MALAM belum larut benar. Namun jalanan lengang. Daun-daun masih berat menyimpan sisa hujan seharian. Adi hampir sampai di ujung jalan. Dia harus cepat. Sebentar lagi warung Pak Dimas tutup. Padahal dia masih harus berjaga semalaman.
Tapi kakinya seolah membentur batu kali. Adi berhenti. Walau hanya sekilas bayangan gelap, Adi hapal benar sosok yang sedang menikung di depannya. Adi cepat merapat ke dekat selokan depan sebuah rumah kosong. Menyusup dekat pagar tanaman. Bulan bercadar awan semakin menyembunyikannya. Adi merasa jantungnya berdegup melebihi jatuhnya titik air ke atap seng. Perutnya terasa bergejolak. Adi mual. Dia jongkok. Muntah.
Adi tidak tahu berapa lama dia di situ dengan bau masam nempel di sepatu. Dia hanya merasa kakinya yang kanan kesemutan, sukar digerakkan. Adi tidak yakin sosok itu sudah tidak ada. Dengan air liur masih memenuhi mulut, dan lutut seperti tak bertungkai, Adi berbalik arah. Dia urung membeli rokok. Uang puluhan ribu rupiah dalam genggamannya terasa lembab.
Di waktu lalu, perasaan Adi berbeda. Siulannya nyaring dan riang ketika meninggalkan pos penjagaan. Marno dan Iyan yang jadi temannya berjaga dengan senang hati menyilakan Adi berkeliling kompleks. Mereka jadi punya jatah lebih nonton televisi. Adi juga rajin ke warung. Dalam satu hari tak terhitung berapa kali dia pergi pulang beli rokok ketengan. Tidak peduli siang terik atau malam gerimis. Siulan Adi sama nyaring dan sama riang. Hanya Marno dan Iyan tidak lagi merasa senang, mereka mendengus kesal. Sampai akhirnya kedua temannya itu bosan. Bahkan bergantian membujuk Adi menggantikan tugas kalau mereka ada janji dengan Sri dan Minah.
Adi selalu ingin ke warung itu. Di situ dia bertemu sosok itu.
Tidak seperti pembantu lain. Sosok itu, yang dipanggilnya Noni, tidak mungkin ditemuinya selain di warung yang tak jauh dari tikungan. Perempuan itu tidak pernah terlihat nongkrong di trotoar depan rumah. Rumah tempat perempuan berambut tipis itu bekerja berpagar besi setinggi dua meter. Jadi kalau pun Noni menyapu, mencabuti rumput atau menyiram tanaman di halaman, Adi tidak bisa melihatnya. Satu-satunya kesempatan bertemu, ya, hanya di warung itu. Walau hanya melihat Noni tersenyum.
Angin malam menggoyangkan daun-daun mangga. Air sisa hujan jatuh di seragam Adi. Meresap. Adi menggigil. Dia tahu, tadi pagi, juga pagi kemarin, Noni melewati pos penjagaan waktu belanja sayuran. Dia tahu, perempuan itu hapal jalan yang lebih dekat. Tapi itu tidak dipilihnya. Perempuan itu sengaja memutar. Noni ingin bertemu Adi.
Adi menyepak-nyepak kerikil. Bayangan-bayangan bersama Noni di kepalanya menyamar. Semakin buram. Adi kesal. Kerikil yang disepaknya kena tiang listrik. Berdenting. Adi benar-benar kesal. Laki-laki itu tahu ini semua bukan salah Noni.
Tapi dia tidak mungkin bersama perempuan yang punggungnya saja sudah bisa membuat perut Adi mual.
Gara-gara malam itu….
ADI merasa berubah tepat di malam setelah pemotongan kurban. Sebagai Satpam, Adi diminta membantu panitia pemotongan hewan kurban. Atas pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Adi yakin akan dapat jatah lebih. Karena itulah Adi berani ngajak Noni nyate. Dia membayangkan malam itu akan jadi peringatan peresmian hubungan mereka. Adi akan nembak Noni. Dengan honor sebagai Satpam senior, dan pemasukan tambahan dari para pemilik rumah yang dijaganya, Adi yakin, tak lama mereka bisa menikah. Mungkin, bayangan di kepalanya terlalu jauh. Tapi Adi yakin benar, Noni adalah jodohnya.
Lagi pula, kata orang, kesempatan tidak dua kali datang. Kalau tidak malam itu, kapan lagi mereka punya waktu panjang bersama. Hanya berdua. Dan Adi tidak salah. Perempuan itu mau memenuhi ajakannya. Kebetulan majikan Noni merayakan Idul Adha di tempat anaknya, dan dua teman Noni yang juga pembantu di rumah itu tidak keberatan.
Adi merasa matahari lupa bergerak. Hari terasa lambat. Tapi Adi rasa semuanya sudah siap. Kecuali daging kambing. Adi memang dapat dua bungkus. Satu bungkus untuk ibunya. Satu bungkus lagi akan dibakarnya bersama Noni. Baru saja Adi mau mandi, sore itu, adiknya datang. Adiknya yang sedang ngidam itu ingin makan daging kambing. Gule kambing yang dimasak ibunya sudah habis oleh lima adiknya yang lain. Adi tidak tega tidak memberikan jatah dagingnya yang dititipkan di lemari es warung.
Matahari sudah mendekati bukit. Hari mulai gelap. Adi belum juga membawa arang dan jerigan minyak tanah ke tempat perjanjiannya. Dia masih duduk di pos penjagaan.
