Bayangan, seperti kumpulan cerita pendek Iwan, tegak lurus dengan langit. Matahari membakar kulit. Tepat di tengah-tengah benda yang saban hari helai rambutnya semakin jarang. Pinggiran pertokoan tidak meneduhi. Kios pembuat stempel berebut dengan penjual koran dan teh botol.
“Hai.”
“Halo Bos. Koran? Atau yang ini baru datang…”
“Bisa saja kau. Masak tengah hari bolong begini dibilang baru. Ada kabar apa Ben?”
“Biasalah. Presiden jalan-jalan ke Australia, deeper protes, massa Banyuwangi bikin macet. Jakarta masih banyak yang demo…”
“Heh, jauh amat dari Australia ke Banyuwangi. Yang deket-deket aja kawan.”
“Oh itu. Dengar berita kemaren?”
“Berita apa?”
“Seru Bos. Lebih seru dari koran.”
“Oya?”
“Kemaren orang Palembang…”
“Ribut lagi sama anak Karapitan? Biasa kan…”
“He eh. Ributnya mah rutin. Tapi kemaren pas ada operasi Tibum. Bareng sama yang belanja awal bulan. Nambah lagi yang ambil pensiunan. Jalanan banjir. Pinuh.”
“Terus?”
“Ya seru. Kejar-kejaran. Ucing-ucingan. Ka Lengkong. Alun-alun. Dalem Kaum. Kota Kembang. Kapatihan. Kebon Kalapa. Balik deui ka dieu. Nu keur belanja jejeritan. Took-toko langsung tutup. Mobil-mobil ngacir. Taksi ngungsi. He eh. Jiga pilem eksen. Ngan teu aya mobil nu gugulitikan hungkul. Batu? Geus teu usum. Sekarang yeuh Bos, ribut begitu mah pada make clurit. Parang. Samurai. Sukur-sukur aya pestol… Satu? Sepuluh delapan ratus. Ada dua ratus? Ya. Nuhun Pak… Di sini, he eh, depan sini, darah ngalayah. Di mana-mana getih. Seru. Rame . naon? Tong salah. Aing oge miluan. Nya ikutan mukul we. Teuing saha. Pokokna ada yang lewat habeg. Nyenggol saeutik babug. Lumayan keur represing. Polisi? Aya meureun leuwih ti sapuluh mobil mah. Trek garede nu kacana diteralisan beusi. Katanya Brimob ti Jatinangor. Ujang Codet… ma’ enya teu nyaho. Itulah preman nu jidatna baret. Nu jangkung. Gondrong. Hideung. Ehm…nu pipina loba bekas jerawat. Biasa nongkrong di jembatan? He eh. He eh. Nah manehna beunang. Kena.”
“Oya?”
“Ada Anisa?”
“He eh. Tapi tadi rada pagian geus ka tingali nagihan. Gancang geuning proses verbalna… Apa? Cari apa Neng?”
“Anisa.”
“Tahu proses verbal segala.”
“Ah si Bos. Anisa? Belum datang Neng. Baru besok Jumat.”
“Neng. Neng. Ini saja. Baru. Arina. Sama-sama Anisa, cerita juga. Lebih bagus malah. Ada cerita…”
Sementara Beben sibuk membual, aku membuka suplemen koran lokal yang konon beroplag paling besar. Selintas melihat-lihat judul. Membalik. Merentang halaman tengah. Mencari kolom puisi. Mengeja barisan huruf capital di sudut kanannya. Menengok cerita pendek. Membaca judul dan nama.
“Sialan.”
“Ada yang gawat ya? Eh eh… koranna kumaha Bos? Ka mana?”
“Aku ke alun-alun dulu Ben. Korannya nanti sajalah. Tunggu mandat alias wangsit dari Australi.”
Aku menyeberang. Empat buah ban radikal seketika berhenti. Mulut CJ 7 hampir menanduk lutut. Dentaman bas dari dalamnya memukul-mukul. Sebuah kepala dengan jambul seperti kakak tua warna cengek masak keluar. Matanya hendak loncat.
“Heh. Liat-liat kenapa? Kalo gua tabrak, mampus tau.”
“Maaf.”
“Nyebrang tuh pake ini.”
“Pakai kaki juga.”
“Heh. Nantang lu.”
Empat kepala dengan wujud tak jauh beda nyembul dari jendela kiri dan belakang.
“Enggak. Enggak.”
