ALIRAN LAVA PIJAR

Bayangan, seperti kumpulan cerita pendek Iwan, tegak lurus dengan langit. Matahari membakar kulit. Tepat di tengah-tengah benda yang saban hari helai rambutnya semakin jarang. Pinggiran pertokoan tidak meneduhi. Kios pembuat stempel berebut dengan penjual koran dan teh botol.

“Hai.”

“Halo Bos. Koran? Atau yang ini baru datang…”

“Bisa saja kau. Masak tengah hari bolong begini dibilang baru. Ada kabar apa Ben?”

“Biasalah. Presiden jalan-jalan ke Australia, deeper protes, massa Banyuwangi bikin macet. Jakarta masih banyak yang demo…”

“Heh, jauh amat dari Australia ke Banyuwangi. Yang deket-deket aja kawan.”

“Oh itu. Dengar berita kemaren?”

“Berita apa?”

“Seru Bos. Lebih seru dari koran.”

“Oya?”

“Kemaren orang Palembang…”

“Ribut lagi sama anak Karapitan? Biasa kan…”

“He eh. Ributnya mah rutin. Tapi kemaren pas ada operasi Tibum. Bareng sama yang belanja awal bulan. Nambah lagi yang ambil pensiunan. Jalanan banjir. Pinuh.”

“Terus?”

“Ya seru. Kejar-kejaran. Ucing-ucingan. Ka Lengkong. Alun-alun. Dalem Kaum. Kota Kembang. Kapatihan. Kebon Kalapa. Balik deui ka dieu. Nu keur belanja jejeritan. Took-toko langsung tutup. Mobil-mobil ngacir. Taksi ngungsi. He eh. Jiga pilem eksen. Ngan teu aya mobil nu gugulitikan hungkul. Batu? Geus teu usum. Sekarang yeuh Bos, ribut begitu mah pada make clurit. Parang. Samurai. Sukur-sukur aya pestol… Satu? Sepuluh delapan ratus. Ada dua ratus? Ya. Nuhun Pak… Di sini, he eh, depan sini, darah ngalayah. Di mana-mana getih. Seru. Rame . naon? Tong salah. Aing oge miluan. Nya ikutan mukul we. Teuing saha. Pokokna ada yang lewat habeg. Nyenggol saeutik babug. Lumayan keur represing. Polisi? Aya meureun leuwih ti sapuluh mobil mah. Trek garede nu kacana diteralisan beusi. Katanya Brimob ti Jatinangor. Ujang Codet… ma’ enya teu nyaho. Itulah preman nu jidatna baret. Nu jangkung. Gondrong. Hideung. Ehm…nu pipina loba bekas jerawat. Biasa nongkrong di jembatan? He eh. He eh. Nah manehna beunang. Kena.”

“Oya?”

“Ada Anisa?”

“He eh. Tapi tadi rada pagian geus ka tingali nagihan. Gancang geuning proses verbalna… Apa? Cari apa Neng?”

“Anisa.”

“Tahu proses verbal segala.”

“Ah si Bos. Anisa? Belum datang Neng. Baru besok Jumat.”

“Neng. Neng. Ini saja. Baru. Arina. Sama-sama Anisa, cerita juga. Lebih bagus malah. Ada cerita…”
Sementara Beben sibuk membual, aku membuka suplemen koran lokal yang konon beroplag paling besar. Selintas melihat-lihat judul. Membalik. Merentang halaman tengah. Mencari kolom puisi. Mengeja barisan huruf capital di sudut kanannya. Menengok cerita pendek. Membaca judul dan nama.

“Sialan.”

“Ada yang gawat ya? Eh eh… koranna kumaha Bos? Ka mana?”

“Aku ke alun-alun dulu Ben. Korannya nanti sajalah. Tunggu mandat alias wangsit dari Australi.”
Aku menyeberang. Empat buah ban radikal seketika berhenti. Mulut CJ 7 hampir menanduk lutut. Dentaman bas dari dalamnya memukul-mukul. Sebuah kepala dengan jambul seperti kakak tua warna cengek masak keluar. Matanya hendak loncat.

“Heh. Liat-liat kenapa? Kalo gua tabrak, mampus tau.”

“Maaf.”

“Nyebrang tuh pake ini.”

“Pakai kaki juga.”

“Heh. Nantang lu.”

Empat kepala dengan wujud tak jauh beda nyembul dari jendela kiri dan belakang.

“Enggak. Enggak.”

“Kagak. Kagak. Budek apa gua kagak denger lu ngomong. Pake melotot. Bilang kagak lagi.”

“Ngejual tuh Man. Embat aja. Masa lu takut.”

“Anjing!”

“Bener mas, enggak nantang, saya mana berani…”

“Banyak bacot lu!”

Mobil-mobil lain mulai mengular sampai kaki jembatan penyebrang. Kepala-kepala melongok. Bibir berteriak tidak sabar. Klakson diteken panjang dan pendek. Sahut-menyahut. Orang-orang mulai berdatangan.

“Ada apa? Ada apa?”

“Enggak tahu.”

“Berantem.”

“Hayuh atuh jreng…”

“Iya. Gatel nih. Hajar saja Kang!”

“Mending kite cabut Man.”

“Yoi Man. Enggak usah dilayanin. Enggak lepel.”

“Awas! Laen kali, abis lu.”

“Lo enggak jadi?”

“Teuing.”

“Payah…”

Knalpot racing mobil itu menggerung. Bannya berdecit. Mengerat. Meninggalkan garis panjang hitam di aspal. Menyisakan kebulan asap putih. Aku tidak lama menunggu. Langsung nyelinap antara parkiran motor. Setengah berlari nyelusup antara tiang setinggi pinggang. Selonjor di sebuah bangku semen. Cuping hidungku mengembang. Menghisap dalam-dalam. Bau keringat kering dari ketiak menghujam. Pesing dan semburan knalpot ikut menikam.

Alun-alun, seperti biasa, setiap sudutnya orang-orang menyemak. Sesak. Di sudut kiri seorang penjual obat melilitkan ular belang ke lehernya. Dua laki-laki tua dekat WC asyik memindah-mindahkan bidak catur. Penjual gorengan tengah menghitung lembaran uang kertas lusuh. Beberapa perempuan bergincu terang duduk di pinggiran tembok. Sekumpulan laki-laki bertato mengerumuni dadu dan gerincing uang logam. Sepasang sejoli saling merapatkan bahu. Pasangan lain, kelihatannya, sedang bertengkar. Yang perempuan, mengenakan jean sobek, menuding. Yang laki-laki, tidak kalah garang, meluruskan telunjuk. Suara mereka berhimpit dengan terompet, peluit parker, dan pengeras suara dari departemen store sebrang jalan. Seorang perempuan dan laki-laki melintas. Tangan mereka menjinjing tas plastic belanjaan yang sarat. Seorang anak berlari. Sekitar bibir penuh coklat. Lewat barisan gigi hitamnya, anak itu berseru. Anak satunya menangis. Kakinya menyepak-nyepak. Tangan menunjuk pada parasut mainan yang sengaja diterbangkan di depannya. Penjualnya tersenyum menang saat si ibu sambil menggerutu membayar mainan itu.