“Ntar telat….”
“Pusing, No. Kambingmu aku beli, ya.”
“Kambing apa?”
“Jatahmu.”
“Biar dikasih seratus ribu, enggak kukasih. Siang tadi punyaku udah habis.”
“Di pasar bawah masih ada nggak, ya?”
“Ada. Besok pagi. Sekarang si udah tutup. Terus gimana?”
“Di mesjid enggak ada lagi?”
“Kan tadi kamu yang bagi-bagi. Mana sekarang yang kurban sedikit tapi yang datang banyak. Kupon pembagian aja kurang.”
“Aduh, gimana ya?”
“Besok aja enggak bisa?”
“Besok majikan Noni datang.”
“Kalau….”
“Kalau apa?”
“Di rumah Jenderal Sukron kan ada….”
“Ada apa? Aku enggak bisa mikir.”
“Si Iyan kan jaga rumah Pak Jenderal. Dia bilang di situ banyak kelinci….”
“Minta?”
“Minta mah enggak akan dikasih.”
“Maling?”
“Bukan maling. Minta. Tapi bilangnya dalam hati. Tenang. Enggak akan ketauan. Pak Jenderal datangnya kadang-kadang. Kata Iyan, kemarin kelincinya banyak yang lahir. Gimana? Kalau mau, aku ambilin. Maleman dikit aku anter dagingnya biar tinggal tusuk. Aku emang niat minta kelincinya Pak Jenderal. Mau bakar-bakaran sama si Nandang. Dia baru datang dari Jakarta. Lagi banyak uang. Tambah gila. Segalanya dicampur. Nah, sekarang minuman dicampur sate kelinci. Model baru….”
Tidak ada jalan lain. Adi mengiyakan dan bergegas ke rumah kosong yang ditungguinya. Mata laki-laki itu mengalahkan sinar bulan, berbinar. Adi menyiapkan panci untuk liwet, tusuk sate, arang, kecap, cabe rawit. Tak lama Iyan mengantar tas plastik berisi daging karena Marno, si pembuat rencana, dan Nandang sudah tertidur oleh minuman sebelum sempat mengantarkan tas plastik itu.
“Kang, maaf ya. Tadi telat. Habis Cinta Fitri-nya tanggung. Eh, Kang, liwetnya kekerasan, ya? Habisnya Noni biasa masak di rais kuker.”
“Enak kok, Non. Tambah lagi satenya, Non?”
“Iya, Kang, ini mau. Kata orang, makan daging kelinci bagus lo untuk rahim. Kelinci kan anaknya banyak. Bener lo, Kang. Mau Noni suapin?”
Noni mengerling. Jarinya lembut menarik tusuk sate dari bibir. Jari yang sama memasukkan jejeran daging bakar ke dalam mulut Adi. Mata laki-laki itu bisa tak lepas dari lidah Noni yang menyapu kecap di bibirnya. Adi tersedak. Noni tertawa kecil.
“Dagingnya keras.”
“Iya ya, Kang. Agak asem juga.”
“Daging kelinci memang gini kali, Non.”
Walau daging kambing digantikan daging kelinci, bayangan di kepala Adi nyaris semuanya terwujud. Adi merasa jantungnya penuh udara, mengembang. Adi ingat benar sentuhan mereka ketika duduk bersebelahan di atas koran. Bara masih menyala. Langit seperti bersetuju, warnanya biru. Laki-laki itu hampir lupa kalau saja Iyan tidak lewat memukul tiang listrik satu kali, dan Noni yang harus diantarnya pulang.
Mereka berdua saja menyusur malam. Rumah-rumah sudah mematikan lampu. Tangan Noni yang melingkar di tangan Adi dirasanya seakan enggan lepas. Mereka berjalan selambat tiupan angin malam itu. Seperti sedang mimpi. Adi tidak mau bangun. Dia rasa Noni juga begitu. Tapi pintu gerbang tinggi itu seperti bergerak dan tiba-tiba sudah di depan mereka.
Adi terkesiap. Tiba-tiba bibir Noni menyentuh pipinya sebelum perempuan itu berlari mendekati gerbang. Jantungnya yang mengembang seolah meledak. Adi tersenyum dan ingin bergegas tidur. Membawa kecupan lembut itu masuk mimpinya. Tapi dia masih harus membereskan kulit kelinci yang kata Iyan ditinggalkan Marno tak jauh dari selokan di ujung kompleks perumahan.
Adi berjalan cepat. Dia menuju tempat yang tidak banyak dilalui orang itu. Tempat para pemulung biasa membuang barang yang tidak mereka butuhkan. Selokan di ujung komplek itu gelap. Tanaman menyemak. Adi mencari-cari dengan senternya. Di bawah pohon kersen berdaun lebat, yang dicarinya tampak samar.
Marno memang teman yang baik, tapi kalau sudah mabok, asal aja dia buang….
ADI merogoh saku jaket. Mengeluarkan kantung plastik. Dia ingin cepat menjalankan tugas pamungkas. Dan cepat memimpikan kecupan Noni. Tapi tangan Adi berhenti terulur. Pori-pori membesar. Makanan dalam perut menyodok lambung. Liur masam. Adi muntah. Tak jauh dari kepala kucing kesayangan Jenderal Sukron.***
Dimuat di Koran Tempo, 05/31/2009

![Drop Crown.. [ Explore #1 ] Drop Crown.. [ Explore #1 ]](http://static.flickr.com/4059/4231438863_17461115ac_t.jpg)
