DUNIA HUBBU YANG SERIUS

“Not bad. Ada beberapa hal berharga di situ.”

Begitu Bambang Sugiharto, satu dari 3 juri Sayembara Novel Dewan Kesenian (DKJ) 2006, memungkas pembahasannya mengenai Hubbu. Dalam diskusi yang diadakan Institut Nalar Jatinangor, DKJ, dan Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Rabu (7/11/2007) di Jatinangor lalu, Bambang membilang—selain juga kelemahan—beberapa hal berharga dalam novel pemenang sayembara tersebut. Satu di antaranya, “Novel ini memperlihatkan kemampuan merelatifkan berbagai pandangan, berbagai world view.”

Dalam pembacaan sekilas, saya sepakat. Kemungkinan merelatifkan berbagai pandangan itu ditempuh Mashuri, penulisnya, dengan dua cara. Pertama, melalui tema. Tema dibentuk dalam peristiwa-peristiwa dan/atau mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak hitam-putih. Seperti tokoh Abdullah Sattar alias Jarot. Ia tidak hanya lahir, juga diharap menjadi pemimpin sebuah pesantren salafi, tapi paling kuat minum, “tak bisa mabuk oleh alkohol” (h.67). Dan sebagai seseorang yang tegas membedakan cinta dan nafsu, Jarot masih kerap melihat perempuan pada “perabot tubuhnya memang berbobot” (60) dan “buah dada yang berguncang” (162). Tokoh lainnya, Putri. Perempuan itu mengingatkan saya pada Cintaku di Kampus Biru, novel populer tahun 70-an dengan pesta, buku, cinta-nya. Putri seorang mahasiswi yang asyik diajak “adu argumentasi untuk membeber pemikir-pemikir yang dianggap pencetus modernisme” (h.62). Tapi Putri bisa begitu saja percaya pada isi primbon“…enggan berbuat sesuatu, kadang kala tidak suka makan dan tidak suka tidur, ini pertanda kurang satu minggu,” (h.82) sebagai takdir kematiannya.

Kedua, tokoh yang mengalami pengalaman-pengalaman dan/atau peristiwa-peristiwa berkesan mengalami guncangan karena benturan nilai-nilai itu dihadirkan melalui banyak pencerita (Jarot, Putri, Teguh, Aida, Jabir, Amin, Toni). Tidak hanya itu. Pengalaman atau renungan tokoh pun dituliskan dengan berbagai cara penceritaan (monolog interior, dialog, surat, catatan harian) dan beragam sudut pandang (aku-an, dia-an, kau-an).

Mashuri, mungkin, sadar ketika memilih bentuk novel yang ditulisnya. Hubbu dari mula menyatakan dirinya sebagai novel realis yang referensial. Ada Surabaya, nahwu sharaf, jagung bakar, dan sebagainya, yang kesemuanya dapat ditemui empirikal dalam dunia keseharian. Jenis novel ini memang kuat berpeluang mensugesti melalui cara kedua tersebut, melalui tokoh-tokohnya.

Kelahiran tokoh-tokoh memungkinkan novel demikian lebih dari ilmu-ilmu yang berkisah tentang manusia. Dalam ilmu, imajinasi sedikit mendapat tempat untuk berkembang karena pagar metodelogi. Pagar tersebut membatasi kemungkinan perkembangan eksistensi, mengutip Milan Kundera, sebagai penciptaan dunia kemungkinan-kemungkinan manusia. Dunia kemungkinan yang memberi kesempatan penemuan keber-Ada-an tokoh, yang berarti, menurut Heidegger, “ada di dunia” (in-der-Welt-sein, being-in-the world). Dunia eksistensi (seperti juga waktu) tidak selamanya identik dengan dunia keseharian. Inilah yang mungkin dapat dihadirkan novelis, sebuah dunia ciptaan. Semacam realisme-nya Umberto Eco, yaitu mungkin ada dengan adanya kesesuaian logika dan struktur yang dari awal sudah ditetapkan atau dibangun. Jadi, dalam novel, memungkinkan seorang salesman bangun pagi lalu menemukan tubuhnya berubah jadi kumbang, seperti Metamorfosis-nya Kafka. Kejadian itu menjadi “realis” selama unsur-unsurnya berada dalam struktur yang telah ditetapkan sedari awal. Hal tersebutlah, mungkin, jadi sebab penggambaran manusia dalam ilmu cenderung menelorkan stereotipe-stereotipe. Ini bisa jadi peluang dan kelebihan novel untuk melahirkan tokoh sebagai manusia berdarah-berdaging, utuh, dan khas. Karenanya, novel dengan penokohan model ini, berdaya lebih dari sekedar menggedor nalar, tapi pun mampu menghujam dalam.

Maka ketika membacanya, saya bayangkan Hubbu bisa jadi suaka. Di tengah sumpek keseharian, di mana suara-suara hanya bernada tunggal, novel ini—dengan banyaknya pencerita, cara penceritaan, sudut pandang—berpotensi jadi novel yang ramai, poliponik.

Tapi ketika membacanya, saya kok merasa bertemu tokoh-tokoh yang biografi hidupnya berbeda, bahkan berseberangan, tapi bertutur dengan cara yang sama. Tidak hanya cara melihat dan menyikapi persoalan, pilihan kosa katanya pun tidak jauh berbeda. Sebagai misal, “Bisa kutegaskan, diriku bukan hanya terbelah. Tetapi hancur berkeping-keping.” (h.72), “Sebelum hidupku hancur berkeping, aku putuskan..” (h.211), “…jiwaku dibakar geletar aneh.” (41), “…meletakkan raga dari pijar-pijar riuh rendah geletar.” (h.216), “Hatiku gundah bukan kepalang” (h.75), “…guna menuntaskan gundah hati.” (h.148). Kutipan satu dan dua adalah renungan tokoh mengenai hidup mereka. Walau konteksnya berbeda, kutipan pertama adalah suara Putri yang karakternya sudah disebut di awal. Dan yang kedua suara Aida, anak Jarot 45 tahun kemudian di Ambon. Kutipan ketiga berasal dari Jarot di usia belasan dan keempat suara Toni. Kutipan kelima berasal dari Jarot di usia 20-an merespon surat Istiqomah dan yang terakhir suara Aida ketika sampai Surabaya mengawali “muhibah”nya.

Memang banyak tokoh yang dikesankan memiliki nama dan memiliki problematik riwayat hidupnya masing-masing. Namun suara-suara Hubbu padu bermuara pada satu tokoh, hanya Jarot. Paduan suara itu—yang melulu diceritakan dengan banyak tumpukan kata sifat, abstrak—mengukuhkan Jarot sebagai seseorang yang diidealkan. Laki-laki dengan “[...] pribadi yang tidak hanya bisa tegak di atas kaki sendiri tetapi juga mempengaruhi dan menyinari orang lain” (h.72) bagi Putri. Seorang “yang ideal yang terus menerus membaktikan diri untuk keluarga dan dunianya”, “cerdas tapi tidak angkuh” (h.144) dan “seorang yang sabar, bijaksana, dan memiliki kepekaan tinggi” (h.176) untuk anaknya, Aida. Istiqomah yang disakitinya juga melihat Jarot sebagai “[...] pendiam, tetapi mampu mengundang daya tarik“ (h.76). “[...] karakternya keras, mudah terbawa emosi, meski secara hati dan pikiran, ia lebih mirip nabi-nabi” (h.192) kisah Syuhada pada Aida. Bagi Toni, Jarot adalah “Seseorang yang aku kenal di dunia dengan tingkat kesempurnaan luar biasa. Tanpa cela.” (h.223).

