PUISI DAN KEGILAAN

“Apa yang dikhawatirkan dengan kegilaan karena, sebenarnya, semua kegilaan itu diwadahi dalam kesenian,” ungkap Nirwan Dewanto pada Sabtu, 12 Maret 2005, lalu. Ungkapan itu muncul di diskusi “Jurnal (dan) Budaya Kita” yang juga mendudukkan Bambang Sugiharto, dosen Filsafat Unpar, sebagai pembicara. Dalam diskusi yang diadakan Kelompok belajar Nalar Jatinangor, Jurnal Kalam, dan CCF Bandung itu, ada beberapa hal penting yang sempat terlontar. Diantaranya mengenai naratologi, teori dan kritik sastra, hubungan sastra dan industri, sistem pengajaran, bahasa, juga rasionalitas dan irasionalitas.

Secara langsung apa yang diungkap Nirwan di atas tidak berhubungan dengan makalah yang dibacakannya, “Pembacaan Dekat atau Jauh?”, juga pengumuman pengunduran dirinya sebagai Ketua Jurnal Kalam. Benny Johannes, dosen STSI Bandung yang siang itu mengenakan kaos dan topi hitam, yang jadi pemicu. Benny mengatakan bahwa sekarang ini kita sulit mengelak dari industrialisasi tulisan. Akibatnya, kita tidak bebas berhadap-hadapan dengan tulisan karena ada campur tangan dari pihak di luar tulisan, seperti legitimasi sosial atau otoritas penulis atau pun ambisi untuk menjadi pengetahuan. Itu makanya, untuk dapat bertahan dari reifikasi maupun peng-epistemologi-an, tulisan harus berperang melawan rasionalitas dengan memproduksi sebanyaknya mungkin irasionalitas. Cara yang ditawarkan adalah dengan menggunakan bahasa, yang dikatakan Benny, sebagai bahasa schizophrenia. Bahasa demikian memungkinkan hal-hal yang nonsense, tidak lazim, dan yang tidak masuk akal dapat hadir; yang pada akhirnya tulisan tidak akan terjebak dalam gerusan industri.

Menanggapi lontaran Benny, Bill Watson—pengajar di Kent University, Inggris, dan School of Bisnis Management, ITB, yang hadir sebagai peserta—membandingkan dengan irasionalitas tersebut dengan kemunculan Dadaisme di pertengahan tahun 20. Dikatakannya lagi bahwa, irasionalitas mungkin penting pada saat itu, tapi masih harus dipertanyakan lagi kepentingan kehadirannya sekarang. Mengingat dadaisme sendiri sebagai sebuah aliran hanya mampu bertahan 5 tahun.

Bambang yang memulai diskusi dengan pembicaraan sistematis tentang “Dilema Mental Manusia Indonesia, Antara Budaya Pra-literer, Literer, dan Pasca literer”, berpendapat takjauh dari Nirwan. Dia sulit membayangkan bahasa atau sastra yang irasional. Sebagai contoh, dia sulit membayangkan seseorang yang menulis apa pun dan tanpa aturan yang jelas, lantas menamakannya hasil tersebut sebagai sastra. Karena, menurutnya, kita sulit mengelak dari rasionalitas atau penalaran sebagai jembatan menuju pemahaman. Irasionalitas sendiri baru dapat dipahami atau bermakna kalau dirumuskan dalam bahasa yang rasional.

Tapi Bambang sepakat apabila bahasa yang irasionalitas adalah sejenis bahasa yang “longgar”, yang tidak mesti ketat. Puisi adalah contoh dari irasionalitas yang dimaksud. Puisi dengan metafor adalah bahasa “yang irasional”, yang mencoba mengungkapkan kompleksitas realitas atau pengalaman. Puisi memberi bentuk pada sesuatu yang tidak berbentuk atau sulit dibentuk. Dengan begitu sesuatu yang kompleks atau simultan setidaknya jadi bisa dipahami. Di situlah letak kekuatan puisi.

Nirwan menutup diskusi mengenai hal ini dengan mengatakan bahwa puisi adalah contoh bentuk kegilaan, kalau irasionalitas identik dengan kegilaan, yang diwadahi dengan sangat baik. Karena kalau tidak diwadahi dengan baik maka kita tidak mengerti apa kegilaan itu dan kita tidak bisa mengalaminya. Lewat ordering atau penataan, pengalaman dapat dinyatakan kembali dalam wadah tertentu untuk bisa terus hidup, lepas apakah pilihan wadah tersebut teratur (konvensional) atau tidak teratur. Walaupun pada dasarnya, apakah teratur atau tidak teratur, keduanya memiliki aturan main sendiri. Dan untuk itu industri, pada dasarnya, bersifat terbuka untuk bentuk kegilaan yang mana pun.

Tapi yang penting dari ordering atau penataan terhadap satu jenis atau sejumlah pengalaman dalam bentuk yang baru, metaforik, adalah untuk membangkitkan kembali (rasa) pengalaman kita terhadap dunia ini. Karena pencarian pemahaman atau kebenaran, seperti yang disitir Bambang dari Goenawan Mohamad, adalah sebuah percakapan.

