POSKOLONIAL

1.
Hari ini, sebenarnya, niat saya nulis soal dua film yang baru saya tonton, Slumdog Millioner dan The Boys with Striped Pijamas. Kebetulan keduanya diangkat dari novel. Kebetulan saya sudah membaca dan nonton keduanya. Tapi ketika berhadap-hadap dengan layar komputer, kepala saya sulit ditarik ke niat itu. Kepala saya malah kembali ke beberapa pekan lalu.

Tanggal 21 Desember 2008.

Hari itu Nalar menghentikan—untuk sementara—perkulakan buku (bukan nolak rejeki, tapi mulai jam 2 siang di Nalar akan ada diskusi “Agama & Konsumerisme”). Harri, sebagai salah satu pembicara, sudah sejak jam 11 nyepi di kamar tengah (walau sudah sarjana dan beberapa kali jadi moderator di kampusnya, toh sah kalau jantungnya berdetak ga sebagaimana biasa).

Selain Harri, ada seorang lagi yang punya “kelainan jantung”: Refki. Kawan satu itu memang relatif baru terlibat di Nalar tapi untuk urusan “bebas-aktif” menertawakan “senior”nya dia cepat belajar dan beradaptasi (kecuali untuk urusan plesetan…). Itu makanya ketika dia didaulat jadi pembawa acara dan tidak bisa menolak, para “senior” yang selama ini merasa ditindas oleh kebebas-aktifan Refki jelas-jelas kegirangan. Semakin lagi waktu Refki datang dan langsung menuju kamar tengah. Harri memang tidak terdengar mengatakan sesuatu, tapi Refki terlihat mundur dan mengurungkan niatnya. Kawan dari Bukit Tinggi itu lalu duduk di pojokan. Setelahnya, Refki yang pendiam itu semakin diam, hanya bibirnya—yang tidak berhenti bergumam—tidak bisa menyembunyikan ketegangan. Ketegangannya bertambah, kemungkinan, karena sorot mata Harri yang bilang, “Untuk hari ini, kamar ini hak pembicara. Jadi kalo mau latian, MC cari tempat lain…”

Ketika kami di tengah ephoria menyindir dua kawan itulah seseorang datang.

Dia dosen yang konon sedang mengambil S2. Saya pribadi merasa tidak terlalu dekat, hanya sekali dua pernah bertukar cakap, itu pun takjauh dari urusan perkulakan. Setelah dia membayar buku dan saya telah mengundangnya hadir di diskusi, dosen itu mengubah posisi duduk, terlihat dibuat lebih nyaman. Saya kira dia mau memenuhi undangan diskusi dan mencari bahan obrolan sambil menunggu waktu.

“Tesis saya mau ambil poskolonial.”
“Oh…”
“Elie Weisel.”
“Apanya?”
“Saya mau bahas karya Elie Weisel.”
“Oh…” (Ini memang respon “standar” ketika saya tidak tahu harus mengatakan apa. Saya suka Malam dan Fajar, tapi untuk membicarakannya saya harus memanggil-manggil ingatan atas buku itu. Hal yang ga mungkin dilakukan saat itu).
“Hem, menarik itu.” Sahut Hikmat yang diam-diam mendengarkan.
“…” (dia berbahasa Perancis)
“Apaan tuh?”
“Apa ya… mungkin, oh, ga tepat… Apa ya terjemahan judulnya?”
“Oh… yang barusan judul buku.”
“Iya. Saya mau membahas triloginya.”
“Oh… dia ada triloginya ya?” (Saya memang bodoh, banyak “oh…”).
“Buku Weisel yang sudah diterjemahkan Malam sama Fajar. Apa trilogi dari dua itu?” Sambung Hikmat.
“Sudah ada terjemahannya?”
“Iya. Sudah lama.”
“Oh… Mungkin trilogi dari itu. Tapi saya bingung. Kata *bip…* (nama seorang Doktor yang juga dosen senior), dia dosen pembimbing saya, kata beliau enggak bisa pakai poskolonial.”
“Kenapa? Bukannya malah pas.” (Ini juga masih Hikmat).
“Iya saya juga heran.”
“Alasannya kenapa?”
“Dia bilang mana bisa karya Wissel pakai metode poskolonial soalnya peristiwa di novel itu kan waktunya pas kolonialisme. Kalau setelah itu baru bisa pakai poskolonial. Aduh… bingung ni. Padahal saya sudah sreg dengan karya itu.”