“Kagak. Kagak. Budek apa gua kagak denger lu ngomong. Pake melotot. Bilang kagak lagi.”
“Ngejual tuh Man. Embat aja. Masa lu takut.”
“Anjing!”
“Bener mas, enggak nantang, saya mana berani…”
“Banyak bacot lu!”
Mobil-mobil lain mulai mengular sampai kaki jembatan penyebrang. Kepala-kepala melongok. Bibir berteriak tidak sabar. Klakson diteken panjang dan pendek. Sahut-menyahut. Orang-orang mulai berdatangan.
“Ada apa? Ada apa?”
“Enggak tahu.”
“Berantem.”
“Hayuh atuh jreng…”
“Iya. Gatel nih. Hajar saja Kang!”
“Mending kite cabut Man.”
“Yoi Man. Enggak usah dilayanin. Enggak lepel.”
“Awas! Laen kali, abis lu.”
“Lo enggak jadi?”
“Teuing.”
“Payah…”
Knalpot racing mobil itu menggerung. Bannya berdecit. Mengerat. Meninggalkan garis panjang hitam di aspal. Menyisakan kebulan asap putih. Aku tidak lama menunggu. Langsung nyelinap antara parkiran motor. Setengah berlari nyelusup antara tiang setinggi pinggang. Selonjor di sebuah bangku semen. Cuping hidungku mengembang. Menghisap dalam-dalam. Bau keringat kering dari ketiak menghujam. Pesing dan semburan knalpot ikut menikam.
Alun-alun, seperti biasa, setiap sudutnya orang-orang menyemak. Sesak. Di sudut kiri seorang penjual obat melilitkan ular belang ke lehernya. Dua laki-laki tua dekat WC asyik memindah-mindahkan bidak catur. Penjual gorengan tengah menghitung lembaran uang kertas lusuh. Beberapa perempuan bergincu terang duduk di pinggiran tembok. Sekumpulan laki-laki bertato mengerumuni dadu dan gerincing uang logam. Sepasang sejoli saling merapatkan bahu. Pasangan lain, kelihatannya, sedang bertengkar. Yang perempuan, mengenakan jean sobek, menuding. Yang laki-laki, tidak kalah garang, meluruskan telunjuk. Suara mereka berhimpit dengan terompet, peluit parker, dan pengeras suara dari departemen store sebrang jalan. Seorang perempuan dan laki-laki melintas. Tangan mereka menjinjing tas plastic belanjaan yang sarat. Seorang anak berlari. Sekitar bibir penuh coklat. Lewat barisan gigi hitamnya, anak itu berseru. Anak satunya menangis. Kakinya menyepak-nyepak. Tangan menunjuk pada parasut mainan yang sengaja diterbangkan di depannya. Penjualnya tersenyum menang saat si ibu sambil menggerutu membayar mainan itu.
Aku merogoh saku celana. Tinggal tiga batang kretek gepeng tertindih pantat. Korek?
“Permisi…”
“Punya api?”
“Oh ada. Ada.”
Laki-laki beryou can see itu mengeluarkan pemantik gas. Selayaknya adegan film Hollywood, dia menyalakannya untukku. Tembakau dalam lintingan berkretek.
“Permisi…”
Jreng.
“Hah?”
“Kenapa Pak?”
“Masak ngamen di sini?”
“Di sana enggak boleh sih, Pak. Satpam barunya galak. Herder aja kalah galak. Baru kita ngomong permisi, pentungannya keluar. Padahal kita sama-sama cari makan. Payah. Mentang-mentang pakai seragam.”
“Kan biasanya…”
“Parapatan? Bukan bagian saya. Seratus aja Pak.”
“Ini juga pas-pasan.”
“Masak enggak kasihan Pak. Orang miskin. Buat makan.”
“Saya juga belum makan.”
“Rokoknya aja Pak.”
“Rokok sih bukan seratus.”
“Satu aja Pak.”
“Tinggal tiga…eh dua, buat sampai malam.”
“Ah…percaya.”
“Ini. Ini.”
Aku terpaksa menyerahkan seratus rupiah padanya.
“Rokoknya?”
“Katanya seratus.”
“Ya, kalau dikasih dua-duanya enggak ditolak Pak. Tapi ini juga terima kasih lah.”
“Lo?”
“Kenapa Pak?”
“Kok enggak nyanyi?”