Aku merogoh saku celana. Tinggal tiga batang kretek gepeng tertindih pantat. Korek?

“Permisi…”

“Punya api?”

“Oh ada. Ada.”

Laki-laki beryou can see itu mengeluarkan pemantik gas. Selayaknya adegan film Hollywood, dia menyalakannya untukku. Tembakau dalam lintingan berkretek.

“Permisi…”

Jreng.

“Hah?”

“Kenapa Pak?”

“Masak ngamen di sini?”

“Di sana enggak boleh sih, Pak. Satpam barunya galak. Herder aja kalah galak. Baru kita ngomong permisi, pentungannya keluar. Padahal kita sama-sama cari makan. Payah. Mentang-mentang pakai seragam.”

“Kan biasanya…”

“Parapatan? Bukan bagian saya. Seratus aja Pak.”

“Ini juga pas-pasan.”

“Masak enggak kasihan Pak. Orang miskin. Buat makan.”

“Saya juga belum makan.”

“Rokoknya aja Pak.”

“Rokok sih bukan seratus.”

“Satu aja Pak.”

“Tinggal tiga…eh dua, buat sampai malam.”

“Ah…percaya.”

“Ini. Ini.”

Aku terpaksa menyerahkan seratus rupiah padanya.

“Rokoknya?”

“Katanya seratus.”

“Ya, kalau dikasih dua-duanya enggak ditolak Pak. Tapi ini juga terima kasih lah.”

“Lo?”

“Kenapa Pak?”

“Kok enggak nyanyi?”

“Saya ngamen buat cari uang Pak. Kalau uangnya dapet ya…”
laki-laki itu berbalik. Ngeloyor pergi.

Babon! Apa isi kepala orang itu? Bisanya ngomong satpam galak, orang miskin, cari uanglah, belum makan. Kera busuk! Dia sendiri seenaknya memperlakukan orang. Apa dikiranya aku juga tidak butuh uang? Apa kelihatannya hidupku lebih enak, lantas bisa bebas diinjak-injak.

Gunung berapi lahir. Mungkin dari lambung yang sedari pagi belum menggerus makanan.

Belum lagi ditengah terik aku harus berjalan kaki. Kenapa? Pertanyaan bodoh. Biar bagaimana, aku harus keluar kamar. Harus. Perkaranya? Belum cukup apa? Dengar. Tepat jam sebelas Bu Prapto pasti akan mengetok kamar. Dia akan nagih pembayaran uang kos yang dua bulan ini aku tunggak. Kalau kali ini seperti kemarin-kemarin, hanya janji yang kuberi, dia seperti bendungan bocor. Puluhan, bahkan ratusan huruf menggelincir dari bibir bak Julia Robertnya. Aku sudah kehabisan kata. Kontras memang. Penyair ditinggalkan kata. Mau apa? Kata-kataku tidak punya kekuataan menghadapi hal-hal semacam itu. Makanya, mau tidak mau, dengan mengantongi seribu lima ratus perak yang telah berkurang seratus disantap pengamen sialan itu, aku ke sini. Kenapa ke sini? Itu juga pertanyaan bodoh. Tempat ini strategis, sangat strategis dengan kondisiku sekarang. Aku bisa tahu, dengan berpura-pura hendak membeli koran, melihat kalau-kalau puisi atau cerpenku dimuat. Kalau dimuat, dengan jalan sejauh dua kilo lagi aku bisa sampai rumah Darno. Aku perlihatkan korannya sebagai jaminan. Aku bisa pinjam uang. Bisa makan. Bayar kos. Beli rokok. Pulang dengan kendaraan umum. Sederhana. Kalau tidak? Ya seperti yang dilihat. Tidak jadi beli Koran. Selonjoran sambil mengisap rokok. Tidak tahu harus bagaimana. Lalu ditindas pengamen fasis.

Nyeri melilit usus. Lengkap! Oh. Satu lagi. Nyaris mati tertabrak manusia-manusia planet punk. Gila! Aku juga hampir saja jadi biang keributan. Cepat sekali orang-orang tadi berkerumun…

Celanaku basah. Aku bangkit. Ada bercak coklat kekuningan di bangku yang kududuki. Aku mengusap-ngusap pantat. Lembab. Berlendir. Likat. Aku endus telapak tangan. Anyir.

Puah! Tambah lagi kesialanku.

Aku bergegas menuruni WC di pojok alun-alun. Dua keran wastafelnya macet. Dua pintu tertutup. Aku menunggu. Menghitung jari kanan. Jari kiri. Menghitung ruasnya. Kanan. Kiri. Pintu itu masih juga belum terbuka. Banyak tulisan sepenuh tembok kamar mandi. Tulisan-tulisan itu sepertinya menyeringai. Mengejek. Orang sabar kekasih gusti. Gusti Randa. Randa Aceh. Hapus DOM di Aceh. Dom pimpah alaikum gambreng. Pisang gambreng. Goreng et mah euy. Seragam tentara yang goreng-goreng. DOM? DOM meledak di Antapani. Jangan tulis-tulis antapani! Di situ rumah Asih. Jelitaku yang telah menyakit hati tapi aku tetapi mencintaimu, saying. Hidup cinta. Hidup orang miskin. Berangus…

Akhirnya seorang laki-laki berperut buncit keluar. Aku segera nyerobot. Membilas celana. Berkali-kali. Sampai kurasa benar-benar bersih.

“Uangnya?”

“Saya kan enggak kencing.”

“Tadi masuk.”

“Saya hanya cuci celana.”

“Mana tahu?”

“Ini basah.”

“Bisa saja Situ berak di celana.”

“Sial…”

“Kenapa?”

“Enggak. Saya kira hanya yang…”

“Bisa baca?”

“Kenapa tanya-tanya, apa bisa baca…”

“Bisa baca enggak? Nah bagus kalau bisa baca. Itu aturannya. Baca.”

Penjaga WC menunjuk kertas yang bertulis spidol biru, masuk WC 300.

Dengan berat hati, tiga ratus perak aku masukkan dalam kotak kusam dekat tempat duduk penjaga itu.

Apa kubilang?

Orang macam begini ini yang bikin kacau negara. Sedikit saja diberi tempat, dikasih kekuasaan, dipakaikan seragam, yang dibilang pengamen tadi mentang-mentang, sudah jadi tirani. Ngelunjak. Gendang telinga dibiasakan tertutup. Mana mau mendengar orang lain bicara? Hantam kromo! Peraturan ditulis pasti ada konteksnya. Dan konteks itu sekarang, seribu seratus perak. OK Bung Freire. Salut. Tabik buat budaya kemiskinan Sampeyan. Terbukti.

Ludah di pangkal lidah terasa masam. Pandangan menguning. Telinga berdenging.

Aku harus duduk. Tapi sekarang tepat jam istirahat. Bangku-bangku, tembok-tembok, anak tangga, pinggiran pagar, semua penuh. Orang-orang tengah melahap kupat tahu, lontong kari, mi ayam, gado-gado. Menyeruput teh botol dingin, air mineral, es cendol. Tak peduli. Tenggorokanku gantang. Tidak ada sisa liur yang dapat kutelan. Aku menyeret langkah. Pelan. Mencari bangku kosong yang tersisa.