Saya dan Hikmat saling melirik.
Tiktaktiktak….
Jam di Nalar menunjuk angka 13.30. Sebentar lagi diskusi dimulai.

“Oh… Begitu ya…” (Lagi-lagi saya pakai senjata kata “oh”)
“Eh, sudah jam segini. Aduh…. Saya pergi dulu ya. Mau mengajar ke Cihampelas.”
“Enggak ikut diskusi?”
“Lain kali aja. Terima kasih ya.”

Saya dan Hikmat kembali saling menukar lirikan. Dan ternyata bukan hanya saya dan Hikmat, beberapa kawan pun sama.

“Hushh… yang mau jadi MC ga usah ikutan nyengir. Sana ngapalin.”

2.
Untuk urusan menyelesaikan kuliah yang kudu dipungkas dengan skripsi, saya mungkin beruntung (?). Waktu itu, metode yang “diributkan” belum sebanyak sekarang. Bukan soal sekolahan atau dosen-dosen yang lupa mengajarkan (iyalah, tahun 90-an akhir, *bip…*—tabu menuliskan tahun sebenarnya—kan di “sana” sudah ada post-post-an), soalnya mungkin saya saja yang lambat meng-up grade.

Nah, makanya ketika tahun sudah berjalan lama (sudah 11 tahun lewat waktu saya—dengan susah payah, karena bodoh—menyelesaikan kuliah), soal yang saya tulis dalam POSKOLONIAL belum juga tuntas, jadi mengherankan. Jadi wajar ketika beberapa hari setelah kedatangan kawan dosen yang sedang S2 itu, saya cerita ke kawan yang juga sama-sama sedang menyelesaikan S2. Mereka satu kelas.

Dengan berapi-api (mungkin tepatnya: emosional) saya cerita ke kawan itu. Tapi ke-berapi-api-an saya ditanggapinya sedatar muka spinx, dingin.

“Masih mending…”
“Maksudnya? Itu kan rada absurd, Pik. *bip…” kan Doktor di Jurusan sastra *bip…*, udah sering ke luar negeri pula.”
“Apa hubungannya dengan luar negeri?”
“Ya berhubunganlah. Minimal dia bisa baca langsung bahasa asli, ga pake terjemahan yang kadang ampun-ampunan bacanya. Minimal lagi kalau di kita buku tertentu ga ada, kan bisa beli waktu ke luar.”
“Iya kalau begitu.”
“Kok begitu amat.”
“Memang harusnya gimana?”
“Aku spaneng ni… S2 kan idealnya lebih dari sekedar nulis skripsi, yang buat kebanyakan mahasiswa belakangan ini aku liat dibuat dengan beban. Padahal skripsi kan karya ilmiah pertama mereka yang utuh. Nah ini. S2.”
“Jangan ngomong tesis dululah. Masih ada waktu. Waktu di kuliah kemarin…”
“Kuliah apa?”
“Kuliah poskolonial. S2.”
“Memang kenapa?”
“Makanya jangan motong…”
“Maaf. Tapi kan wajar. Aku ga S2.”
“Ga nyambung. Dosen kuliah poskolonial itu masih muda. Kenal *bip…* ga?”
“Enggak. Tapi ga ada hubungannya kemudaan atau mau pensiun dengan yang sedang kita bicarakan.”
“Iya. Iya. Kan belum selesai…”
“Ops. Maaf.”
“Kemarin pertemuan kedua kuliah. Setelah membahas tugas, mungkin sebelum masuk ke kolonialisme sebagai metodelogi, dia menjelaskan beberapa kata kunci. Di antaranya membicarakan kolonialisme. Dia kasih beberapa contoh negera-negara koloni, penjajah dan jajahannya. Dan dia bilang yang dilakukan Jepang terhadap Indonesia itu tidak termasuk kolonialisme.”
“Maksudnya?”
“Iya. Karena Jepang bukan negara barat.”
“Maksudnya…”
“Kolonialisme itu, menurutnya, penjajahan barat atas timur. Jadi, karena Jepang bukan negara barat, yang dilakukan tahun 1942-1945 di Indonesia bukan kolonialisme. Karena waktu terbatas aku enggak sempet tanya soal barat. Tapi tafsirku, yang dia maksud barat itu Eropa. Hanya negara-negara Eropa.”