“Saya ngamen buat cari uang Pak. Kalau uangnya dapet ya…”
laki-laki itu berbalik. Ngeloyor pergi.
Babon! Apa isi kepala orang itu? Bisanya ngomong satpam galak, orang miskin, cari uanglah, belum makan. Kera busuk! Dia sendiri seenaknya memperlakukan orang. Apa dikiranya aku juga tidak butuh uang? Apa kelihatannya hidupku lebih enak, lantas bisa bebas diinjak-injak.
Gunung berapi lahir. Mungkin dari lambung yang sedari pagi belum menggerus makanan.
Belum lagi ditengah terik aku harus berjalan kaki. Kenapa? Pertanyaan bodoh. Biar bagaimana, aku harus keluar kamar. Harus. Perkaranya? Belum cukup apa? Dengar. Tepat jam sebelas Bu Prapto pasti akan mengetok kamar. Dia akan nagih pembayaran uang kos yang dua bulan ini aku tunggak. Kalau kali ini seperti kemarin-kemarin, hanya janji yang kuberi, dia seperti bendungan bocor. Puluhan, bahkan ratusan huruf menggelincir dari bibir bak Julia Robertnya. Aku sudah kehabisan kata. Kontras memang. Penyair ditinggalkan kata. Mau apa? Kata-kataku tidak punya kekuataan menghadapi hal-hal semacam itu. Makanya, mau tidak mau, dengan mengantongi seribu lima ratus perak yang telah berkurang seratus disantap pengamen sialan itu, aku ke sini. Kenapa ke sini? Itu juga pertanyaan bodoh. Tempat ini strategis, sangat strategis dengan kondisiku sekarang. Aku bisa tahu, dengan berpura-pura hendak membeli koran, melihat kalau-kalau puisi atau cerpenku dimuat. Kalau dimuat, dengan jalan sejauh dua kilo lagi aku bisa sampai rumah Darno. Aku perlihatkan korannya sebagai jaminan. Aku bisa pinjam uang. Bisa makan. Bayar kos. Beli rokok. Pulang dengan kendaraan umum. Sederhana. Kalau tidak? Ya seperti yang dilihat. Tidak jadi beli Koran. Selonjoran sambil mengisap rokok. Tidak tahu harus bagaimana. Lalu ditindas pengamen fasis.
Nyeri melilit usus. Lengkap! Oh. Satu lagi. Nyaris mati tertabrak manusia-manusia planet punk. Gila! Aku juga hampir saja jadi biang keributan. Cepat sekali orang-orang tadi berkerumun…
Celanaku basah. Aku bangkit. Ada bercak coklat kekuningan di bangku yang kududuki. Aku mengusap-ngusap pantat. Lembab. Berlendir. Likat. Aku endus telapak tangan. Anyir.
Puah! Tambah lagi kesialanku.
Aku bergegas menuruni WC di pojok alun-alun. Dua keran wastafelnya macet. Dua pintu tertutup. Aku menunggu. Menghitung jari kanan. Jari kiri. Menghitung ruasnya. Kanan. Kiri. Pintu itu masih juga belum terbuka. Banyak tulisan sepenuh tembok kamar mandi. Tulisan-tulisan itu sepertinya menyeringai. Mengejek. Orang sabar kekasih gusti. Gusti Randa. Randa Aceh. Hapus DOM di Aceh. Dom pimpah alaikum gambreng. Pisang gambreng. Goreng et mah euy. Seragam tentara yang goreng-goreng. DOM? DOM meledak di Antapani. Jangan tulis-tulis antapani! Di situ rumah Asih. Jelitaku yang telah menyakit hati tapi aku tetapi mencintaimu, saying. Hidup cinta. Hidup orang miskin. Berangus…
Akhirnya seorang laki-laki berperut buncit keluar. Aku segera nyerobot. Membilas celana. Berkali-kali. Sampai kurasa benar-benar bersih.
“Uangnya?”
“Saya kan enggak kencing.”
“Tadi masuk.”
“Saya hanya cuci celana.”
“Mana tahu?”
“Ini basah.”
“Bisa saja Situ berak di celana.”
“Sial…”
“Kenapa?”
“Enggak. Saya kira hanya yang…”
“Bisa baca?”
“Kenapa tanya-tanya, apa bisa baca…”
“Bisa baca enggak? Nah bagus kalau bisa baca. Itu aturannya. Baca.”