Dekat pagar besi menghadap mesjid, sebuah bangku agak panjang diduduki seorang laki-laki tua. Sampingnya bungkusan tergeletak. Masih ada tempat ujung satunya kosong. Tidak ada pilihan. Aku hempaskan pantat di situ. Tengkuk kulipat. Mata pejam. Angin panas kusedot. Menahannya dalam hitungan sepuluh. Kutiup pelahan.

Aku selipkan sebatang rokok. Korek?

“Jang. Jang.”

“Rokok A?”

“Minta api ya?”

“Yeh.”

“Nuhun.”

“Sugan teh rek meuli, nyaho kitu mah…”

Anak kecil dengan koreng dibetis itu meludah. Menjauh. Terus menggerutu.

Kapitalis cilik! Sebatang korek api. Hanya sebatang korek api saja bikin anak bau ketuban sudah berani kurang ajar. Apa yang diajarkan orang tuanya di rumah? Tidak sempat. Baik. Apa yang dikerjakan LSM anak jalanan yang katanya dapat dana luar negeri? Tidak sempat juga. Apa maksud UUD anak terlantar dipelihara negara? Idem. Babon! Sebatang korek api. Bayangkan…

Gelambir bibir laki-laki tua disampingku menyemburkan dahak dekat kaki. Dia berdehem. Sekali lagi.

“Asli sini?”

Aku mengiyakan agar pertanyaan tidak berlanjut.

Sekarang bagaimana? Apa nekad saja ke tempatnya Darno? Kemungkinan pertama, dia jera. Tidak mau lagi meminjamkan uang. Tapi setidaknya aku bisa menebalkan muka berbaring sebentar di sana. Ada alasan untuk bilang aku menunggu malam, supaya pulang tidak terlalu panas karena aku berjalan kaki. Itu harus kuucapkan dengan tegas dan jelas padanya. Jalan kaki. Siapa tahu pori-porinya masih bisa tersentuh. Hal lain, kalau aku di sana sampai agak malam masak dia tega tidak menawariku makan. Kemungkinan kedua. Dia baru terima upah. Sedang berbaik hati. Dia mau meminjamkan uang. Minimal untukku melanjutkan hari selama seminggu. Nantilah memikirkan Bu Prapto…

“Bapak sih baru datang.”

“Oh.”

Kemungkinan ketiga, ini yang terburuk, dia sedang pergi. Tidak mungkin ditunggu karena tidak pasti jam pulangnya. Kalau begitu, artinya aku jalan kaki dua kilo lagi, Bu Prapto, plus perut kosong.

“Apa setiap hari ramai begini?”

“Iya.”

Kemungkinan lain? Mi rebus? Seribu perak hanya untuk karbohidrat dan penyedap. Tidak. Warteg? Sambel sama lalaban gratis. Teh hangat free. Nasi tujuh ratus. Tahu sayur dua ratus lima puluh. Sisanya seratus lima…

“Memang enak duduk di sini bisa lihat yang jalan-jalan… Bapak sedang nunggu agak sore mau ke tempat anaknya Bapak di Gegerkalong, kalau dateng sekarang pasti enggak ada di rumah mereka orang sibuk ya namanya kerja di jaman sekarang mana bisa santai apalagi kalau jadi tentara.”

“Oh.”

“Sedang apa?”

“Apa?”

Asap tar dan nikotin kuhembus kuat-kuat.

“Sedang apa di sini?”

“Oh… Istirahat.”

“Iya ya buat istirahat juga di sini enak…”

Mulut laki-laki itu mengusik. Membangunkan El Misti yang hampir lelap.

“Kalau capek memang perlu duduk sebentar, istirahat. Dari mata saja Bapak bisa lihat kalau Situ capek sekali. Mata kan jendela hati. Kalau susah atau ada pikiran mata jadi keruh tidak jernih, kalau capek urat-urat di putihnya menonjol keluar, mata yang keruh ditambah lagi berurat itu akibat jalan darah tidak sempurna dan akan memompa produksi adrenalin…”

Magma pekat dalam tubuhku mencair. Membara. Campuran karbondioksida dan belerang bergelegak. Bergolak naik. Kulit di sekujur membengkak. Retak. Pecah.

“Kesehatan itu karunia yang harus dipelihara ya kuncinya satu kalau kerja jangan diporsir bahasa Bapak jangan ngoyo, mesin dari baja yang tahan laser begitu saja kalau dipakai nonstop bisa aus apalagi badan manusia yang hanya tulang sama daging ya kalau tidak hati-hati pasti cepat ambruk dan jangan lupa sakit enggak hanya pisik tapi juga psikis ini yang repot, makanya Bapak selalu wanti-wanti sama anak Bapak bilang ke mereka, cari uang boleh, ngejar pangkat tinggi silakan, ambisi karir naik juga enggak dilarang, tapi… Ada tapinya, tapi jangan lupa jaga kesehatan istirahat. Cukup makan. Cukup istirahat.”

“Hem…”

“Dua bulan lalu mantu Bapak kena tipus sempat diopname sampai dua minggu dirawat di rumah sakit tapi baru sembuh sehari dianya langsung ke Jakarta waktu itu Jakarta lagi ramai peledakan bom dia kan bagian operasi jadi ya harus langsung turun ke lapangan tahu kan yang meledak di gereja di panti asuhan bank pertokoan…Lo mau ke mana?”

“Ke sana…”

“Di sini saja. Sampai mana? Oh ya kabar terakhir Bapak terima dia sudah enggak bolak-balik ke Jakarta Bapak tanya kenapa dia bilang di sini juga rawan sekitar semingguan ke belakang katanya ada perkelahian antar gang pakai senjata tajam malah pakai pistol segala ya mana tahu dari mana terus ini juga ceritanya ada orang yang curi sandal diadili massa dibakar tuh hanya curi sandal saja dibakar apa tidak sadis? Tapi kriminal juga makin sadis mau ambil gelang eh sama tangan-tangannya dipotong nah nah ini berhubungan dengan apa yang Bapak bilang tadi sakit psikis…”

Aku tak tahan lagi.

Badanku gemetar. Gempa mengguncang. Magma kental terdorong sampai mulut kaldera. Buncah. Muncrat. Menggelegar. Bantuan terlempar. Kisaran uap beracun dan abu melingkup langit. Bergulung-gulung. Lava pijar menjalar. Mambakar. Kepala hingga sumsum tulang belakang tersiram. Beludak lewat mata.

Aku bangkit.

Aku hampiri laki-laki yang bergerombol tak jauh dari situ. Aku bisiki salah satu dari mereka. Dia terbelalak. Dia perhatikan orang tua yang masih belum menyadari ketidakhadiranku. Bibirnya masih gerunyam. Sesekali tangannya bergerak-gerak. Kerutan di pinggiran mata laki-laki itu mengerap. Kulit pipinya turun naik seiring mulut yang tidak putus bicara.

Laki-laki yang kubisiki itu membisik pada laki-laki lain di sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya lagi. Berantai. Tak lama. Orang-orang seperti aliran sungai lava mendidih. Melancap deras. Melindas. Mereka santroni laki-laki tua itu. Mereka berteriak. Mengumpat. Menyerbu.