Jarot, yang mungkin diniatkan sebagai seseorang dengan obsesi yang sulit dinalar itu, rasa-rasanya terlalu ideal untuk hadir sebagai manusia yang utuh dan khas. Jarot retak. Ia menamai, memaknai dan menyikapi pengalamannya—seperti juga dibilang Bambang sebagai kelemahan novel itu—over dramatic. Sebagai misal, ketika Jarot belajar mata kuliah Bahasa Arab. Untuk Jarot yang sudah membaca Muqadimmah-Ibnu Khaldun di SMA serta Kalilah dan Dimnah ketika SD, saya kira toh sudah sewajarnya jika ia tidak kesulitan mengikuti mata kuliah yang baru mengenalkan, “aiu, babibu, tatitu, tsatsitsu,…” (h.16, 93). Tapi Jarot memaknai pengalaman itu secara berlebih dengan dengan semacam renungan filosofis “berawal dari kosong dan berakhir kosong” (h.114).

Apa yang membuat Hubbu sedemikian?

Saya curiga, penyebabnya, mungkin, karena kerapuhan bangun dunia Hubbu. Suara tokoh-tokohnya terdengar sumbang seolah memikul beban berlebih. Mereka tampak sesak, karena tidak berkesempatan mengembangkan atau menemukan keber-Ada-annya. Hubbu kelihatannya memaksakan dunia yang merupakan penjelmaan dunia ide penulisnya. Ide yang mungkin kompleks dan rumit itu, menjadikan Mashuri tampak serius. Ia sepertinya luput melakukan apa yang Eco buat dalam proses penulisan In the Name of Rose. Untuk membangun dunia abad pertengahan yang jelas dikuasainya benar, di tahun pertama ia membuat daftar nama serta data pribadi rahib-rahib di zaman itu, “Pembaca tidak perlu mengenal mereka, tetapi saya harus mengenal mereka.”

Jika demikian, bolehlah saya mempertanyakan lagi apa yang dibilang Bambang: Hubbu merelatifkan berbagai pandangan.**

Published in:  on 07/31/2008 at 7:43 am Leave a Comment
Tags: , , , ,

KERETA API MALAM

Darah kering terselip di kuku jari tengahnya.

Perempuan itu merasa sesak. Mata laki-laki tua di sampingnya setengah terpejam. Beberapa kali kepala setengah botak itu jatuh ke pundaknya. Laki-laki tua itu tersentak kaget. Perempuan itu tidak tahu apa itu sungguhan atau sekedar pura-pura. Setelahnya laki-laki itu akan tersenyum sebagai permintaan maaf. Senyuman itu yang membuat dada perempuan itu sesak. Bibir laki-laki tua itu seperti liang pantat. Nakal. Lalu, laki-laki tua itu terkantuk lagi. Bau minyak angin bercampur tisu penyegar tercium dari tubuh tuanya yang menggelambir. Perempuan itu menggeser duduknya. Menjauh. Kini, seluruh tubuh tua itu miring ke kiri. Pipinya yang coklat terbakar matahari bersatu dengan kaca jendela buram berselimut debu. Napas laki-laki itu mulai teratur.

Darah kering juga terselip di kuku ibu jarinya.

Perempuan itu melirik pada sepasang anak muda di hadapannya. Mereka mungkin orang kaya. Si laki-laki mengenakan celana hitam dengan kemeja katun putih yang lembut. Si perempuan memakai sepatu sendal keemasan yang kelihatannya mahal. Mereka duduk berimpitan. Mata mereka terpejam. Tapi Perempuan itu yakin keduanya tidak tidur. Ia melihat gerak tangan yang disembunyikan di bawah jaket seperti lilitan ular saling melingkar. Sebuah tangan bergerak-gerak di payudara si perempuan. Kadang memeras. Kadang mengelus. Jakun si laki-laki naik turun dengan cepat. Si perempuan beberapa kali tak sadar mendesah. Mereka berdua pasti tidak akan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Perempuan itu menyapu matanya ke sekeliling. Tak seorang pun yang dikenal dan mengenalnya. Ia memungut sebatang korek api dari lantai. Mematahkan ujungnya. Lantas mengorek-ngorek kuku. Kuku-kukunya besar, kasar, panjang dan tidak rapi. Kotoran sebesar biji padi dia cungkil. Butiran lembek itu ditekan-tekankan di antara ibu jari dan telunjuk dekat hidungnya.

Bau busuk yang enak. Mungkin seperti bau arak murahan dan asap rokok.

“Baumu enggak enak, Le. Mana?”

“Apa, Bu?”

“Kan ibu suruh kamu panggil bapak.”

“Sudah ah, mulai sekarang Sule enggak mau lagi kalau disuruh panggil bapak.”

“Didamprat?”

Sule mengangkat bahu. Dia berbalik. Menelikung dan membungkus punggungnya dengan sarung.

Garwa memegang dahi Sintren. Panas badan anak bungsunya belum juga turun.

“Le. Bangun dulu. Ibu mau nyusul bapak. Kamu jaga Sintren sebentar ya.”

“Tapi, bu…”

Sule menghentikan gerak bibirnya melihat mata Garwa yang membesar.

Kereta berhenti tiba-tiba.

Lima buah lampu menyala. Tiga buah mati. Termasuk lampu di atas kepala perempuan itu. Laki-laki tua di sampingnya terlempar tepat di pangkuan sepasang anak muda yang tangan mereka masih merayap-rayap. Mata laki-laki tua itu berkerjapan. Dia menyeringai ketika sadar kepalanya beralas paha kenyal si perempuan muda.

Telapak tangan laki-laki tua itu mengusap air liur. Si laki-laki kelihatan kesal. Si perempuan diam-diam mengancingkan kemeja.

Perempuan itu tidak tahu kereta berhenti di mana. Ia baru pertama kali bepergian dengan kereta.
Kelihatannya stasiun kecil di luar kota.

Keheningan malam berubah wujud. Beberapa penumpang mendecakkan lidah karena tidur mereka terganggu. Beberapa penumpang lain mengeluh karena kipas angin yang malas berputar. Kipas itu berputar seperti kitiran bambu tanpa angin. Berputar. Tapi lebih banyak diam. Perempuan itu kelihatan tidak peduli. Dari kaca jendela sebelah kanan penjaja makanan bergerombol menawarkan dagangan. Suara-suara dari luar menyadarkan perempuan itu bahwa sejak pagi perutnya belum sempat diisi. Biasanya ia tahan seharian tidak makan asalkan minum teh hangat. Atau juga dengan mengisap sisa rokok yang ditinggalkan suaminya. Tapi ia sadar tidak mungkin merokok dalam kereta. Seorang perempuan berdaster tipis, sendiri, merokok pula, pasti laki-laki tua di sampingnya mengira ia lonte. Mulutnya pahang dan bau. Ususnya mendadak perih. Perempuan itu membuka jendela. Ia mengambil bungkusan nasi dan teh dalam plastik. Lalu menyerahkan dua lembar uang lima ratus bersamaan dengan melintas kencang sebuah kereta dari arah depan di rel sebelah kiri.

Tak lama kereta mulai melaju pelan.

Laki-laki tua di sampingnya kembali bersiap tidur.