Oow…
Apa lagi yang bisa saya bilang?

Published in:  on 02/11/2009 at 9:12 am Comments (2)
Tags: , ,

Wawancara

Setiap kali ada mata kuliah Wawancara, Nalar—juga sejumlah orang atau komunitas atau tempat lain di Jatinangor—ada dalam daftar. Ada saja yang membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi kerap datang mewawancarai: profil komunitas belajar, profil toko buku komunitas, profil beberapa teman di Nalar yang dianggap penulis atau sering tulisannya dimuat media, atau sekedar tempat nongkrong dekat gerbang Unpad. Angkatan demi angkatan datang. Mahasiswa dan mahasiswi berganti. Tema yang tidak terlalu variatif itu ditanyakan dengan pola yang relatif beragam. Tapi saya merasa ada kesamaan, walau tidak semua, pada mereka yang datang.

Pertama, mereka datang seperti layaknya wartawan “profesional”. Tangan mereka memegang buku catatan, pulpen, tape recorder, dan kamera. Terlihat sibuk. Kesibukan itu, mungkin, yang membuat mereka seperti tidak peduli dengan siapa dan apa yang sedang dibuat di Nalar. Tanpa memperkenalkan diri, mereka bisa langsung bilang, “Saya mau wawancara dengan pemilik toko buku”. Atau “Bisa wawancara tentang komunitas studi di sini?” Atau “Saya mau wawancara untuk tugas kuliah”.

Kedua, mereka yang akan mewawancara tidak tahu persis siapa, apa, dan bagaimana narasumbernya. Ketiga, belum pernah sekali pun hasil wawancara diperlihatkan atau dikonfirmasi lagi pada siapa yang diwawancara.

Beberapa kali saya dan beberapa kawan masih memaklumi cara demikian (ya… namanya juga sedang belajar). Tapi kali kesekian dan seterusnya, tidak jarang kedatangan mereka mulai dirasa mengganggu. Dan akhirnya jadi “permainan”: siapa pun bisa berganti nama dan menjadi apa pun. Pernah satu ketika, pewawancara mendapat informasi yang mungkin begini: ada seseorang di Nalar bernama Hikmat yang kerap menulis di media. Tapi kawan pewawancara itu tidak mengenal sosok fisik dan ternyata pula, dia belum pernah membaca satu pun tulisan Hikmat. Kawan itu datang, juga tidak mengenalkan diri, dan bertanya, apa bisa mewawancarai Hikmat. Tanya jawab berlangsung hampir 1 jam. Setelah dia pulang, beberapa kawan yang masih ada di Nalar saling berpandangan. Saling melempar senyum. Meledak tertawa. Ya, kawan pewawancara itu tidak tahu bahwa yang baru saja diwawancarainya bukan Hikmat tapi Bonar. Hikmat sendiri, ketika Bonar serius menjawab pertanyaan, sedang duduk dan menikmati rokok di sudut ruang.

Kawan pewawancara itu mungkin sudah tahu bahwa memulai wawancara idealnya, selain memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan wawancara, juga tahu dan paham apa-apa yang ingin diketahuinya. Teori sederhana tersebut kemungkinan besar sudah mereka dapat di bangku kuliah. Apa mungkin mereka lupa? Bisa jadi. Tapi bisa juga soalnya karena teori-teori yang mungkin berserak di buku-buku itu lebih berfaedah sebagai hapalan untuk menjawab pertanyaan dalam ujian tertulis tengah atau akhir semester.