“Orang itu…”

“Bom! Bom! Orang itu bawa bom.”

Dimuat di Pikiran Rakyat 4 April 2002

Published in: on 08/15/2008 at 7:57 am Leave a Comment
Tags: , ,

LASTRI

Perempuan berambut gelombang itu terus memampatkan paru-parunya. Serbuk-serbuk udara terus dihisap walau dadanya sudah terasa sesak. Getar jantungnya seperti hujan musim pancaroba. Tak berirama. Beberapa helai rambut berceceran di atas jerami basah. Pipi sepucat bunga randu ditetesi embun kemerahan mendari ujung-ujung lalang yang terkulai.

Hari belum lama rekah.

Benar kan, Lastri menepati janji.

Perempuan itu tersentak.

“Lastri?”

Ujung bibir anak kecil itu menciut. Membentuk senyum. Deretan giginya yang sebagian ompong dan hitam tampak. Lastri kelihatan segar dengan rambut basah sebatas telinga sehabis keramas. Ia menggelosotkan kaki sepanjang pematang. Menghampirinya. Tas kecil yang tersampir di bahunya berayun. Wanginya seperti tanah basah.

Lihat, ni. Sudah dijahit sama Ibu… sambil marah-marah. Lastri!

Lastri menggerak-gerakkan telunjuk menirukan Ibunya.

Lastri! Jangan main di sawah lagi. Di sana banyak paku. Banyak rumput domdoman. Banyak… Banyak… Oh iya. Banyak keong yang bikin gatal. Kamu kan kalau sudah gatal-gatal ributnya minta ampun. Bikin repot satu rumah. Dan jangan biasa ngomong sendiri, banyak genderuwo lewat, nanti kalau kesambet… Eh, Ibu aneh ya? Masak orang-orang udah sampai ke bulan masih bilang ada genderuwo. Lastri tertawa. Enggak boleh ngomongin orang ya? Enggak kok. Lastri sayang sama Ibu. Ikut duduk di sini ya?

Lastri duduk seenaknya di atas rumputan. Rok merahnya melembab. Bola matanya yang bulat berkerjapan menembus kabut. Langit masih merah. Awan abu-abu berlintasan menjauh. Mencari malam di tempat lain. Angin pagi membuat suara lirih dari sisa batang-batang padi yang bersintuhan. Sampai juga di telinga perempuan itu dengung puluhan bebek yang berbaris rapi di kejauhan.

Ji, ro, lu, pat… kiri…, kanan kiri… Lastri berteriak. Para pengangon melambaikan tangan. Lastri tertawa kegirangan.

Sekarang saya bisa merasakan seolah semuanya menggenang.

“Lastri mau ke mana?” Suara itu keluar lamat-lamat dari bibir yang telah merapat. Perempuan itu sendiri pun hanpir tidak bisa mendengarnya.

Pori-porinya membesar melawan dingin. Udara beku. Perempuan itu menggerakkan kepala pelahan. Kulit bahunya merasakan gesekan tanah. Dan dadanya telah benar-benar sesak. Perempuan itu berusaha menegakkan telinga. Menajamkan pendengaran. Ngilu seketika membekap. Kepala yang nyaris terangkat kembali menghantam tanah. Kelopak matanya sempat terbuka. Hanya jejak sepatu. Ada juga kepakan sayap capung yang bersliweran. Lantas dinding gelap yang sukar ditembus.

“Ke mari, Bapa… temani saya. Mereka telah pergi. Saya takut…” Bibirnya lagi bergerak-gerak.

Ruang dalam kepalanya seperti berpintu. Banyak sekali pintu. Satu pintu terbuka. Satu peristiwa datang. Pintu lain terbuka. Peristiwa lain datang. Lalu tidak hanya satu pintu yang terbuka, kadang-kadang beberapa pintu sekaligus terbuka. Peristiwa-peristiwa berloncat-loncat. Tapi semaunya berputar.

Peristiwa itu seperti baru beberapa menit berlalu.

Masih digelayuti penat dan guncangan kereta semalaman, Lastri duduk di atas kursi kayu tua. Sepiring singkong rebus dengan irisan gula aren mengepul di hadapannya. Ibu hanya diam. Tangan perempuan yang semakin ringkih itu membereskan bungkusan oleh-oleh yang dibawanya. Berkali Ibu melakukannya. Sekedar kegiatan mengusir ketegangan. Laki-laki yang telah dimakan usia dan matahari itu, mengisap dalam-dalam pipa tanduknya. Asap seketika menebar. Separuh menyesakkan dada Lastri.

Semuanya terserah Lastri. Tapi jangan lupa, kamu tidak bisa mengelak dari usia. Biar kamu sekolah tinggi, sudah bisa cari makan sendiri, orang-orang tetap lihat kamu anakku. Kami hanya bisa mengingatkan, memberi tahu, tetapi tetap semua keputusan ada di tanganmu. Ya, semuanya terserah Lastri. Kedewasaan semoga menyertai usia dan pilihanmu…, kata Ayah. Tak jarang ayahnya sedingin muka altar.

Lastri menggigit bibir. Semua terserah padanya. Ayahnya selalu begitu. Selalu saja itu dijadikan senjata pamungkas. Tapi apakah dapat mengingkari sejarah. Ia ingin menangis. Mendorong gumpalan yang sedang menyambut kerongkongan. Bola matanya yang bulat beriak.

Lastri capek lho, Pak. Iya kan, Nak? Istirahat dulu. Ibu sudah siapkan teh manis kental dari tadi, tapi mungkin sudah dingin. Waktu kamu telepon dari stasiun tadi, Ibu langsung godok air.

Ibu masih seperti dulu. Demikian paham dan mengerti. Terkadang.

Bukan soal mudah, Bu, katanya, ada beberapa yang harus dibenahi sebelum melangkah. Aku bukan tidak mempedulikan Ibu dan Ayah. Bukan. Bukankah yang kita inginkan adalah bahagia yang abadi? Bukan tanpa alasan Romo Purnomo selalu bilang, tidak ada perceraian itu karena Bapa…

Tangannya berhenti mengeluarkan pakaian dari dalam tas. Lastri ingat laki-laki itu dan beberapa harinya yang sepi. Tidak. Aku tidak kesepian dan sendiri. Aku hanya butuh waktu yang panjang untuk belajar, gumam Lastri.

Ibu ngerti, tapi…

Lastri diam. Ia menyelam dalam keteduhan mata Ibu. Ingin benar rasanya ia bergegas menyelesaikan hal-hal yang mengganjal di antara mereka. Lastri telah menaiki kereta. Ia menahan kantuk diiringi bulan yang menyabit langit dari bingkai jendela kereta. Rindu terus menguntitnya menuju kota di mana jarak ternyata telah terentang. Kota yang beruang dan ada seorang laki-laki yang pernah di setiap petang menggenggam buket melati. Laki-laki itu cermin yang setiap saat mengingatkan. Rindu menguntit Lastri dalam perjalanan pulang. Pulang?

Lastri datang dan mengetuk pintu. Ia berharap dapat bicara berdua saja seperti dulu. Tapi ia sekarang sedang mengetuk pintu. Lastri hanyalah tamu. Apa pulang kalau begitu?