Garwa membuka pintu. Matanya lama baru bisa menyesuaikan dengan keremangan bohlam 10 watt di tengah ruang. Tempat itu terasa pengap oleh asap rokok dan bau tuak murahan. Kepala Garwa pusing. Gatal-gatal di vaginanya mulai lagi terasa. Garwa hampir tidak tahan untuk menggaruknya, kalau saja ia tidak ingat rasa perih dan panas ketika kencing. Vagina itu sudah sebesar batok kelapa. Dan totol-totol di sekitar bibir vaginanya sudah pecah. Berair. Baunya seperti kuah sayur asem yang sudah berjamur. Kalau terkena air kencing, perih itu membuat mata berair dan urat-urat paha mengejang. Garwa menjejakkan kaki kuat-kuat ke lantai tanah yang keras untuk menahan gatal. Mata Garwa sekelebat menangkap tangan Agus yang mengambil lembaran uang dari belahan dada Misun.

Perempuan itu membuka bungkusan nasi dengan rakus. Sebuah irisan tipis tempe, irisan timun layu, dan sambel terasi. Lumayan untuk memberi makan cacing-cacing dalam perut. Ia meniup tangannya. Seolah kotoran dan bekas keringat dapat hilang dalam sekali hembusan. Sudut sempit mata perempuan itu sempat melihat lirikan jijik laki-laki muda di depannya.

Ia tidak peduli. Perempuan itu juga tidak mempedulikan Agus yang pulang dengan badan loyo dan berminyak karena begadang. Begitu pula kalau Agus pulang dengan mata birahi. Tapi tidak peduli tidak harus sama dengan kebodohan. Perempuan itu tahu kapan harus mengungsi ke rumah orang tuanya, kapan harus menurut saja disuruh mengeroki punggung berdaki Agus, kapan harus mengangguk atau menggeleng. Ia juga tahu kapan tidak perlu menolak seretan laki-laki itu ke kamar, disuruh telungkup atau menjilati dada hingga paha suaminya yang cairan sperma kering masih lengket di situ.

“Garwa! Kalau Burhan ke mari, bilang aku pergi.”

Perempuan itu mengangguk.

“Heh. Garwa! Kalau Burhan ke mari, bilang aku pergi. Dengar?”

Agus seperti habis berendam dalam puluhan botol alkohol. Ludah berpercikan dari mulutnya. Mata laki-laki itu sekeruh sungai di musim hujan. Pasti dia tidak melihat anggukan Garwa.

“Kopi.”

Garwa tidak perlu menjawab. Hanya dari kamar belakang yang merangkap dapur juga tempat penyimpanan segala macam barang rusak, terdengar denting sendok menyentuh bibir gelas. Sangat keras.

“Tumben ada kopi. Enak lagi.”

“Hasil jualan pepes.”

“Siapa yang bikin? Mino?”

Garwa menggeleng.

“Sule mana?”

“Ke terminal.”

“Ke terminal? Mau jadi preman? Cari modar! Makin besar bukan makin keruan. Bilang sama dia, aku marah. Garwa. Garwa. Ini…” Agus melemparkan beberapa lembar ribuan. “Biar ibumu tutup mulut. Mulut kayak knalpot. Ke mana-mana ngomong. Mantu pengangguran. Mantu suka minum. Suka judi. Tua-tua bukannya inget kuburan. Coba. Coba kalau menang. Dia ikut senang.”

Laki-laki itu membuka serbet kumal yang menutupi satu-satunya piring di atas meja.

“Pepesnya tinggal satu.” Garwa menyerahkan sepiring nasi yang sebagiannya telah kering.

“Hanya ini?”

“Nanti saya minta Ibu kalau mau…”

“Jangan! Besar kepala nanti.”

“Tapi nasinya hanya itu. Enggak masak lebih. Saya kira enggak akan…”

“Enggak akan pulang? Seneng kamu aku enggak pulang.”

Agus menaikkan kaki ke atas meja. Bajunya basah oleh keringat. Laki-laki itu membuka bungkusan daun pisang. Garwa berdiri dekat pintu dapur. Dadanya berdebur. Apa akan ketahuan? Tidak. Suaminya tidak mungkin tahu. Garwa sudah mencampurkan banyak irisan daun kemangi, bumbu penyedap dan daun bawang. Garwa memperhatikan gigi Agus mencabik-cabik isi piring dalam hitungan kedipan mata. Decakan laki-laki itu melebihi mulut kuda. Perut Garwa diaduk-aduk. Mual. Cairan asin memenuhi rongga mulut. Ia ingin memuntahkan dahak bercampur butiran nasi yang tidak sempurna dikunyah. Garwa menekan bibir bawahnya sampai gigi-giginya terasa menancap.

“Air.”

Agus menyudahi makan siangnya dengan berkumur air putih hangat. Menelannya dalam sekali tegukan. Bersendawa.

Malam beranjak. Semakin gelap. Kereta baru saja melewati jembatan panjang. Pori-pori perempuan itu membesar karena tiupan angin yang masuk dari jendela kereta yang rusak. Ia telah selesai makan. Bibirnya mendengus-dengus kepedasan. Dari ujung plastik yang telah digigit, teh hangat membasahi kerongkongan.

Kini ia memejamkan mata.

Kereta memasuki terowongan hitam. Besok pagi-pagi sekali ia akan sampai ke sebuah tempat yang tak seorang pun mengenalnya. Tak seorang pun. Tak seorang juga akan tahu tentang seekor tikus yang dicincang untuk makan siang suaminya.

Ia memejamkan mata.

Dimuat di Media Indonesia 5 September 1999

PEREMPUAN TUA DI PESISIR

Di pesisir itu, perempuan kurus berbalut sari hijau “telah membuka kepalan dan melepaskan bawaannya yang berisi helium, mengamati sampai balon terakhir ditelan kegelapan malam Bombay. (…) Di hadapannya, cakrawala yang dipertemukan laut dan langit nyaris tak terlihat”.

Demikian Thrity Umrigar membuka novelnya, Jarak di Antara Kita. Perempuan itu Bhima. Perempuan tua yang merasa dihukum dalam janam, kelahirannya. Hidup, ia rasa, hanyalah arena melompat satu pengkhiatanan ke pengkhianatan lain.

Sewaktu tiga jari Gopal dipotong karena infeksi akibat kecelakaan tempat kerja, cap jempol Bhima membuat suaminya itu dipecat tanpa pesangon, Bhima merasa si akuntan mengkhianatinya karena ia takberdaya, buta huruf. Tapi pengkhianatan itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan ketika Gopal, suami yang mulanya terdiri atas, “sinar matahari, lagu, tawa, dan gurauan, beraroma metol, ketumbar, dan hujan yang baru turun” berubah jadi “sekeras palu, sepejal kulit, dan berbau keringat, abu dan susu masam”.

Juga tidak seberapa dibanding dengan kepergian Gopal membawa putra mereka, Amit. Meninggalkannya berdua hanya dengan Pooja, anak perempuan mereka. Pengkhianatan itu memang sempat membuat Bhima goyah. Tapi Pooja membuat Bhima bertahan, “karena kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri? Hampir sepanjang waktu kita hidup untuk orang lain, terus meletakkan satu kaki di depan kaki yang lain, kiri dan kanan, kiri dan kanan, sehingga berjalan menjadi kebiasaan, seperti bernafas.”

Sewaktu Pooja digerogoti AIDS dan Bhima “menyaksikan saat api menari-nari seperti iblis di atas jenazah putrinya”, kaki-kakinya pun masih terus bisa “meletakkan satu kaki di depan kaki yang lain”. Karena Pooja menyerahkan tangan kecil Maya yang tanpa dirinya, anak yatim piatu tujuh tahun itu tidak punya banyak kemungkinan. Di jalanan Delhi, setahu Bhima, Maya mungkin hanya mengisi tempat sebagai pengemis atau pelacur.

