tunggu aja dulu.”
“Ya. Sebentar lagi saya coba.”
Sedikit nyaman. Bisa menyenderkan punggung.
“Eh, eh, mau coba telepon lagi?”
Aku sempat tertidur.
“Ya. Ya.”
Aku masuk lagi. Memutar nomor sembarang.
“Bisa dengan Pak Gugun?”
“Nomor berapa ya?”
“Sedang meeting?”
“Nggak ada nama Gugun.”
“Oh.”
“Apanya yang oh? Salah sambung tau.”
“Kapan kira kira bisa ditelepon?”
“Gila ni orang.”
“Oh.”
“Malah oh lagi, dibilang salah sambung juga.”
“Baik. Baik.”
“Gilaa!”
Tut… tut… tut…
Gagang telepon kembali ke singgasananya.
“Berapa?”
“Enam ratus.”
“Mari…”

Beberapa puluh langkah lagi aku bagai pengikut Musa, menemukan tanah harapan, mendapatkan kembali ketenangan. Akhir minggu ini, targetku, ketemu Pak Yos untuk bab pembahasan. Beres. Bulan depannya sidang. Wisuda. Selesailah kewajibanku.

Sampai di ujung jalan, kulihat paras para tetangga bergerombol di muka rumah. Ada apa lagi?
“Itu dia pulang.”
Aku seperti camat yang ditunggu untuk jadi pembina upacara bendera. Semua serentak menguntit kakiku yang mendekat.
“Dari mana?”
“Untung ketahuan.”
“Untung Pak Ruwi lewat depan rumah.”
“Bisa bisa komplek kita kebobolan lagi.”
“Biar monitor komputernya belum digital kan masih ada harganya.”
“Kaset juga banyak.”
“Setrikaan.”
“Tip.”
Mereka kelihatan paham benar barang barang milikku. Tapi ada apa?
“Kalau dijual cepet ke Cihapit kasetnya jadi 5 ratusan. Lumayan buat jaman susah begini.”
“Lupa tutup pintu ya?”
“Maaf, Pak, Bu. Ada apa?”
“Begini, tadi waktu Pak Rawi lewat depan rumah Situ, ada orang yang bergerak mencurigakan.”
“Saya kebagian mukul mukanya.”
“Aku sih baru pulang.”
“Si Sap tuh yang sempat ambil batu terus pukul kepalanya.”
“Siapa?”
“Pemulung.”
“Kirain orangnya baik. Jadi pemulung juga pekerjaan halal. Itu tu jadinya kalau enggak pernah puas.”
“Bola mainan anak anak sudah masuk karung.”
“Sekarang orangnya di mana?”
“Dibawa ke puskesmas.”
“Biar aja mampus sekalian.”
“Sekarang bolanya mana?”
“Dibawa sekalian buat bukti, itu juga kalau orangnya masih hidup.”
Tusukan matahari masih membekas di kepala. Aku basa basi sebentar lantas permisi masuk.
***

Dimuat di Tribun Jabar 17/8/2008

Published in: on 12/31/2008 at 10:31 am  Comments (3)  
Tags: ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.