Penjaga WC menunjuk kertas yang bertulis spidol biru, masuk WC 300.
Dengan berat hati, tiga ratus perak aku masukkan dalam kotak kusam dekat tempat duduk penjaga itu.
Apa kubilang?
Orang macam begini ini yang bikin kacau negara. Sedikit saja diberi tempat, dikasih kekuasaan, dipakaikan seragam, yang dibilang pengamen tadi mentang-mentang, sudah jadi tirani. Ngelunjak. Gendang telinga dibiasakan tertutup. Mana mau mendengar orang lain bicara? Hantam kromo! Peraturan ditulis pasti ada konteksnya. Dan konteks itu sekarang, seribu seratus perak. OK Bung Freire. Salut. Tabik buat budaya kemiskinan Sampeyan. Terbukti.
Ludah di pangkal lidah terasa masam. Pandangan menguning. Telinga berdenging.
Aku harus duduk. Tapi sekarang tepat jam istirahat. Bangku-bangku, tembok-tembok, anak tangga, pinggiran pagar, semua penuh. Orang-orang tengah melahap kupat tahu, lontong kari, mi ayam, gado-gado. Menyeruput teh botol dingin, air mineral, es cendol. Tak peduli. Tenggorokanku gantang. Tidak ada sisa liur yang dapat kutelan. Aku menyeret langkah. Pelan. Mencari bangku kosong yang tersisa.
Dekat pagar besi menghadap mesjid, sebuah bangku agak panjang diduduki seorang laki-laki tua. Sampingnya bungkusan tergeletak. Masih ada tempat ujung satunya kosong. Tidak ada pilihan. Aku hempaskan pantat di situ. Tengkuk kulipat. Mata pejam. Angin panas kusedot. Menahannya dalam hitungan sepuluh. Kutiup pelahan.
Aku selipkan sebatang rokok. Korek?
“Jang. Jang.”
“Rokok A?”
“Minta api ya?”
“Yeh.”
“Nuhun.”
“Sugan teh rek meuli, nyaho kitu mah…”
Anak kecil dengan koreng dibetis itu meludah. Menjauh. Terus menggerutu.
Kapitalis cilik! Sebatang korek api. Hanya sebatang korek api saja bikin anak bau ketuban sudah berani kurang ajar. Apa yang diajarkan orang tuanya di rumah? Tidak sempat. Baik. Apa yang dikerjakan LSM anak jalanan yang katanya dapat dana luar negeri? Tidak sempat juga. Apa maksud UUD anak terlantar dipelihara negara? Idem. Babon! Sebatang korek api. Bayangkan…
Gelambir bibir laki-laki tua disampingku menyemburkan dahak dekat kaki. Dia berdehem. Sekali lagi.
“Asli sini?”
Aku mengiyakan agar pertanyaan tidak berlanjut.
Sekarang bagaimana? Apa nekad saja ke tempatnya Darno? Kemungkinan pertama, dia jera. Tidak mau lagi meminjamkan uang. Tapi setidaknya aku bisa menebalkan muka berbaring sebentar di sana. Ada alasan untuk bilang aku menunggu malam, supaya pulang tidak terlalu panas karena aku berjalan kaki. Itu harus kuucapkan dengan tegas dan jelas padanya. Jalan kaki. Siapa tahu pori-porinya masih bisa tersentuh. Hal lain, kalau aku di sana sampai agak malam masak dia tega tidak menawariku makan. Kemungkinan kedua. Dia baru terima upah. Sedang berbaik hati. Dia mau meminjamkan uang. Minimal untukku melanjutkan hari selama seminggu. Nantilah memikirkan Bu Prapto…
“Bapak sih baru datang.”
“Oh.”
Kemungkinan ketiga, ini yang terburuk, dia sedang pergi. Tidak mungkin ditunggu karena tidak pasti jam pulangnya. Kalau begitu, artinya aku jalan kaki dua kilo lagi, Bu Prapto, plus perut kosong.
“Apa setiap hari ramai begini?”
“Iya.”
Kemungkinan lain? Mi rebus? Seribu perak hanya untuk karbohidrat dan penyedap. Tidak. Warteg? Sambel sama lalaban gratis. Teh hangat free. Nasi tujuh ratus. Tahu sayur dua ratus lima puluh. Sisanya seratus lima…
“Memang enak duduk di sini bisa lihat yang jalan-jalan… Bapak sedang nunggu agak sore mau ke tempat anaknya Bapak di Gegerkalong, kalau dateng sekarang pasti enggak ada di rumah mereka orang sibuk ya namanya kerja di jaman sekarang mana bisa santai apalagi kalau jadi tentara.”