Bhima berkeras meneruskan langkah, meneruskan pekerjaan sebagai seharusnya ghati, kelas rendah. Ia “seperti mesin, hadir hanya untuk bekerja dan mendapat gaji, memerlukan makanan dan air sekadar menjaga agar onderdil tubuhnya tetap terminyaki dan berfungsi”. Untungnya Sera, majikan suku Parsi—kaum terdidik dan kaya di Bombay—tidak seperti banyak majikan lain. Pertolongan dan penghargaan Sera, membuat Bhima melayani keluarga itu layaknya “kesetiaan seekor anjing”. “Keakraban (…) terbina di antara mereka selama bertahun-tahun”. Bhima dan Sera biasa “menyeruput teh dalam sunyi”, dalam “bahasa yang tak terucap”, walau “kepulan teh menciptakan penghalang yang bergulung”. Bhima yakin bahwa Sera memercayainya. Hanya kepadanyalah Sera mengungkapkan “pikirannya sendiri. Pikiran yang dikuncinya dalam kepala seperti obat dalam lemari. Seperti uang dalam lemari”.

Sera pula yang menyekolahkan Maya. Bhima berharap cucunya menjadi sarjana pertama dalam keluarga. Gelar yang bisa memutus mata rantai buyut-nenek-ibunya, yang menjadikan tangan Bhima “pada usia tujuh belas tahun, keras dan kapalan karena sudah bekerja menjadi pembantu sejak kecil. Rusak akibat seumur hidup memegang bulu-bulu sapu yang keras, tajam, dan runcing, mencelupkan tangan dalam abu untuk menggosok panci dan penggorengan sampai mengilap”.

Tapi sebuah pengkhianatan lagi: Maya hamil oleh Viraf, menantu Sera.

Bhima dan harapannya “seolah selembar kertas terbuang di jalan berangin”. Limbung. Ia tidak pernah mampu mengatakan hal itu pada Sera yang “selama sekian tahun sosok yang kuat seperti Tuhan”. Dan satu ketika, ketika “api menghanguskannya, mengubah masa depan dan impiannya menjadi abu”, Bhima tidak lagi punya pilihan. Ia dengan “kata-katanya menyembur sekental dan seasin darah”, terpaksa mengatakannya. Tapi Bhima melihat Sera hanya “membatu seperti tembok”. Sera juga lalu menutup pintu rumah baginya. Dan “neraka (yang) berada di sisi lain pintu” seolah siap membakar. Ketika itu, bukan hanya Sera “menjauh darinya, seperti bulan yang semakin lama semakin tinggi di langit”, tapi pun “kerongkongan Bhima terbakar garam ketidakadilan. Dia menelan gumpalan di kerongkongannya, tetapi gumpalan itu membakar membentuk jalur hingga ke dada sampai akhirnya mengendap bagai api membara di perutnya”.

Apakah Sera “mampu melupakan kata-kata itu, mampu menguburnya di bawah lindungan lapisan-lapisan lupa dan penyangkalan?” Kenapa sampai sang Sera, seorang “wanita agung dan bermartabat”, lebih “memilih dusta menantunya yang kentara daripada kebenaran yang gamblang?” “Apa mereka juga belajar tidak diburu dan disiksa kebenaran? Bukankah dia bersembunyi di balik lindungan keluarga ketika harus memilih?” Pertanyaan-pertanyaan buncah. Kepalanya mau pecah. Ia tidak menjawab. Tapi, apakah “api membara” akan membuat hidupnya berubah? Bhima tidak juga bisa menjawab. Kepalanya rusak oleh penyakit yang tidak terobati, “miskin, tua, dan bodoh”.

Bhima merasa pengkhianat terbesar dalam hidupnya adalah kepalanya sendiri.

Bhima melangkah ke luar gedung apartemen keluarga Sera saat senja “seakan diterangi cahaya sejuta matahari. “Udara senja yang sejuk menari-nari di wajahnya, membekukan air matanya pada jalur yang terbentuk di pipi”. Bhima ingat kecemasan Maya yang menunggunya. Tapi kakinya malah mengajak ke “tepi jalan yang berseberangan dengan laut”. Dan tiba-tiba tubuh ringkihnya, “seperti Tuhan, bertindak dengan cara-cara yang misterius”. Tubuh itu bersama ombak dan langit semakin gelap—“tak lagi menampilkan pertunjukan cahaya yang memukau—”, membangkitkan kenangan dan ingatan kesakitannya. Bhima ingat orang Pathan, lelaki Afgan, penjual balon yang dijumpainya belasan tahun lalu. “Lelaki penyendiri, orang buangan, orang tanpa negeri atau keluarga” yang dalam ingatan Bhima “belajar cara menciptakan lagu dari kesepiannya”. Lelaki itu “dengan tangan kosong, dia membangun dunia”. Lewat perantara angin, telinganya mendengar “suara lelaki itu datang kepadanya, menyeberangi gunung-gunung dan melintasi tahun-tahun”. Lantas “segala sesuatu di sekeliling Bhima diam seribu basa”. Bhima mendengarkan “bumi berirama debur ombak”.

Bhima membiarkan tubuh merasakan, membuka dan karenanya melampaui kepalanya. Perempuan tua itu menemukan “diri (lepas) dari penjara kulit”, menemukan “pisau yang memotong benang yang mengikat dirinya”. Itulah yang “menghentikan ratapannya, lalu rasa takut menghentikan dengung kebasnya, dan yang tersisa hanyalah kebebasan—gencar, bergejolak, dan bertenaga”. Ia “mengikuti bunyi kepak di telinganya, bunyi sayap mengepak, bunyi belajar terbang. Kebebasan”.

Itulah pengalaman langka yang dihayati Bhima. Di pesisir itu, Bhima menyerap pengalaman tubuhnya. Ia, saya kira—meminjam nalar Heidegger—bertemu dengan momen otentiknya, sebuah diri yang tersingkap. Momen yang menjadikannya sebagai orang “baru”, Dasein, diri yang otentik. Momen tersebut idealnya lahir bersama kecemasan. Sebuah kesadaran bahwa Ada-di-dalam-dunia melalui penataan kepingan-kepingan yang kadang larut dalam keseharian. Tapi untuk perempuan tua seperti Bhima yang, di antaranya, tahu “bagaimana kehidupan memperlakukan orang-orang yang tak berpendidikan”, momen otentik itu hanya akan menjerumuskannya pada ketakutan. Ia sepertinya tidak siap mengalami, memaknai, dan menamai ketersingkapan untuk menyiapkan antisipasi (das Vourlaufen).

Hal ini karena Bhima hanya menempati ruang gelap dan sempit dalam keseharian. Ruang gelap itu membuat tubuh takleluasa dikenali. Tubuh takbiasa mengalami. Keseharian itu menyesakkan. Itu makanya, keseharian adalah semacam kesenangan “meninggalkan keterpencilan suram gubuknya di basti dan melebur ke dalam kerumunan yang cair tak berbetuk”. Orang-orang berkerumun, merasa saling mengenal dan merasa bercakap. Padahal, dalam keseharian demikian, tidak ada percakapan yang saling menyingkap, saling mengukuhkan, dan sekaligus memperkuat hidup bersama. Yang ada sekedar ocehan (Gerede), bahasa manipulatif yang makin menjauhkan diri dari ketersingkapan. Di situ, diri melarut. Pengalaman-pengalaman raib dan sukar dimaknai. Ketersingkapan diri otentik dan hidup bersama yang sejati (Mitdasein) jadi hal yang sulit diraih. Ruang-ruang gelap dan sempit di keseharian makin berbiak dalam hegemoni kuasa(-kuasa) yang menjadikan hidup sekedar larutan.

