Bola Mainan

Tirani matahari! Angin kesetanan!
Sekarang memang pas angin doyan doyannya pelesir. Debu debu seperti di jalan bebas hambatan. Setelah dari selokan kering terbang ke batang pohon kersen, ke daun-daunnya, ke kaca rumah, ke tahu goreng, ke terpal penjual buah, ke spion mobil, ke trotoar, ke mata. Gila. Tapi yang gila itu, orang yang tengah hari begini berjalan tanpa tujuan. Tanpa topi. Padahal aspal saja menyerah. Dan orang itu aku. Tadi seharusnya aku nenteng majalah, setidaknya menolong dari tusukan matahari. Mana sempat berpikir? Pintu saja lupa kukunci.

Ketika bayangannya terlihat melintas aku langsung keluar.
“Pak. Pak.”
Laki laki itu menghentikan korehannya di bak sampah.
“Bisa minta tolong?”

Dia belum menjawab tapi mulai mendekat.
Rumah rumah di sekitar senyap. Waktu yang tepat untuk tidur siang. Para penghuni perempuan pasti sudah selesai masak makanan siang. Berada di sekitar rumah bertipe tidak terlalu nyaman itu sangat mudah tahu waktu. Hanya perlu mengendus udara. Pagi: busa deterjen dan pewangi baju. Sebelum jam 12: ikan asin atau bumbu sayuran. Sore: bau tanah terkena semprotan air. Suara suara juga begitu. Pagi: kuis, infotainmen, musik india. Lewat jam 12: film ber-dubbing. Sore: infotainmen, berita. Tengah malam: (suara yang paling kusuka) erangan tertahan.

Memasuki tahun pertama ini aku masih juga belum, tepatnya, merasa tidak perlu menyesuaikan waktuku dengan para tetangga. Aku sengaja mencari perumahan bukan deretan kamar di antara para mahasiswa untuk segera menyelesaikan tenggat skripsi.
Ternyata salah hitung.

Awalnya memang aku yang memperkenalkan diri ke tetangga kanan-kiri-depan-belakang. Tapi entah karena rumah kontrakanku tidak berpagar atau aku yang tidak bisa menolak, petaka mulai singgah. Mulanya pasangan Wir, tetangga kanan, setiap pagi titip kunci rumah. Jam 1 kunci itu diambil istrinya yang kerja jadi perawat. Jam 3 dititip lagi. Jam 7 malam pasangan itu kembali mengetuk pintu, mengambil kunci. Begitu seterusnya.

Mungkin karena itu, aku terlihat sebagai orang baik, sejak sebulan lalu tetangga depan berani titip anaknya yang masih belajar jalan.

“Biasalah, pembantu jaman sekarang, Dek, maunya gaji tinggi tapi kerjanya payah. Jadi sekarang saya mau nyuci baju. Anak kecil kalau liat air, maunya main, saya takut dia masuk angin. Jadi saya titip Fifi sebentar ya. Enggak akan lama kok. Ya?”

Sulit kan menjelaskan kalau aku bukan tanpa kerjaan dan pagi adalah saat yang tepat memikirkan skripsi? Sulit. Dan jadinya, di ruang tamuku tampak makhluk kecil yang asyik sendiri. Aku tidak tahu harus bicara apa ke anak yang baru kenal 10 kosa kata. Aku menyalakan tape, dia malah nangis. Daripada berurusan dengan ibunya yang kalau ngomong tanpa titik itu terpaksa membiarkannya menarik taplak meja, menumpahkan kopi, nyenggol toples. Kebaikan hatiku berlanjut hingga berhari hari. Rumah kontrakanku pun menyamai bangkai titanic.

Itu baru awal.
Tadinya supaya anak itu tidak mengganggu barang barang milikku, aku sengaja beli bola plastik. Hanya satu hari bola itu sanggup menahan jarahan tangannya, selanjutnya back to habit. Kisah tragisku berlanjut. Bola plastik itu kemudian “dipinjam”Cingat kata ini sengaja diberi tanda kutipCkakak si anak kecil mulai jam 3 sampai menjelang Magrib. Dia bersama kawanannya tanpa berdosa bermain di halamanku nan asri. Malapetaka. Bola itu tidak hanya bergaul dari kaki ke kaki tapi juga ke jendela dan dinding rumah batakoku. Gangguan si adik paling lama satu jam tapi si kakak, gila, tiga jam! Dan itu di saat saat aku harus memejamkan mata sebagai persiapan begadang malamnya. Aku langsung diserang penyakit baru, darah tinggi, migren berkepanjangan. Siang tidak bisa tidur dan malam, satu satunya ketenangan yang kupunya, lembar lembar A4 itu hanya kosong karena mata berkunang kunang.