“Oh.”
“Sedang apa?”
“Apa?”
Asap tar dan nikotin kuhembus kuat-kuat.
“Sedang apa di sini?”
“Oh… Istirahat.”
“Iya ya buat istirahat juga di sini enak…”
Mulut laki-laki itu mengusik. Membangunkan El Misti yang hampir lelap.
“Kalau capek memang perlu duduk sebentar, istirahat. Dari mata saja Bapak bisa lihat kalau Situ capek sekali. Mata kan jendela hati. Kalau susah atau ada pikiran mata jadi keruh tidak jernih, kalau capek urat-urat di putihnya menonjol keluar, mata yang keruh ditambah lagi berurat itu akibat jalan darah tidak sempurna dan akan memompa produksi adrenalin…”
Magma pekat dalam tubuhku mencair. Membara. Campuran karbondioksida dan belerang bergelegak. Bergolak naik. Kulit di sekujur membengkak. Retak. Pecah.
“Kesehatan itu karunia yang harus dipelihara ya kuncinya satu kalau kerja jangan diporsir bahasa Bapak jangan ngoyo, mesin dari baja yang tahan laser begitu saja kalau dipakai nonstop bisa aus apalagi badan manusia yang hanya tulang sama daging ya kalau tidak hati-hati pasti cepat ambruk dan jangan lupa sakit enggak hanya pisik tapi juga psikis ini yang repot, makanya Bapak selalu wanti-wanti sama anak Bapak bilang ke mereka, cari uang boleh, ngejar pangkat tinggi silakan, ambisi karir naik juga enggak dilarang, tapi… Ada tapinya, tapi jangan lupa jaga kesehatan istirahat. Cukup makan. Cukup istirahat.”
“Hem…”
“Dua bulan lalu mantu Bapak kena tipus sempat diopname sampai dua minggu dirawat di rumah sakit tapi baru sembuh sehari dianya langsung ke Jakarta waktu itu Jakarta lagi ramai peledakan bom dia kan bagian operasi jadi ya harus langsung turun ke lapangan tahu kan yang meledak di gereja di panti asuhan bank pertokoan…Lo mau ke mana?”
“Ke sana…”
“Di sini saja. Sampai mana? Oh ya kabar terakhir Bapak terima dia sudah enggak bolak-balik ke Jakarta Bapak tanya kenapa dia bilang di sini juga rawan sekitar semingguan ke belakang katanya ada perkelahian antar gang pakai senjata tajam malah pakai pistol segala ya mana tahu dari mana terus ini juga ceritanya ada orang yang curi sandal diadili massa dibakar tuh hanya curi sandal saja dibakar apa tidak sadis? Tapi kriminal juga makin sadis mau ambil gelang eh sama tangan-tangannya dipotong nah nah ini berhubungan dengan apa yang Bapak bilang tadi sakit psikis…”
Aku tak tahan lagi.
Badanku gemetar. Gempa mengguncang. Magma kental terdorong sampai mulut kaldera. Buncah. Muncrat. Menggelegar. Bantuan terlempar. Kisaran uap beracun dan abu melingkup langit. Bergulung-gulung. Lava pijar menjalar. Mambakar. Kepala hingga sumsum tulang belakang tersiram. Beludak lewat mata.
Aku bangkit.
Aku hampiri laki-laki yang bergerombol tak jauh dari situ. Aku bisiki salah satu dari mereka. Dia terbelalak. Dia perhatikan orang tua yang masih belum menyadari ketidakhadiranku. Bibirnya masih gerunyam. Sesekali tangannya bergerak-gerak. Kerutan di pinggiran mata laki-laki itu mengerap. Kulit pipinya turun naik seiring mulut yang tidak putus bicara.
Laki-laki yang kubisiki itu membisik pada laki-laki lain di sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya lagi. Berantai. Tak lama. Orang-orang seperti aliran sungai lava mendidih. Melancap deras. Melindas. Mereka santroni laki-laki tua itu. Mereka berteriak. Mengumpat. Menyerbu.
“Orang itu…”
“Bom! Bom! Orang itu bawa bom.”
Dimuat di Pikiran Rakyat 4 April 2002