Keseharian begitu, mungkin takcuma fiksi yang ditulis pengajar penulisan kreatif dan sastra di Case Western reserve University ini, kita pun mungkin bagian yang dibiakan dan membiakan keseharian jadi sedemikian. Maka membaca Jarak di Antara Kita, bisa mengajak kita tamasya, sebagai pengalaman Bhima, perempuan tua di pesisir itu. Novel ini dibangun oleh tokoh-tokoh, peristiwa-peristiwa dan konflik-konflik yang kompleks, dan dengan bahasa yang plastis, imajinatif dan kaya nuansa, seperti beberapa saya kutip dalam tulisan ini. Maka, Jarak di Antara Kita sangat mungkin menerbitkan tafsir lain yang lebih memukau.**

Dimuat di Jurnal Perempuan

Keterangan:
Judul Buku : Jarak di Antara Kita
Judul Asli : The Space Between Us
Penulis : Thrity Umrigar
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cetakan pertama, Desember 2007
Halaman : 430

BA(O)ROK

Sinar matahari masuk lewat kamar mandi. Limbangnya menerobos dulu debu di kaca langit-langit, kemudian memendar di petakan keramik, lantas membuat garis lurus tipis di muka pintu.
Pintu kamar mandi terbuka sedikit.
Barok menghempaskan pantatnya di kursi pojokan kamar. Debu-debu jok ngeriap. Satu-dua sempat membentur dinding kamar yang cat lembabnya mengelupas. Satu-dua lainnya sembunyi dalam seprei buram dan bantal kempes. Satu-dua lagi berputar mengiringi derak kipas angin di tengah kamar. Satu kaki Barok bertumpu pada tangan kursi. Kaki lainnya selonjor. Penisnya yang kisut menggantung. Abu dan puntung-puntung rokok berserak. Kamar makin lamur.
”Aku…”
Suaranya tidak dapat saya mendengar.
Keran saya matikan.
Tetes terakhir meliang tajam. Tempias pecah. Tetes terakhir itu jatuh di punggung bak semen berkerak. Nyelusupi pelipis, pundak, dekapan tangan di tulang kering, paha yang menekan payudara, telapak kaki, lantai-lantai retak, terjun dalam lubang hitam yang dipenuhi rambut, bungkus sampo, puntung rokok, busa. Seekor kecoak di sudut kamar mandi tengadah. Sayap halusnya bergerak-gerak berusaha membalik badan. Yap, akhirnya, makhluk itu berhasil tegak.
”Aku Barok.”
”Oh.”
Satu sentuhan telunjuk saja, saya bikin kecoak itu lagi tengadah. Lagi kakinya menendang-nendang udara. Satu gayung guyuran air menyeretnya masuk lubang pembuangan. Tamat.
”Belum selesai juga?”
Leher saya gerak-gerakkan. Dia mana bisa lihat…
”Kau memang biasa di situ?” Suaranya terdengar lagi.
“Di depan penjara?” Kaki saya semutan. ”Ya.”
Vagina saya ngilu. Perut serasa dipelintir. Air di bawah pantat saya keruh. Dari tadi yang keluar cairan kental melulu.
”Sedang apa sih?”
Saya memegang pinggiran bak. Bersandar di kusen pintu. Ratusan kunang-kunang menyerang. Saya darah rendah. Selalu begini, kalau duduk lama lalu berdiri atau dari tempat terang ke tempat gelap. Pusing dan sedikit mual. Kalau mual, saya kira asalnya dari lambung. Seingat saya, saya hanya makan cuanki tadi. Barok tidak menawari makan. Mungkin lupa. Saya juga salah. Saya kaget. Kalau sedang kaget mana ingat keharusan makan tepat waktu.
”Mau ke kamar mandi?”
Barok menggeleng seperti baling-baling.
Matanya menyamak kulit payudara saya. Bulu-bulu di ketiaknya bikin saya jengah.
”Kau tidak malu telanjang?”
”Situ juga telanjang…”
Jejak hak sepatu tertinggal di lantai kamar yang mungkin lama tidak dibersihkan. Telapak kaki saya enggan menginjak. Saya kira sebabnya bukan karena ini penginapan murah. Pasti karena pelayannya jorok dan pemalas. Waktu tadi kami datang pelayan itu sedang mematung depan tv yang suaranya bisa menembus dinding. Barok mengetuk-ngetuk meja. Barok berdehem beberapa kali. Baru setelah saya teriak, kepala pelayan yang berkeringat itu berputar tak beda dengan jarum jam. Cari kamar? Ada yang lima belas ribu sampai jam 3. Kalau mau pakai kipas angin tambah lima ribu lagi. Yang kamar mandinya di dalam ada, tiga puluh… Bibirnya berlumur minyak. Ada yang lima puluh? Saya sempat tanya begitu. Mata pelayan itu seperti mau loncat. Setelah menerima tiga lembar puluhan ribu, dia cepat-cepat memberikan kunci. Saat itulah saya lihat kuku-kukunya panjang, hitam, lengket, mungkin di situ nyelip cungkilan sisa makanan, daki dari garukan leher, ketombe, tai, kotoran telinga. Kalau tidak pemalas dan jorok, apa namanya?
Untung saya tidak minum kopi pesanan Barok.
Seekor tikus lari ke bawah lemari. Saya naik ke ranjang.
“Takut?”
”Jijik…”
Celana dalam saya tergeletak di lantai. Saya jepit benda itu dengan jari kaki. Ada noktah hampir kering dekat rendanya. Saya bungkus dengan koran. Saya masukkan dalam tas plastik hitam. Saya sudah bawa satu lagi. Warnanya biru telor asin. Juga berenda. Saya selalu menyiapkan segalanya. Persiapan-persiapan itu sering membuat darah ibu naik. Sungai-sungai di dahinya semakin rapat. Ibu tahu saya sudah beli kain panjang, kapas, minyak wangi, kafan. Orang memang akan mati. Dan jelas ibu sakit. Pasti dia akan lebih dulu mati. Ibu juga tahu kenapa saya nolak ajakan Badri, padahal bayaran yang mau dia kasih untuk darah pertama saya bisa dipakai bayar sewa sawah setahun. Tiga kali panen. Ibu tahu.
”Umurmu berapa?”
“Apa?”
”Umurmu berapa?”
”Oh…. Bulan depan 17.”
Barok mematikan bara rokok di kaki kursi. Padahal batang rokok itu masih panjang. Saya tidak suka orang yang boros.
”Sudah kuduga.”
Sisa kopi dia teguk sampai habis. Ampas menempel di bibir tebalnya. Barok pasti jarang gosok gigi. Di deretan gigi depannya bertumpuk kuning dan coklat. Tadi gigi-gigi itu menggigit puting dan leher saya….
Saya lari ke kamar mandi. Saya basuh leher sampai pusar. Saya lap kering-kering dengan handuk kecil. Setelahnya, saya cepat-cepat pakai bh dan naik lagi ke atas ranjang.
Barok hanya memperhatikan.
”Apanya yang sudah diduga?”
“Kau pasti belum lebih dari 20. Tetek kamu masih keras.”
”Oh…”
”Aku kaget waktu kamu panggil tadi.”
”Oya?”
Apa lagi yang dia gigit? Paha? Untung tadi saya sudah cebok. Malah dari pinggang sampai telapak kaki.
”Iya. Aku kaget. Tadi kan ada Gabrut, Moris. Mereka masih muda-muda, cakep lagi.”
”Saya suka yang ubanan.”