Kalau soalnya yang terakhir tadi, tidak mengherankan kalau pewawancara itu tidak paham benar apa yang sedang dibuatnya, terlebih menjadikan tugas itu sebagai arena menguji atau ruang konfirmasi teori yang mereka baca atau dapatkan. Itu mungkin yang menyebabkan hal-hal elementer dan aspek-aspek yang terkait dengannya jadi luput. Proses wawancara jadi tugas yang dalam pelaksanaannya terasa memberatkan. Karena hanya untuk wawancara taklebih dari 1 atau 2 jam, misalnya, mereka dituntut untuk membaca sejumlah buku sebagai bahan pertanyaan. Hal ini jelas membebani dan tidak menyenangkan di tengah tarikan hal lain yang juga mungkin tidak bisa (mau?) dielakkan. Menjadi tidak mudah lagi ketika buku-buku penunjang itu seperti tidak berhubungan langsung dengan mata kuliah wawancara, terlebih dengan diri mereka.

Jadi, sebuah pilihan mudah ketika menempatkan wawancara praktek itu sebuah tugas dari satu mata kuliah yang kemudian darinya diharap sekedar nilai di akhir semester. Nilai-nilai kuantitatif tersebut yang kelak melahirkan ijazah. Dan dengan sistem pendidikan yang seolah lebih menghargai hasil akhir daripada proses, ijazah jelas tidak berbanding lurus dengan perkembangan diri dan intelektualitas seseorang. Tapi lembaran yang diikuti transkrip nilai itu bisa jadi modal. Modal untuk memasuki gerbang lain.

Gerbang yang belakangan mengarah pada satu titik: peradaban yang rodanya rakus menggelinding ke mana pun sesuai logika pasar untuk meraup sebanyak mungkin modal. Pada kasus kawan pewawancara, tidak sulit baginya menulis ulang hasil “wawancara” di Nalar dengan Hikmat gadungan. Toh pertanyaan-pertanyaan yang dibuat berdasar kebiasaan penulisan wawancara yang mungkin didapatnya dari kakak angkatan atau melihat tugas tahun lalu sudah terjawab. Dengannya mungkin ia mendapat nilai A. Juga sejumlah mata kuliah lain. Deretan A di transkrip nilai memudahkan kawan itu dilirik dan terjun dalam industri media. Mungkin juga tidak sulit baginya menyesuaikan diri terlebih dengan betebarannya media atau rumah produksi yang diantaranya mencetak sinetron macam “Ibu yang Durhaka Karena Membiarkan Anak Kandungnya sendiri Bermain Judi dan Berzina”. Dalam roda industri media yang ngebut, berpikir bukan pekerjaan yang terlalu dibutuhkan. Kepemilikan ruang pribadi untuk sekedar berkaca semakin sempit dan jadi kemewahan. Masing-masing dari kita tidak leluasa, bahkan tidak mutlak, mengenal dan memahami apa yang dikerjakan. Maka perkembangan diri dan intelektualitas semakin tidak mendapat tempat. Semakin hari diri dibuat semakin asing dan tidak saling mengenal. Terus menerus demikian hingga akhirnya tidak lagi ada kesadaran ke mana roda itu mengarah dan kita lupa telah terjebak di dalamnya. Terjebak dalam ketidaksadaran dan pengasingan.

Karenanya, sudahlah, mungkin, beberapa kawan yang sedang mengerjakan tugas wawancara pun sudah mengisafinya. Itu makanya, jauh-jauh hari mereka tidak sungkan dan mulai belajar mempersiapkan diri.

Published in:  on 09/22/2008 at 12:34 pm Comments (2)
Tags: , , ,

Koran atau Tabloid?

Siang itu, Jatinangor takbeda seperti siang dalam empat bulan terakhir; debu beterbangan dan matahari terik menyengat. Saya bergegas masuk Nalar. Dayat, yang kebetulan lebih dulu di sana sedang menyampul buku. Lima mahasiswi mengitarinya. Sebagai seseorang yang belum pernah berpacaran selama kuliah, keadaan ini seharusnya disyukuri. Jodoh, katanya, di tangan Tuhan dan siapa yang tahu tanganNya bekerja. Tapi muka kawan itu malah sekering musim ini. Bibirnya terkatup rapat. Kepala menunduk dengan mata menempeli plastik dan halaman buku yang sepertinya berubah jadi makhluk aneh yang harus dia amati setiap sentimeternya.