Bukan soal mudah, Bu, gumamnya lagi, mungkin yang dibutuhkan lebih banyak lagi kesabaran dan pengertian. Lebih banyak lagi…

Lastri memiliki tumpukan kesabaran dan kepercayaan yang teramat. Kadang, ketika jenuh dan tak tahu, ia mengagumi dirinya sendiri untuk hal itu.

Semuanya berlalu cepat. Demikian cepat dan tak terkejar.

Bukan soal mudah.

Mata perempuan itu masih terpejam. Matahari mulai mengunjungi. Semakin tinggi. Angin menyusup di antara dinding yang terbuat dari bilahan-bilahan bambu. Sobekan panjang di bajunya yang lembab membuatnya mengkerut. Ia merasa kecil dan dingin. Di luar senyap. Tak ada kehidupan setelah panen, ia hapal betul itu, kecuali paruh-paruh bebek yang bercipuk dalam genangan.

Kamu tahu aku. Apa mungkin? Lastri terisak di gagang telepon.

Ya. Ya. Tapi soalnya ini bukan persoalan antara kita…

Ya aku tahu. Aku mungkin hanya butuh penegasan untuk membenarkan semua ini, potong Lastri.

Kamu jelas tidak salah. Bukan sebuah pembenaran…

Kamu lama mengenalku, mungkinkah aku seperti yang dikatakan mereka? Tanya lastri lagi.

Hey, hey, ini bukan persoalan antara kita. Bukan. Sekarang apa rencanamu? Jawab suara di seberang kabel.

Aku rasa apa yang aku lakukan bukan untuk kepentingan pribadi. Aku tidak dapat apa-apa dari semua ini. Kamu tahu itu. Tapi mereka mengatakan aku… Mereka bilang aku…

Laki-laki di seberang kabel telepon menunggu.

Aku… Lastri terisak.

Katakan…

Mereka bilang aku PKI… Isak Lastri semakin mengeras.

Anjing! Mudah betul untuk membunuh orang. Tinggal bilang turunan PKI, bles… kamu dapat disingkirkan. Bukan salahmu. Mereka hanya butuh kambing hitam. Aku kan pernah bilang. Lalu?

Aku hanya mengatakan apa yang kukira benar dan aku tidak pernah memaksakannya. Aku tidak mau memaksakan. Aku hanya mengajak mereka bicara baik-baik, bukan seperti dua kelompok yang bermusuhan. Aku bukan hendak…

Nining berhenti memijit tuts-tuts keyboard. Ia memandang dari balik komputer. Sebagai kawan yang merasa dekat, Nining paham dan sekaligus tidak mengerti kebatuan Lastri yang dirasanya hanya mempersulit diri. Dia tidak sepenuhnya bisa mengerti karena dia tahu Lastri dapat memilih jalan lain. Semuanya bisa dihindari, kalau ia mau. Lastri cerdas dan baik. Ia dapat keluar kerja dan tanpa kesulitan mendapatkannya lagi. Dan mungkin lebih baik. Beberapa kali telah dikatakannya, tapi Lastri hanya menggeleng dan tersenyum. Nining tak habis mengerti.

Nining juga sudah mengingatkan Lastri tentang mata Okita yang tajam memandang Lastri setelah angket itu disebar. Juga tentang kabar pertemuan di ruang B3 yang berkali menyebut nama Lastri. Juga tentang Pak Mamat yang gelisah. Tapi Lastri hanya diam dan terus berjalan. Nining hanya bisa diam. Ia menghormati pilihan Lastri. Juga karena ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Aku ingin ketemu. Aku lelah di sini. Aku merasa dikepung. Sejujurnya aku ingin pergi, benra-benar pergi… Tidak. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Mereka hanya minta apa yang menjadi hak mereka. Mereka… Tega betul. Aku hanya… Lastri tidak dapat menahannya lagi. Ia hanyut seperti gedebong pisang mengikuti arus.

Gagang telepon berayun. Wajahnya telungkup di atas tumpukan kuitansi-kuitansi upah.

Nining menghampiri. Tangannya mengusap rambut Lastri. Hanya demikian.

Perempuan itu berusaha menggerakkan badan. Sia-sia. Hanya perih yang semakin. Jari-jari perempuan itu merayapi paha dan selangkangannya. Darah setengah kering. Kepala bertambah berat.

“Bapa… Hanya ini. Terima kasih untuk telah mencoba…” Perempuan itu berbisik. Suaranya ditelan gonggongan anjing kampung mengendus anyir.

Ning, aku tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Tidak untuk sesuatu. Semoga kamu percaya. Tidak untuk sesuatu seperti yang mereka bilang. Aku merasa ada yang bisa kubuat untuk yang lain. Mungkin kecil tapi aku berharap dapat berarti. Dapat berharga. Tidak untuk sesuatu, Ning.

Kamu tahu akibatnya, Ti. Dan itu, mungkin bukan hanya pemecatan. Saya mencium ada sesuatu yang mengerikan. Saya merasakannya…

Aku hanya mencoba apakah kaki ini bisa melangkah. Apakah bibir ini bisa berkata-kata. Hanya itu. Jesus juga tahu apa akibatnya tapi Dia, kamu tahu, terus mendaki. Terus memanggul kayu salibnya sendiri.

Hei, ngomong apa sih?

Aku dipanggil dewan nanti sore setelah meeting. Kalau aku dipecat, pinjam uang untuk bayar teh botolnya Pak otong ya…

Sudah ah. Nining tergidig.

Tapi siapa dapat menebak suratan. Siapa sangka kebersamaan selama ini mendekati titiknya.

Mata perempuan itu tertutup kain. Tak ada sinar yang dapat masuk terlebih hari telah demikian larut dan awan hitam sedari tadi menggantung. Bagian keningnya memar. Ia susah bernafas. Ada darah mengering di sepanjang lorong hidungnya. Sepotong besi dingin mendorongnya agar cepat menapaki pematang. Lengan kirinya ditarik. Dengan langkah digayuti penat, bibirnya hanya menggumamkan do’a Maria tidak putus-putus. Kaki yang tanpa alas itu merasakan tusukan duri putri malu dan ranting-ranting.

“Maafkan Bapak, Ti…” Bisik laki-laki setengah baya tertunduk di sampingnya.

Ia paham. Kepalanya berusaha ia anggukkan. Ia ingin bilang, bahwa ia paham. Tapi tak satu kata dapat diucapkan bibirnya yang sobek. Tak satu jerit yang bisa keluar ketika besi menghantam rusuknya berulang. Tangannya pun kaku, tak dapat membendung darah ngocor tak henti-henti dari selangkangannya. Tak ada titik air yang bisa keluar dari matanya ketika puntung-puntung rokok membenam dalam payudara. Tak dapat lagi kepalanya yang berdarah ditikam pecahan botol memanggil Lastri kecil, Ayah, Ibu, Nining, dan laki-laki terkasih itu. Padahal ia sekedar ingin memberi mereka semua kecupan. Perempuan itu hanya melihat tangan yang seolah datang dari kegelapan menutup halaman-halaman waktu.