Dua tangan Barok mengusap rambut. Mungkin omongan saya menyadarkannya. Tidak ada yang salah. Rambutnya memang beruban. Seluruh rambut ibu juga seperti dihujani bunga jambu. Putih seluruh. Padahal ibu baru tiga puluh delapan tahun.
”Iya ya… aku sudah tua. Waktu cepat sekali berjalan ya.” Barok menutup dua biji salak yang tertanam dalam di bawah dahi. Dari mulutnya asap rokok yang mirip kumpulan awan menjauh. ”Dua belas tahun…”
“Bunuh orang ya?”
”Pertamanya judi.”
”Terus?”
”Ngerampok.”
”Terus?”
”Ya kalau sudah begitu kan pasnya jadi pembunuh.”
“Oh.”
“Kau takut?”
Kenapa harus? Itu biasa. Setengah laki-laki yang saya kenal biasa berjudi, minum, main perempuan. Kalau kalah, biasanya pulang ke rumah dengan marah-marah. Semua kena: kopi kurang gula, pantat panci yang hitam, sarung belum dicuci, bak kosong. Tapi setelah itu, tidak lama, mereka mulai merayu untuk pinjam kalung, giwang, gelang. Mereka memang bilang pinjam, tapi mana pernah kembali. Belum pernah saya dengar cerita kalau judi bikin kaya. Setelah semua habis dipinjam, yang terakhir ya cincin kawin. Dikasih atau tidak dikasih, tetap saja benda-benda itu sampai ke pegadaian atau tukang emas perempatan jalan.
”Kenapa tidak bilang?”
Saya biasa dengan cerita-cerita macam begitu. Tapi sepengetahuan saya hanya ibu yang sialnya berlebih.
Sudah jadi rahasia umum kalau ibunya ibu, namanya Lesi, yang keburu mati sebelum sempat saya kenal suka nongkrong di warung tante Ansi. Bapaknya ibu jagoan. Namanya Gahar. Tapi orang-orang tidak ada yang berani hanya panggil Gahar, selalu pakai embel-embel. Gahar bukan jagoan bisa. Dia itu jagonya jago silat. Gahar punya banyak teman polisi dan tentara. Dia ditakuti. Mungkin karena bukan jagoan biasa, Gahar tersinggung ketika tahu istrinya berbuat sama dengan istri-istri jagoan kelas terminal. Telinganya berbiak di banyak tempat. Dia selalu tahu kalau Lesi sedang ada di bangunan-bangunan bekas pabrik gula. Gahar dalam satu helaan napas pasti akan datang. Dia mengeluarkan semua kemampuan sumpah serapah. Dia pukuli pemilik toko kelontong langganan istrinya atau, sial-sialnya, tukang becak. Setelah itu, Gahar ngeloyor dengan uang hasil tidur istrinya.
”Kenapa tidak bilang?”
”Apa yang tidak bilang?”
”Kau masih perawan.”
Saya tidak tahu pasti apa ibu masih perawan waktu diperkosa atau sudah ditiduri calon suaminya yang pegawai kecamatan itu. Dengar-dengar, si calon sudah sering datang sampai subuh, tapi Gahar pura-pura tidak tahu kalau ada yang mengendap-endap lewat pintu belakang. Lesi juga begitu. Buat mereka punya mantu pegawai negeri sudah sangat membanggakan. Lalu ibu ketahuan hamil.
Setengah laki-laki lagi lain yang saya kenal mungkin seperti si calon itu.
Dua bulan menjelang pernikahan, ibu bilang soal hamilnya. Ibu memang bodoh.
Saya kan pakai kondom. Masa’ enggak kerasa?
Saya kira soalnya bisa lain, kalau saja ibu mengunci bibirnya.
Diperkosa? Kok bisa? Kamu kan kenal dia. Jangan-jangan kamu yang pancing-pancing. Atau malah sama-sama mau. Dulu juga aku, kamu yang pancing. Waktu aku datang kamu sengaja pakai daster tipis, yukensi. Kalau kasih minum nunduk sampai kelihatan susu. Duduk ngelesot-lesot. Pura-pura punggung gatel terus minta digaruk. Memang kamu dibayar berapa? Aduh… mana aku sudah beli cincin.
“Heh. Mau ke mana?”
”Pulang.”
“Pulang?”
”Ya. Kenapa?”
Kalau sekedar dibilang macam-macam terus batal kawin saya kira ibu masih bisa terima.
”Masih sore…”
Tapi siapa yang tahan dimaki-maki di tengah orang banyak sepulang nonton pertandingan bola.
”Mau sama-sama?”
”Sama-sama?”
”Iya. Sama-sama pulang.”
Syukur kalau Barok mau diajak pulang bersama. Terlambat memang. Harusnya saya pulang tiga hari lalu. Supaya pas dengan tahlilan Ibu. Ya siapa tahu kalau tahlilan, arwahnya mau mampir. Biar ibu lihat. Waktu dengar Barok tak lama lagi keluar, ibu mau menunggu. Tapi apa bisa mati diminta menunggu. lagi pula, berkali-kali sudah saya bilang, biar saya yang tunggu. Ibu mau apa? Menangis? Bunuh orang? Nanti malah masuk penjara. Ibu kan sudah tua, kalau masih muda masuk penjara bisa enak, bisa jadi gundik sipir atau cari perempuan kaya di penjara yang demen perempuan jadi terjamin walau tinggal di penjara. Saya bilang juga sama ibu, berkali-kali, sampai bosan, biar saya yang ketemu Barok. Biar saya yang cerita semua. Soal si calon yang pergi karena tahu ibu hamil. Soal Gahar yang sudah kayak setan itu jadi semakin kesetanan. Soal ibu yang sempet cari Barok untuk minta pertanggungjawaban. Walau saya sempat heran, mana ada orang diperkosa minta pertanggungjawaban.
”Sama-sama pulang?
”Iya, tapi harus cepat. Sekarang ini angkutan hanya sampai jam 5, lewat jam itu harus pakai ojek. Mahal. Bisa tujuh ribu…”
”Memang kau pulang ke mana?”
”Seeng.”
Barok diam. Mendengar nama tempat itu lambungnya pasti dipenuhi asam. Dia pasti ingat sore itu. Sore dalam rimis. Daun-daun kering kemboja. Di antara jajaran nisan. Cakar ibu di lehernya. Dia pasti lihat salinan muka ibu di muka saya. Barok, sekarang, tak beda bebegig yang isinya hanya jerami…
Tapi tangan itu lidah kodok menyambar nyamuk.
Meraih kaki saya. Pahanya runtuh. Menindih. Mulutnya. Mulut itu menyemburkan tawa. Dinding kamar makin lembab. Lamur…**

Dimuat di Media Indonesia 2 November 2003

Published in:  on at 3:55 am Leave a Comment
Tags: ,

PERNIKAHAN (Kisah Perempuan Andin)

Tak kubayangkan begini jadinya…

Seorang laki-laki legam turun dari sebuah carry merah bata penuh dempul. Debu-debu dari puncak kemarau musim ini beterbangan ke segala penjuru terkena semburan knalpot. Mulut laki-laki tua itu mengepit sebatang rokok dan mengepulkan asap. Celana gombrong berwarna putih kecokelatan sebatas mata kaki yang dikenakannya melambai-lambai ditempeli guguran bunga jambu. laki-laki itu batuk lalu memuntahkan dahak yang berwarna putih kekuningan. Rokoknya jatuh.

Melalui tanaman beluntas setinggi perut, Nadin menoleh. Bibirnya yang bersenandung malu-malu mengikuti pengeras suara berhenti. Ia menganggukan kepala.