“Punya siapa?”
“Saya.”
Bibirnya membuat bulatan.
“Namanya hidup bertetangga, jadi suka dipakai sama anak depan.”
Bulatan bibirnya makin sempurna.
“Memang tadinya saya mau simpan tapi namanya bertetangga, takut tidak enak dengan ibunya.”
“Jadi gimana?”
“Ambil aja buat Bapak.”
“Ya. Ya. Terima kasih.”
“Tapi, ambilnya nanti kalau saya sudah pergi.”
“Kok?”
“Ya, namanya bertetangga. Nanti saya disangka pelit.”

Kukira penjelasanku soal bertetangga cukup memuaskan. Buktinya kepala laki laki itu mengangguk.
Masih sekitar seperempat jam lagi supaya tidak terlalu mencurigakan.

Pintu wartel di muka jalan perumahan terbuka. Akhirnya kakiku punya tujuan melangkah. Lumayan untuk mendinginkan ubun ubun. Tadinya aku mau ke warung kopi tempat biasa aku nongkrong tapi tadi penuh sopir taksi yang kelihatannya juga punya niatan sama.

Di dalam hanya ada tukang parkir yang matanya menempeli pantat penyanyi dangdut di televisi. Mata penunggu wartel kelihatan jenuh.

“Kamar 1 bisa lokal?”
“Bisa.”
Aku memutar nomor telepon. Berdengung. Aku meletakkan gagangnya.
“Kenapa?”
“Belum ada yang angkat, masih istirahat kayaknya.”
“Tunggu aja dulu.”
“Ya. Sebentar lagi saya coba.”
Sedikit nyaman. Bisa menyenderkan punggung.
“Eh, eh, mau coba telepon lagi?”
Aku sempat tertidur.
“Ya. Ya.”
Aku masuk lagi. Memutar nomor sembarang.
“Bisa dengan Pak Gugun?”
“Nomor berapa ya?”
“Sedang meeting?”
“Nggak ada nama Gugun.”
“Oh.”
“Apanya yang oh? Salah sambung tau.”
“Kapan kira kira bisa ditelepon?”
“Gila ni orang.”
“Oh.”
“Malah oh lagi, dibilang salah sambung juga.”
“Baik. Baik.”
“Gilaa!”
Tut… tut… tut…
Gagang telepon kembali ke singgasananya.
“Berapa?”
“Enam ratus.”
“Mari…”

Beberapa puluh langkah lagi aku bagai pengikut Musa, menemukan tanah harapan, mendapatkan kembali ketenangan. Akhir minggu ini, targetku, ketemu Pak Yos untuk bab pembahasan. Beres. Bulan depannya sidang. Wisuda. Selesailah kewajibanku.

Sampai di ujung jalan, kulihat paras para tetangga bergerombol di muka rumah. Ada apa lagi?
“Itu dia pulang.”
Aku seperti camat yang ditunggu untuk jadi pembina upacara bendera. Semua serentak menguntit kakiku yang mendekat.
“Dari mana?”
“Untung ketahuan.”
“Untung Pak Ruwi lewat depan rumah.”
“Bisa bisa komplek kita kebobolan lagi.”
“Biar monitor komputernya belum digital kan masih ada harganya.”
“Kaset juga banyak.”
“Setrikaan.”
“Tip.”
Mereka kelihatan paham benar barang barang milikku. Tapi ada apa?
“Kalau dijual cepet ke Cihapit kasetnya jadi 5 ratusan. Lumayan buat jaman susah begini.”
“Lupa tutup pintu ya?”
“Maaf, Pak, Bu. Ada apa?”
“Begini, tadi waktu Pak Rawi lewat depan rumah Situ, ada orang yang bergerak mencurigakan.”
“Saya kebagian mukul mukanya.”
“Aku sih baru pulang.”
“Si Sap tuh yang sempat ambil batu terus pukul kepalanya.”
“Siapa?”
“Pemulung.”
“Kirain orangnya baik. Jadi pemulung juga pekerjaan halal. Itu tu jadinya kalau enggak pernah puas.”
“Bola mainan anak anak sudah masuk karung.”
“Sekarang orangnya di mana?”
“Dibawa ke puskesmas.”
“Biar aja mampus sekalian.”
“Sekarang bolanya mana?”
“Dibawa sekalian buat bukti, itu juga kalau orangnya masih hidup.”
Tusukan matahari masih membekas di kepala. Aku basa basi sebentar lantas permisi masuk.
***

Dimuat di Tribun Jabar 17/8/2008

Published in: on 12/31/2008 at 10:31 am Comments (3)
Tags: ,