“Bapa, hanya ini… Terima kasih sudah diberi waktu untuk mencoba…”

Siapa dapat menebak suratan? Siapa sangka kebersamaan selama ini mendekati titiknya. Siapa duga satu waktu berjarak hanya sekian mili dari perpisahan?

Nining tidak.

Pagi itu Nining dijemput. Mereka minta ia mengenali Lastri. Nining tidak tahu tubuh siapa yang sedang dilihatnya. Kecuali kalung salib dari perak yang telah rapat terbakar memang milik Lastri.

Tapi siapa dapat?**

Dimuat di Pikiran Rakyat 9 Desember 1997

Humas PT: Jalan di Era Citra

Pagi itu, saya bertemu tulisan Elvinaro Ardianto, “Strategi Humas PT di Era Kompetisi” (Pikiran Rakyat, 4/5/2007). Pertemuan itu membangkitkan ingatan ketika saya kuliah di Jurusan Hubungan Masyarakat (humas). Mungkin, sebabnya karena tulisan itu tidak banyak berbeda dengan yang pernah saya dapatkan sekian belas tahun lalu di bangku kuliah. Hampir semua bagiannya menuliskan hal-hal yang ideal-teoritis-abstrak tentang definisi, aktivitas, fungsi, karakteristik, dan aktivitas humas, juga hal-hal praktis seperti bagaimana seorang pejabat humas berkomunikasi secara efektif.

Saya sepakat bahwa sekarang ini, yang dinamai Elvinaro sebagai era kompetisi, memang era pencitraan. Begitu banyak hal hadir dalam keseharian hidup kita. Begitu banyak hal datang dan pergi secepat kilat di langit. Mulai dari bantal yang kita gunakan, warna rambut, sampai dengan bagaimana cara kita makan. Tawaran-tawaran itu merasuki dan memasuki kita melalui banyak sekali cara. Mereka hadir pada obrolan di kantin, melalui papan iklan, selebaran di jembatan penyeberangan atau media massa. Kehadirannya yang nyaris tidak mengenal ruang dan waktu itu memungkinkan kesadaran kita jadi tidak awas. Hingga, mungkin, akhirnya kita asing dengan apa-apa yang kita kenakan, lakukan, atau katakan.

Dan ternyata bukan hanya kita, kondisi demikian juga menyebabkan suatu lembaga produksi—baik barang maupun jasa—harus terus terjaga. Untuk dapat menawarkan produknya, agar menonjol atau jadi keinginan, mereka dituntut membedakan dirinya dengan lembaga lain. Sepatu yang satu menjadi berbeda karena logo check-nya. Apartemen yang satu menjadi lain karena musik klasik di ruang depannya. Umum sudah diketahui kalau akhirnya yang ditawarkan tidak sekadar nilai guna barang atau jasa tapi lebih utamanya adalah citra. Makna benda atau jasa dilekatkan dan melekat pada citra. Demikian juga dengan perguruan tinggi (PT).

Terlebih setelah, secara pelahan tapi pasti, pemerintah melepas tanggung jawabnya dalam pendanaan pendidikan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dengan menjadikan PTN sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN). PTN dituntut mulai belajar “berenang di samudra yang luas”. PTN “harus mampu bersaing agar tetap bisa meraup mahasiswa sesuai kapasitas yang ada, tidak lagi mengandalkan uang subsidi pemerintah dalam mengelola, tapi dituntut untuk mandiri, setidaknya ini berdampak terhadap uang kuliah calon mahasiswa yang cukup mahal”. Karenanya, peran humas memang, seperti yang ditawarkan Elvinaro, “bukan suatu yang bisa ditawar-tawar lagi atau ditunda, tetapi sudah masuk kepada skala prioritas utama dari berbagai program perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan”.

Gagasan yang ditawarkan Elvinaro, saya kira tepat. Tawaran itu mungkin datang dari pemahaman atas peran humas dan pengalaman mekanis penulisnya di lembaga pendidikan. Sebagai sebuah lembaga, PT memang tidak beda dengan lembaga lain bentukan masyarakat modern yang “ramai”, satu ranah yang sarat dengan pertemuan (pertarungan?) kepentingan-kepentingan. Dan kemampuan PT, sebagai satu ranah yang turut andil dalam memproduksi nilai-nilai dominan dan “pencetak” agen dari kuasa tertentu, tidak lagi diragukan.

Seingat saya, sedari kanak kita seperti diajarkan bahwa dengan berpendidikan tinggi, kita berpeluang lebih masuk dalam struktur masyarakat, yang berarti peluang lebih untuk memiliki modal ekonomi, sosial, dan/atau budaya. Maka sangat wajar kalau kemudian lembaga pendidikan jadi taklebih sebagai ruang investasi ekonomi yang menguntungkan. Mahasiswa seperti kulit lembu dalam sebuah pabrik, bahan mentah yang siap diolah jadi sepatu. Kehadirannya (hanya) untuk memenuhi kebutuhan pragmatis dan parsial dalam struktur. Dalam kondisi demikianlah humas PT sebagai pejabat “bidang penyebaran informasi dan komunikasi mengenai kegiatan organisasi atau lembaga yang diwakilinya untuk disampaikan kepada komunikan (publik)” dan “merekayasa opini publik sehubungan dengan keinginan-keinginan dan tujuan utama dalam menciptakan citra dan reputasi positif”, bekerja.

Struktur yang memberhalakan ekonomi, menuhankan uang, bukan sebuah ranah yang ramah. Untuk terlibat di dalamnya, PT (dalam kasus ini humas) harus bekerja lebih. Karena ia, mau tidak mau, bersaing dengan tawaran wisata, kartu kredit, atau jenis telepon genggam terbaru. Itu makanya, peristiwa kemunculan surat pembaca di salah satu koran, satu hari setelah tulisan Elvinaro muncul bisa jadi preseden buruk bagi humas. Surat itu dari mahasiswa Fikom Unpad yang mengeluhkan bahwa “kondisi perpustakaan yang tidak memuaskan. Buku-buku yang ada di Perpustakaan Fikom sangat tidak lengkap”. Dengan kehadiran surat pembaca itu, sebagai contoh, tujuan humas untuk “peningkatan, pemeliharaan, dan peningkatan citra (termasuk reputasi)” lembaga mungkin akan seperti kaki langit yang didekati, semakin menjauh. Karena strategi kehumasan dalam pelaksanaannya bukan hanya terlihat pada program dan kegiatan lembaga kehumasannya, tapi juga melekat pada satpam, dosen, tukang parkir, mahasiswa, pengelola kantin, WC, dan sebagainya. Maka agar konsisten, strategi humas PT idealnya juga memperhatikan hal-hal tersebut. Selain itu, humas PT juga punya kemampuan untuk mengelaborasi perbedaan yang khas dan spesifik yang dipunyainya. Sebagai contoh Unpad, karena letak geografis dan konteks sosialnya, punya problematik yang tidak sama dengan ITB atau UPI. Berdasar perbedaan-perbedaan spesifik inilah yang kemudian mendasari strategi humas yang khas Unpad. Dengan begitu kerja humas PT “profesional” dalam menjual dirinya dan leluasa (tidak tanggung-tanggung) turut bertarung di era kompetisi.