Laki-laki itu terkejut. Dia lalu membalas anggukan Nadin dan tersenyum. Dinyalakannya lagi sebatang rokok yang semula terselip di antara telinga dan kepalanya sebelum menurunkan sebuah panci besar di bak belakang mobil. Urat-urat di tangan ringkihnya seketika mengeras. Kerutan pada pelipis tuanya dibanjiri keringat. Badannya terhuyung. Cairan dalam panci ikut tergoncang. Meluber memerciki tanah dan cepat menguap dilahap panas tengah hari. Secepat kepakan sayap elang menyambar anak ayam.

“A… Ada yang bi…bisa saya Bantu, Pak Sep…ti?” Tanya Nadin.

Laki-laki itu menggeleng. Rokok di bibirnya, lagi-lagi, jatuh. “Tidak. Kau…eh. Tidak. Tidak. Aku hanya numpang memarkir gerobak itu. Tidak apa-apa kan, Din?”

Nadin menggerakkan kepala, menyatakan tidak keberatan. Pak Septi menarik lengan kaus setinggi siku. Bibir Nadin merekah dan segera ditelannya lagi ketika sekilas bola matanya membaca tulisan di kaus cokelat yang juga basah oleh cairan itu. Itu bacanya apa? Ada banyak huruf s. Juga i. Nadin mudah mengingat dua huruf itu karena bentuknya seperti cacing dan korek api.

Pak Septi mengerahkan kekuatannya untuk mengangkat panci itu lalu tertatih pergi. Nadin menggeleng-gelengkan kepala dan membiarkan bibirnya tersenyum lepas ketika Pak Septi hilang dari pandangan mata.

Nadin kembali menarik pakaian dari tali jemuran plastik dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam ember. Kemudian seorang, yang mengayuh becak secara perlahan karena jok becak yang telah mengelupas itu penuh tumpukan kain putih, tersenyum. Nadin membalas dan menganggukkan kepala. Seseorang itu mempercepat kayuhan becaknya. Tak lama, terdengar berbondong langkah-langkah kecil. Percakapan-percakapan serta sesekali disertai riuh tawa perempuan-perempuan muda dengan baskom warna-warni ditutupi lap dan taplak berenda di pinggang. Nadin menawarkan senyum dan menganggukkan kepala. Semuanya tersenyum dan balas menyapa dengan ayunan langkah kaki dipercepat. Lalu disusul Alimin melintas bergegas. Tanganya menyeret gedebok pisang. Nadin kenal Alimin. Laki-laki itu biasa datang membawakan sekarung pupuk kandang untuk keluarga Nadin. Sebelum menghilang dari mata Nadin, Alimin menyempatkan diri menggoda beberapa perempuan muda itu dengan menepuki pantat mereka. Sebagian dari mereka menjerit marah dan sebagian lainnya tertawa manja. Nadin melengos. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya.

Matahari pukul dua menusuk-nusuk kulit kepala. Kakinya yang tak beralas serasa melepuh menginjak tanah bercampur kerikil. Ia berlari menuju pintu dapur. Napasnya terengah. Nadin menarik napas panjang. Sebelum menutup pintu, bola matanya membentur seruas bambu diujung jalan yang dililit kain putih digayuti ronce daun kelapa muda.

Tinggal malam nanti. Sudah itu Sasha akan… Akan apa? Ia, oh, pasti ada yang sudah akan dia kerjakan. Sasha bakal pergi. Sasha bakal hilang.

Sasha adalah satu-satunya orang yang mau meluangkan waktu untuk membicarakan hal-hal dengan Nadin tanpa seolah sedang dikejar-kejar babi hutan. Karenanya, Nadin menyayangi Sasha. Nadin adalah orang pertama yang tahu Sasha tengah bercinta. Sasha demikian bahagia. Nadin turut teramat bahagia. Ia juga orang pertama yang tahu bahwa Sasha telah menerima lamaran Nirwan dan mereka akan…
Huh! Huh! Mereka!

Kata itu seperti duri-duri kaktus yang menusuk jari telunjuk Nadin. Membuatnya terluka walau hanya berupa titik-titik serupa bocoran air hujan di langit-langit. Ia teramat terpukul. Sejak Nadin mendengar Sasha akan menikah, ia berusaha membujuk Sasha membatalkan… ya minimal menunda pernikahan itu. Ia berusaha mengeluarkan semua kata yang sudah dipelajarinya agar Sasha mengerti. Lidah gagapnya sampai terasa ngilu mencari-cari kata. Urat di lehernya mengeras menyodorkan berbagai-bagai alasan. Kecuali mengatakan bahwa ia takut Sasha akan…

Tin… Tin…

Bunyi panjang klakson menyentakkan Nadin. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Telah kali kesekian, sejak pagi tadi, Nadin terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Suara rem dari kendaraan yang akan diparkir. Wangi-wangian lemak daging. Bunyi peluit Pak Undang. Suara mixer. Balon meletus. Feedback dari pengeras suara. Aroma kocokan putih telur. Pukulan gong. Begitu banyak suara. Begitu banyak. Nadin menggeleng-gelengkan kepala. Dengan itu, ia berharap dapat mengusir jeritan yang menusuk telinga. Ia berharap dapat mendepak tujahan paku di kepala. Tapi dari lubang matanya, Nadin merasa sejuta cacing kremi menggeliat-geliat. Berenang dalam air mata. Sakit lama di kepalanya jadi betah lama-lama bersemayam. Membikin sempoyongan. Membikin lutut saling beradu. Gemetar.

Telapak tangan Nadin segera menarik kursi plastik putih di pojok ruang.

Matahari menghampiri ranjang. Petang menjelang. Gelap datang.

Nadin selonjor di balik tirai. Telinganya rapat menempel pada daun pintu. Sementara itu, ayah dan ibunya masih saling berhadapan. Mata mereka seolah loncat dari tengkoraknya. Ludah dan kata memerciki udara yang telah penuh makian. Tumpah bagai tanggul ambruk oleh bandang penghujung tahun. Adrenalin dalam tubuh mengalir sederas muncratan darah dari nadi di pergelangan tangan yang putus.

“Perempuan bodoh!”

“Sok pintar!”

Rumah Nadin bersebelahan dengan petak-petak sawah yang sehabis panen selalu ramai oleh keluarga pengangon bebek. Atau juga hanya suara jangkrik, suara kodok hijau, tikus, dan gelesot belut-belut. Juga berdekatan dengan terminal angkutan pedesaan yang kerap dihiruki baku hantam. Berhadapan dengan pos penjagaan milik para penjudi yang terus hidup selama masih ada bulan dan matahari. Berbelakang-belakangan dengan lapangan voli. Bergandengan rapat dengan para tetangga. Itu sebabnya Nadin intim dengan keriuhan.

“Apa katamu?”

“Enggak punya telinga?”

Nadin menggeleng-gelengkan kepala.

“Kamu pikir dengan menjilati kakiku semuanya akan selesai. Aku tidak butuh hanya sambal terasi tahu! Kepala kerbau!”

Suara itu milik ayahnya. Nadin melihat laki-laki bersafari itu berkecak pinggang. Mengingatkan Nadin pada gambar walanda di halaman buku sejarah. Katanya orang-orang, walanda itu artinya penjajah.

Ibunya mulai terisak. Perempuan itu menyepak-nyepak kaki meja makan. Sebuah sapu, yang dibeli Nadin lima minggu lalu seharga tiga ribu rupiah di toko pengkolan dekat terminal, tumbang. Ibunya menghantamkan gagang sapu ke lantai kuat-kuat. Sangat kuat. Seperti desakan magma menyodok muka bumi. Perempuan itu memuntahkan segala.