Pun demikian dengan diskusi yang berakhir menjelang senja pupus itu, lontaran mengenai irasionalitas hanya satu bahan yang mungkin bisa jadi awal dari sebuah percakapan.**

DUNIA HUBBU YANG SERIUS

“Not bad. Ada beberapa hal berharga di situ.”

Begitu Bambang Sugiharto, satu dari 3 juri Sayembara Novel Dewan Kesenian (DKJ) 2006, memungkas pembahasannya mengenai Hubbu. Dalam diskusi yang diadakan Institut Nalar Jatinangor, DKJ, dan Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Rabu (7/11/2007) di Jatinangor lalu, Bambang membilang—selain juga kelemahan—beberapa hal berharga dalam novel pemenang sayembara tersebut. Satu di antaranya, “Novel ini memperlihatkan kemampuan merelatifkan berbagai pandangan, berbagai world view.”

Dalam pembacaan sekilas, saya sepakat. Kemungkinan merelatifkan berbagai pandangan itu ditempuh Mashuri, penulisnya, dengan dua cara. Pertama, melalui tema. Tema dibentuk dalam peristiwa-peristiwa dan/atau mengalami pengalaman-pengalaman yang tidak hitam-putih. Seperti tokoh Abdullah Sattar alias Jarot. Ia tidak hanya lahir, juga diharap menjadi pemimpin sebuah pesantren salafi, tapi paling kuat minum, “tak bisa mabuk oleh alkohol” (h.67). Dan sebagai seseorang yang tegas membedakan cinta dan nafsu, Jarot masih kerap melihat perempuan pada “perabot tubuhnya memang berbobot” (60) dan “buah dada yang berguncang” (162). Tokoh lainnya, Putri. Perempuan itu mengingatkan saya pada Cintaku di Kampus Biru, novel populer tahun 70-an dengan pesta, buku, cinta-nya. Putri seorang mahasiswi yang asyik diajak “adu argumentasi untuk membeber pemikir-pemikir yang dianggap pencetus modernisme” (h.62). Tapi Putri bisa begitu saja percaya pada isi primbon“…enggan berbuat sesuatu, kadang kala tidak suka makan dan tidak suka tidur, ini pertanda kurang satu minggu,” (h.82) sebagai takdir kematiannya.

Kedua, tokoh yang mengalami pengalaman-pengalaman dan/atau peristiwa-peristiwa berkesan mengalami guncangan karena benturan nilai-nilai itu dihadirkan melalui banyak pencerita (Jarot, Putri, Teguh, Aida, Jabir, Amin, Toni). Tidak hanya itu. Pengalaman atau renungan tokoh pun dituliskan dengan berbagai cara penceritaan (monolog interior, dialog, surat, catatan harian) dan beragam sudut pandang (aku-an, dia-an, kau-an).

Mashuri, mungkin, sadar ketika memilih bentuk novel yang ditulisnya. Hubbu dari mula menyatakan dirinya sebagai novel realis yang referensial. Ada Surabaya, nahwu sharaf, jagung bakar, dan sebagainya, yang kesemuanya dapat ditemui empirikal dalam dunia keseharian. Jenis novel ini memang kuat berpeluang mensugesti melalui cara kedua tersebut, melalui tokoh-tokohnya.

Kelahiran tokoh-tokoh memungkinkan novel demikian lebih dari ilmu-ilmu yang berkisah tentang manusia. Dalam ilmu, imajinasi sedikit mendapat tempat untuk berkembang karena pagar metodelogi. Pagar tersebut membatasi kemungkinan perkembangan eksistensi, mengutip Milan Kundera, sebagai penciptaan dunia kemungkinan-kemungkinan manusia. Dunia kemungkinan yang memberi kesempatan penemuan keber-Ada-an tokoh, yang berarti, menurut Heidegger, “ada di dunia” (in-der-Welt-sein, being-in-the world). Dunia eksistensi (seperti juga waktu) tidak selamanya identik dengan dunia keseharian. Inilah yang mungkin dapat dihadirkan novelis, sebuah dunia ciptaan. Semacam realisme-nya Umberto Eco, yaitu mungkin ada dengan adanya kesesuaian logika dan struktur yang dari awal sudah ditetapkan atau dibangun. Jadi, dalam novel, memungkinkan seorang salesman bangun pagi lalu menemukan tubuhnya berubah jadi kumbang, seperti Metamorfosis-nya Kafka. Kejadian itu menjadi “realis” selama unsur-unsurnya berada dalam struktur yang telah ditetapkan sedari awal. Hal tersebutlah, mungkin, jadi sebab penggambaran manusia dalam ilmu cenderung menelorkan stereotipe-stereotipe. Ini bisa jadi peluang dan kelebihan novel untuk melahirkan tokoh sebagai manusia berdarah-berdaging, utuh, dan khas. Karenanya, novel dengan penokohan model ini, berdaya lebih dari sekedar menggedor nalar, tapi pun mampu menghujam dalam.