Sebenarnya, saya masih percaya, PT tidak seperti laboratorium dokter Frankenstein. PT berpeluang jadi ranah subur persemaian individualitas dan solidaritas sosial di muara banyak kepentingan itu, sebuah ranah bagi proses pemerdekaan potensi kemanusiaan berkembang. Yang darinya lahir individu-individu peka bukan monster penghapal jargon atau sekadar “teknisi” andal. Kepercayaan itu lahir karena lembaga pendidikan memiliki struktur yang relatif longgar—dibandingkan struktur birokrasi negara—yang disebabkan kontradiksi dalam dirinya. Kontradiksi yang terjadi karena tarikan kepentingan reproduksi nilai-nilai dominan dalam struktur, yaitu pengalokasiaan sumber daya (manusia), dan idealisasi pendidikan untuk melahirkan individualitas. Hanya saja, untuk bisa demikian PT harus lebih dulu punya kejelasan orientasi dan posisi serta ketepatan strategi. Dengan begitu PT, melalui strategi kehumasan, punya posisi tawar yang tinggi dalam arena (pertarungan) kepentingan-kepentingan itu.

Kalau pun tidak, posisi tawar ini masih dimungkinkan kalau satu atau beberapa unsur saja dalam PT, mungkin mahasiswa atau dosen atau pejabat humas, masuk dalam (meminjam istilah Bernstein) kelas pengganggu (interrupter class). Mereka menjadikan modal budaya yang dipunya ke dalam bentuk perlawanan-perlawanan kecil, yang mengarah pada komitmen kehidupan bersama yang lebih baik. Tapi apa masih ada? Semoga dan wallahu’alam bishshawab.**

Published in: on 08/10/2008 at 9:34 am Leave a Comment
Tags: , , ,

(LAGI-LAGI) SOAL KOMITMEN

“Penguasa informasi adalah penguasa dunia”, taksalah untuk dunia kita kini. Terlebih, mengamini Edgar Morin, bahwa masalah warga milenium ini adalah akses informasi dan memeroleh keterampilan untuk mengartikulasikan dan mengelola informasi tersebut dengan kesadaran pada konteks, globalitas, multidimensionalitas, dan kompleksitas. Kesemua itu jelas ruang kajian komunikasi yang berarti peluang lembaga pendidikan ilmu komunikasi. Lalu bagaimana lembaga pendidikan ilmu komunikasi bersikap?

Jawabannya saya temukan pada tulisan Elvinaro Ardianto dan Suwandi Sumartias di Pikiran Rakyat beberapa waktu lalu. Kebetulan keduanya dosen Fikom. Kebetulan keduanya mempersoalkan eksistensi ilmu komunikasi yang dirasa signifikan karena ilmu komunikasi “memiliki kontribusi yang luas dalam berbagai pemecahan fenomena sosial dan kemasyarakatan, termasuk kenegaraan atau pengambil kebijakan” (Elvinaro, 5/6/08).

Dalam tulisannya, Elvinaro merumuskan—dan diurai Suwandi (17/6/08)—sejumlah fenomena eksistensi ilmu komunikasi. Yaitu 1) pencitraan pada masyarakat yang masih communication is art, 2) profesi komunikasi sebagai open profession, 3) tanpa basic yang kuat banyak masyarakat mengambil pendidikan lanjutan, 4) masih dipandang sebelah mata oleh pengambil kebijakan, 5) lembaga pendidikan tinggi ilmu komunikasi masih banyak mencetak tenaga generalis bukan spesialis, dan 6) menjamurnya lembaga kursus yang orientasinya lebih ke profit. Dan untuk mengatasi fenomena tersebut, di antaranya, diusulkan peninjauan kurikulum atau silabus yang mencerminkan communication is science, juga sertifikasi dan lisensi dalam profesi komunikasi.

Fenomena yang dirumuskan di atas, beranjak dari commonsense: seni dan ilmu, generalis dan spesialis, open profession dan closed professian. Pandangan tersebut bisa dikata umum di masyarakat kita, tapi tidak umum bagi para intelektual. Pandangan yang memakai oposisi biner tersebut memang populer di kalangan tertentu, tapi hanya sampai pertengahan abad ke-20. Hal itu konsekuensi logis gayutnya lembaga pendidikan pada paradigma industri. Kata kunci paradigma industri yang merupakan lokomotif kapitalisme adalah produktivitas dan efesiensi tinggi. Caranya dengan sistem fordisme, spesialisasi.

Kini, dominasi paradigma industri kian mencengkeram. Pendidikan sebagai alat sosialisasi dan kaderisasinya pun terasa takterelak. Pendidikan yang demikian mereduksi pengetahuan dari yang menyeluruh menjadi bagian-bagian (spasial). Sain, filsafat, seni, dan ilmu humaniora; dibelah-belah. Nalar yang satu dianggap lebih dari nalar yang lain. Jurang antara objek-konteks-entitas semakin dalam. Pendidikan jadi proses pengerdilan kemampuan untuk melihat yang global dan yang esensial. Maka turunannya adalah hidden curicullum yang melembagakan usaha pengembangan kemampuan “bertahan hidup” bukan “belajar hidup bersama”. Manusia didik jadi manusia berkeping-keping, yang dikata YB Mangunwijaya, akan semakin tidak tahu dari tangan pertama tentang perkara keseluruhan. Pendidikan sekedar pelembagaan cara pandang atas hidup dalam perspektif ekonomi dan dipersempit lagi menjadi lapangan pekerjaan.

Bila pendidikan berhasil mengelak dari paradigma industri dan mengarah pada keutuhan manusia—kemampuan melihat sesuatu dalam struktur dan jalinan yang lebih luas—menjadi seorang generalis atau spesialis, bukanlah hal yang perlu diperdebatan. Sejumlah praktisi komunikasi, sebagai misal Goenawan Muhamad dan Wimar Witoelar, bukan jebolan lembaga pendidikan ilmu komunikasi. Tapi yang sudah mereka kerjakan saya kira sumbangan besar bagi komunikasi sebagai industri. Dengan logika itu, tidak penting apakah seseorang alumni Fikom atau bukan, tapi bagaimana komitmennya pada apa yang dikerjakan. Jadi soalnya adalah komitmen.

Komitmen seorang pendidik, idealisasi saya, adalah mereka yang memiliki kecintaan dan penghormatan pada keilmuan. Sederhananya, dalam berlaku—termasuk ketika menulis—menggunakan cara kerja ilmiah yang di antaranya mampu berpikir sistematik. Berpikir sistematik membantu kita mengidentifikasi persoalan dengan relatif jernih. Identifikasi itu mengantar pada pengenalan lebih atas kompleksitas persoalan. Dengannya kita bisa membedakan mana fenomena ilmu komunikasi di tataran teknis dan mana fenomena yang mendasar.