Untuk kali pertama, perempuan itu memperlihatkan cintanya yang berlebih pada gagang sapu.

“Setan! Setan! PP 10… Saya mau lapor ke atasan…”

“Setan!”

Dua buah rol rambut ibu Nadin jatuh. Menggelinding dekat kaki Nadin.

“Mau makan apa kamu?” Ayahnya menyeringai seperti seorang pemain catur.

Pemain itu akan menyaksikan lawannya mati mengenaskan. Kemenangan gemilang. Raja hitam terdesak dipojok. Di hadapannya, hanya berjarak empat kotak putih, benteng menghadang. Tidak ada jalan lain kecuali maju. Menyerang ke kotak putih, walau hanya sebuah langkah memanjang-manjangkan waktu. Langkah tak berarti. Laki-laki itu tinggal menjalankan kudanya. Skak mat!

Nadin memungut rol-rol rambut yang menghampiri. Menjadikannya mobil-mobilan.

Ngeng… Ngeng…

Mobil itu meluncur pada jalanan aspal mulus di sebuah kota.

Di mana?

Jakarta… Hem, jauh. Sering macet lagi, kata orang-orang. Cirebon. Ya, Cirebon. Hari telah malam.
Jam berapa?

Sepuluh? Dua belas? Ah, kan aku enggak boleh keluar malam. Baik. Baik. Pukul tujuh lebih lima belas menit. Tujuh seperempat.

Nadin menginjak terus pedal gas di kaki kirinya.

Kanan!

Kiri!

Kanan, tahu!

Apa salahnya kalau sekali-sekali pedal gas berpindah ke kanan dan ke kiri?

Ngeng…

Mobil terus ngebut. Ada lampu lalu lintas. Kuning.

Oh…

Nadin tidak berhenti walau lampu telah menyala merah. Tapi tidak ada polisi di sana. Hanya sebuah patung berpakaian polisi. Sedang menghormat. Itu pun dibarengi dengan senyum. Diberi hormat dan senyum oleh polisi, mobil itu semakin kencang berlari. Dan akhirnya karena gelap, karena lampu tidak dinyalakan, karena Nadin tidak tahu bagaimana menyalakannya, karena Nadin tidak melihat jalan berlubang, karena ban kehilangan keseimbangan, mobil menabrak pohon di tepi jalan. Menabrak sebuah pohon ki hujan yang rimbun. Kap mobil terbelah.

Kap mobil terbelah?

O, iya. Memang kap mobil enggak bisa belah? Kenapa? Ah, masa bodoh. Pokoknya tabrakannya keras, hebat, dahsyat…

Brak!

Menabrak ujung kaki lemari pakaian jati.

“Hei, apa-apaan? Simpen sapunya! Ah…” Ayahnya menjerit.

Seorang laki-laki menjerit seperti anak kecil tetangga yang merengek minta dibelikan permen sugus yang dilihatnya bisa berjingkrak-jingkrak di iklan televisi. Kepala belakang dekat telinga kanan ayahnya berdarah. Safari berwarna abu-abu itu memerah.

Ah, pasti susah nanti dicucinya…

“Aku bodoh hah! Bodoh! Bodoh! Otak udang… Kepala kerbau… Apa lagi? Sundal. Jadah!”

Ember terjatuh dari tangan Nadin yang terkulai. Pakaian-pakaian kering dari dalamnya berhamburan. Nadin kaget. Punggungnya semakin membenam. Tali-tali plastik di belakang kursi bergelayut menahan berat badannya. Ia memejamkan mata kembali.

“Siapa yang angkat jemuran itu, Din?” Tanya seorang perempuan yang masuk dari ruang tengah.
Perempuan berbadan gemuk itu mengenakan kain sarung yang bolong di bagian pahanya. Tangannya menjinjing baskom. Kebaya sekuning matahari senja yang melekat di tubuhnya kekecilan hingga memperlihatkan sebagian tonjolan-tonjolan lemak di perut. Perempuan itu melepaskan selendang. Melemparkannya dekat jelaga dan tumpahan minyak tanah di samping kompor. Keringat dari lipatan daging di leher meleleh. Ia mengempaskan pantat pada kursi di sebelah Nadin yang masih memejamkan mata. Kursi berderit dan bergoyang seakan meronta dari himpitan puluhan kilogram beban. Mata perempuan itu kecil dengan kening selebar daun talas bogor memandang liar sekeliling.

“Popon mana? Kamu yang angkat jemuran, Nadin?”

Nadin mengangguk dalam gelap.

“Anak setan! Setan! Sudah dibilang, jangan keluar rumah hari ini!” Perempuan itu seketika bangkit. Menyambar sapu yang tersender dekat pintu dan menghantamkan gagangnya pada dinding dapur yang telah retak dibalut lumut.

Nadin membuka mata. Matanya merah. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Jangan membantah. Aku enggak ingin kejadian waktu itu terulang. Dengar! Hari ini sampai lusa kamu diam di rumah. Dengar, Nadin?” Perempuan itu berteriak. Tepian bibirnya berliur. Ludah muncrat.

Lalu ia letakkan sapu pelan-pelan seolah takut ijuknya tercerabut. Ia melap keringat di pelipis. Merapikan rambut. Perempuan itu menyeret langkah ke dalam kamar mandi dan membanting pintu.

Rambut perempuan tua itu hampir seluruhnya putih. Ia terlihat jauh lebih tua dari usianya. Beberapa tahun kemarin, betisnya adalah sepasang biji padi bernas yang siap diketam. Bicaranya perlahan serupa desau tiupan angin barat membawa embun di pematang. Sayup dan menggetarkan siapa yang mendengar. Ia jarang bersuara hingga membuat banyak orang seakan dapat berkah bila diajaknya bicara. Tidak seperti sekarang. Bibirnya tak beda dengan keran air bocor yang menetes dan menetes dan menetes terus. Tak ada yang mampu dan mau menampungnya. Beberapa tahun yang tak kembali. Ya. Padahal baru beberapa tahun kemarin…

Kapan?

Lima, sepuluh, dua belas, atau… dua puluh lima tahun lalu.

Kapan tepatnya?

Nadin menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak ingat.

“Aku terus-terusan bilang. Ingat pepatah! Ingat pepatah! Pernikahan itu pesta raja sehari. Pesta sehari! Pestanya laki-laki! Biar mahkotanya daun nangka, tetap saja mereka raja! Suami hanya untuk di rumah, paling jauh di halaman rumah. Selebihnya, mana boleh kita mengharap. Tai kucing itu kesetiaan!” Dari dalam kamar mandi, teriakan perempuan itu terdengar lagi. Kata-katanya berselang satu-satu dengan hantaman air di lantai.

“Pengalaman yang bilang. Perempuan hanya diminta sabar. Menyenangkan. Nurut. Mana ada beda dengan bergelantungan di satu utas rambut di pinggir jurang? Enggak ada bedanya. Cerai? Hah! Susah. Sudah cerai kita malah banyak nanggung susah. Dimaki orang-orang. Dianggapnya enggak becus melayani suami. Disalahkan kiri-kanan. Tapi… tapi enggak berarti di setiap hajatan kawinan orang kamu boleh teriak-teriak…”

Sementara di luar sana, matahari masih menghujankan terik. Nadin menutup telinga. Ia bersenandung sangat perlahan mengikuti irama dangdut dari pengeras suara.

Tak kubayangkan begini jadinya…**

Dimuat di Kompas

Published in:  on at 3:52 am Leave a Comment
Tags: , ,