Maka ketika membacanya, saya bayangkan Hubbu bisa jadi suaka. Di tengah sumpek keseharian, di mana suara-suara hanya bernada tunggal, novel ini—dengan banyaknya pencerita, cara penceritaan, sudut pandang—berpotensi jadi novel yang ramai, poliponik.

Tapi ketika membacanya, saya kok merasa bertemu tokoh-tokoh yang biografi hidupnya berbeda, bahkan berseberangan, tapi bertutur dengan cara yang sama. Tidak hanya cara melihat dan menyikapi persoalan, pilihan kosa katanya pun tidak jauh berbeda. Sebagai misal, “Bisa kutegaskan, diriku bukan hanya terbelah. Tetapi hancur berkeping-keping.” (h.72), “Sebelum hidupku hancur berkeping, aku putuskan..” (h.211), “…jiwaku dibakar geletar aneh.” (41), “…meletakkan raga dari pijar-pijar riuh rendah geletar.” (h.216), “Hatiku gundah bukan kepalang” (h.75), “…guna menuntaskan gundah hati.” (h.148). Kutipan satu dan dua adalah renungan tokoh mengenai hidup mereka. Walau konteksnya berbeda, kutipan pertama adalah suara Putri yang karakternya sudah disebut di awal. Dan yang kedua suara Aida, anak Jarot 45 tahun kemudian di Ambon. Kutipan ketiga berasal dari Jarot di usia belasan dan keempat suara Toni. Kutipan kelima berasal dari Jarot di usia 20-an merespon surat Istiqomah dan yang terakhir suara Aida ketika sampai Surabaya mengawali “muhibah”nya.

Memang banyak tokoh yang dikesankan memiliki nama dan memiliki problematik riwayat hidupnya masing-masing. Namun suara-suara Hubbu padu bermuara pada satu tokoh, hanya Jarot. Paduan suara itu—yang melulu diceritakan dengan banyak tumpukan kata sifat, abstrak—mengukuhkan Jarot sebagai seseorang yang diidealkan. Laki-laki dengan “[...] pribadi yang tidak hanya bisa tegak di atas kaki sendiri tetapi juga mempengaruhi dan menyinari orang lain” (h.72) bagi Putri. Seorang “yang ideal yang terus menerus membaktikan diri untuk keluarga dan dunianya”, “cerdas tapi tidak angkuh” (h.144) dan “seorang yang sabar, bijaksana, dan memiliki kepekaan tinggi” (h.176) untuk anaknya, Aida. Istiqomah yang disakitinya juga melihat Jarot sebagai “[...] pendiam, tetapi mampu mengundang daya tarik“ (h.76). “[...] karakternya keras, mudah terbawa emosi, meski secara hati dan pikiran, ia lebih mirip nabi-nabi” (h.192) kisah Syuhada pada Aida. Bagi Toni, Jarot adalah “Seseorang yang aku kenal di dunia dengan tingkat kesempurnaan luar biasa. Tanpa cela.” (h.223).

Jarot, yang mungkin diniatkan sebagai seseorang dengan obsesi yang sulit dinalar itu, rasa-rasanya terlalu ideal untuk hadir sebagai manusia yang utuh dan khas. Jarot retak. Ia menamai, memaknai dan menyikapi pengalamannya—seperti juga dibilang Bambang sebagai kelemahan novel itu—over dramatic. Sebagai misal, ketika Jarot belajar mata kuliah Bahasa Arab. Untuk Jarot yang sudah membaca Muqadimmah-Ibnu Khaldun di SMA serta Kalilah dan Dimnah ketika SD, saya kira toh sudah sewajarnya jika ia tidak kesulitan mengikuti mata kuliah yang baru mengenalkan, “aiu, babibu, tatitu, tsatsitsu,…” (h.16, 93). Tapi Jarot memaknai pengalaman itu secara berlebih dengan dengan semacam renungan filosofis “berawal dari kosong dan berakhir kosong” (h.114).

Apa yang membuat Hubbu sedemikian?

Saya curiga, penyebabnya, mungkin, karena kerapuhan bangun dunia Hubbu. Suara tokoh-tokohnya terdengar sumbang seolah memikul beban berlebih. Mereka tampak sesak, karena tidak berkesempatan mengembangkan atau menemukan keber-Ada-annya. Hubbu kelihatannya memaksakan dunia yang merupakan penjelmaan dunia ide penulisnya. Ide yang mungkin kompleks dan rumit itu, menjadikan Mashuri tampak serius. Ia sepertinya luput melakukan apa yang Eco buat dalam proses penulisan In the Name of Rose. Untuk membangun dunia abad pertengahan yang jelas dikuasainya benar, di tahun pertama ia membuat daftar nama serta data pribadi rahib-rahib di zaman itu, “Pembaca tidak perlu mengenal mereka, tetapi saya harus mengenal mereka.”

Jika demikian, bolehlah saya mempertanyakan lagi apa yang dibilang Bambang: Hubbu merelatifkan berbagai pandangan.**

Published in:  on 07/31/2008 at 7:43 am Leave a Comment
Tags: , , , ,