Dengan komitmen ideal di atas, merujuk pada Suwandi, persoalan “intervensi” bidang kajian nonkomunikasi di bursa lapangan kerja yang diasumsikan milik alumni ilmu komunikasi, kiranya keluar jalur. Buat saya, hal itu persoalan persaingan teknis bukan persoalan mendasar ilmu komunikasi. Toh, dengan tidak banyaknya alumni pendidikan ilmu komunikasi—misalnya di periklanan dan stasiun televisi, yang masih banyak iklan tidak sensitif jender atau sinetron yang mematikan nalar atau ninabobo kuis berhadiah uang—pendidikan ilmu komunikasi terhindar dari “dosa sosial”. Tapi lepas dari anekdot itu, mungkin penting didiskusikan ulang mengenai komitmen lembaga pendidikan ilmu komunikasi. Dengan kejelasan komitmen—tanpa meremehkan masalah laten di tubuh pendidikan kita—lembaga pendidikan ilmu komunikasi, seperti Fikom, dapat melihat lagi banyak hal. Misalnya, komposisi jumlah mahasiswa-dosen, perpustakaan, dan kurikulum. Apakah itu sudah memungkinkan sivitas akademianya mengenali potensi kemanusian dan berkembang?

Walau mungkin diskusi ini terlihat usang—14 tahun lalu, AS Achmad di Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, telah khusus menulis paradigma ilmu komunikasi di perguruan tinggi—tapi kini, rasa-rasanya diskusi semacam itu perlu. Minimal, untuk saya pribadi, membiasakan diri mengidentifikasi persoalan dan mendudukkannya dalam konteks yang lebih kompleks dan lebih luas. Mudah-mudahan, identifikasi dengan cara tersebut akan melahirkan usulan yang jelas (tuturan sistematis dan dimengeri), radikal (mengakar), tidak terjebak jargon (bahasa yang abstrak). Setidaknya, darinya kita bisa meminimalisir satu per satu masalah hidup bersama. Mungkin diskusi itu juga membuat pengalaman saya, yang kebetulan hampir 8 tahun berada dekat satu lembaga pendidikan tinggi negeri di Jatinangor, tidak lagi miris. Sebagai misal, seorang mahasiswa Fikom yang menggunakan perspektif feminisme untuk skripsi tapi belum bisa membedakannya dengan perspektif jender. Atau misal lain, mahasiswa yang akan menulis skripsi Ayat-ayat Cinta tapi tidak tahu kalau buku itu novel.**

PUISI DAN KEGILAAN

“Apa yang dikhawatirkan dengan kegilaan karena, sebenarnya, semua kegilaan itu diwadahi dalam kesenian,” ungkap Nirwan Dewanto pada Sabtu, 12 Maret 2005, lalu. Ungkapan itu muncul di diskusi “Jurnal (dan) Budaya Kita” yang juga mendudukkan Bambang Sugiharto, dosen Filsafat Unpar, sebagai pembicara. Dalam diskusi yang diadakan Kelompok belajar Nalar Jatinangor, Jurnal Kalam, dan CCF Bandung itu, ada beberapa hal penting yang sempat terlontar. Diantaranya mengenai naratologi, teori dan kritik sastra, hubungan sastra dan industri, sistem pengajaran, bahasa, juga rasionalitas dan irasionalitas.

Secara langsung apa yang diungkap Nirwan di atas tidak berhubungan dengan makalah yang dibacakannya, “Pembacaan Dekat atau Jauh?”, juga pengumuman pengunduran dirinya sebagai Ketua Jurnal Kalam. Benny Johannes, dosen STSI Bandung yang siang itu mengenakan kaos dan topi hitam, yang jadi pemicu. Benny mengatakan bahwa sekarang ini kita sulit mengelak dari industrialisasi tulisan. Akibatnya, kita tidak bebas berhadap-hadapan dengan tulisan karena ada campur tangan dari pihak di luar tulisan, seperti legitimasi sosial atau otoritas penulis atau pun ambisi untuk menjadi pengetahuan. Itu makanya, untuk dapat bertahan dari reifikasi maupun peng-epistemologi-an, tulisan harus berperang melawan rasionalitas dengan memproduksi sebanyaknya mungkin irasionalitas. Cara yang ditawarkan adalah dengan menggunakan bahasa, yang dikatakan Benny, sebagai bahasa schizophrenia. Bahasa demikian memungkinkan hal-hal yang nonsense, tidak lazim, dan yang tidak masuk akal dapat hadir; yang pada akhirnya tulisan tidak akan terjebak dalam gerusan industri.

Menanggapi lontaran Benny, Bill Watson—pengajar di Kent University, Inggris, dan School of Bisnis Management, ITB, yang hadir sebagai peserta—membandingkan dengan irasionalitas tersebut dengan kemunculan Dadaisme di pertengahan tahun 20. Dikatakannya lagi bahwa, irasionalitas mungkin penting pada saat itu, tapi masih harus dipertanyakan lagi kepentingan kehadirannya sekarang. Mengingat dadaisme sendiri sebagai sebuah aliran hanya mampu bertahan 5 tahun.

Bambang yang memulai diskusi dengan pembicaraan sistematis tentang “Dilema Mental Manusia Indonesia, Antara Budaya Pra-literer, Literer, dan Pasca literer”, berpendapat takjauh dari Nirwan. Dia sulit membayangkan bahasa atau sastra yang irasional. Sebagai contoh, dia sulit membayangkan seseorang yang menulis apa pun dan tanpa aturan yang jelas, lantas menamakannya hasil tersebut sebagai sastra. Karena, menurutnya, kita sulit mengelak dari rasionalitas atau penalaran sebagai jembatan menuju pemahaman. Irasionalitas sendiri baru dapat dipahami atau bermakna kalau dirumuskan dalam bahasa yang rasional.

Tapi Bambang sepakat apabila bahasa yang irasionalitas adalah sejenis bahasa yang “longgar”, yang tidak mesti ketat. Puisi adalah contoh dari irasionalitas yang dimaksud. Puisi dengan metafor adalah bahasa “yang irasional”, yang mencoba mengungkapkan kompleksitas realitas atau pengalaman. Puisi memberi bentuk pada sesuatu yang tidak berbentuk atau sulit dibentuk. Dengan begitu sesuatu yang kompleks atau simultan setidaknya jadi bisa dipahami. Di situlah letak kekuatan puisi.

Nirwan menutup diskusi mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa puisi adalah contoh bentuk kegilaan, kalau irasionalitas identik dengan kegilaan, yang diwadahi dengan sangat baik. Karena kalau tidak diwadahi dengan baik maka kita tidak mengerti apa kegilaan itu dan kita tidak bisa mengalaminya. Lewat ordering atau penataan, pengalaman dapat dinyatakan kembali dalam wadah tertentu untuk bisa terus hidup, lepas apakah pilihan wadah tersebut teratur (konvensional) atau tidak teratur. Walaupun pada dasarnya, apakah teratur atau tidak teratur, keduanya memiliki aturan main sendiri. Dan untuk itu industri, pada dasarnya, bersifat terbuka untuk bentuk kegilaan yang mana pun.

Tapi yang penting dari ordering atau penataan terhadap satu jenis atau sejumlah pengalaman dalam bentuk yang baru, metaforik, adalah untuk membangkitkan kembali (rasa) pengalaman kita terhadap dunia ini. Karena pencarian pemahaman atau kebenaran, seperti yang disitir Bambang dari Goenawan Mohamad, adalah sebuah percakapan.

Pun demikian dengan diskusi yang berakhir menjelang senja pupus itu, lontaran mengenai irasionalitas hanya satu bahan yang mungkin bisa jadi awal dari sebuah percakapan.**