Setelah melempar senyum, saya masuk kamar dan tidak bergabung dengan mereka. Pertama, saya tidak paham apa yang membuat kawan itu demikian. Alasan lain, ada sejumlah buku yang memang harus saya cek. Dari kamar yang tepat berada di belakang Dayat, saya jelas mendengar percakapan kelima mahasiswi itu. Telinga saya tegak.

“Jadinya apa?”
“Tadi sih habis kuliah gue sempat ribut dengan (menyebutkan sejumlah nama). Gue bilang koran. Tapi mereka pada ngotot kalau tabloid.”
“Koran apa tabloid sih sebenarnya?”
“Tabloidlah.”
“Kalau gue bilang, koran.”
“Masa’ sih?”
“Menurut lo apa?”
“Apaan?”
“Kortem itu koran apa tabloid?”
“Koran kali…”
“Masa’ sih?”

Dayat berdehem seolah minta saya keluar untuk menyelamatkan tenggorokannya yang mungkin tergelitik. Saya mulai dapat sedikit terang penyebab muka kawan satu itu seperti tanaman kurang air, tertekuk. Dan saya memilih terus di kamar.

Published in:  on at 12:25 pm Leave a Comment
Tags: , ,

Das Kapital (catatan 31 Juli 2007)

Kami—Sari, Idim, Wengki, Nur, Evi, dan saya—berkumpul di sudut Nalar. Selasa sore biasanya memang toko sepi dari perkulakan, maka belajar menulis bersama kami tidak banyak “diinterupsi”.

Sekitar jam 4 sore, dua orang mahasiswa datang. Mereka bertanya dengan suara yang terdengar jengah. Wajar. Tidak ada satu orang pun di Nalar yang tidak berada dalam lingkaran Kelas Menulis. Saya menghampiri dan sempat memotong Sari yang sedang membicarakan tanggapan Evi atas tulisan Idim.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?”
Seorang dari mereka menjawab, “Apa ada Das Kapital?”
“Karl Marx?”
“Ya.”
“Buku yang mana?”
“Maksudnya?”
“Das Kapital yang terjemahan ada dalam 3 buku.”
“Oh gitu ya.”
“Iya. Mbak, carinya yang mana? Eh, tapi ga dijawab juga ga apa-apa. Saya ga bisa bantu, di sini tiga buku itu sedang kosong.”
“Oh gitu ya… Aduh gimana ya?” Pertanyaan ini ditujukan pada temannya.
“Kalau boleh tau untuk apa? Mungkin di sini ada buku lain yang rada nyambung.”
“Enggak bisa.”
“Maksudnya?”
“Enggak bisa digantikan dengan yang lain, soalnya itu untuk tugas.”
“Oh. Memang tugasnya apa? Siapa tau hanya bagian tertentu Das Kapital jadi bisa dibantu dengan buku lain.”
“Enggak bisa.”
“Oh…”
“Soalnya tugasnya bikin resensi.”
Teman-teman di Kelas Menulis berhenti. Berbarengan mereka melihat ke sumber suara.
“Diresensi? Tebel lo…” (Kalau tidak salah Wengki yang nyeletuk).
“Iya ya?”
“Untuk bikin resensi kan bukan soal tebal atau tipis, asal cukup waktu buat baca biar kata setinggi pintu yang ga masalah.” Omongan saya yang ini lebih sekedar mencairkan kepanikan kedua mahasiswa itu.
“Kira-kira berapa tebel?”
“Segini.” Jari telunjuk dan jempol saya membuat jarak.
“Tebel banget…”
”Memang belum tau bukunya?”
“Belum. Dosennya hanya kasih tau judul sama pengarangnya.”
“Oh… Coba di toko buku di Bandung aja. Kemungkinan ada.”
“Ke Bandung ya?”
“Iya. Memang kenapa? Kalau males ke Bandung di sini juga bisa pesan kok, tapi lusa baru ada.”
“Enggak bisa.”
“Maksudnya?”
“Tugasnya dikumpulin lusa.”
Mendengar omongan itu saya yang panik…

Published in:  on at 12:24 pm Comments (1)
Tags: , , ,