BURUAN SELEPAS ORDE BARU

Laba-laba itu bernama Orde Baru. Peristiwa G 30 S—dan peritiwa-peristiwa lain yang mengikuti—seperti jaring-jaring yang dibuatnya untuk sejarah bangsa ini. Banyak sudah yang terperangkap, walau ada pula satu dua yang berhasil menyelinap. Setelah 1998, bukan berarti perangkap itu pupus. Tapi, belakangan, tidak sedikit dari kita yang coba memutus jaring-jaringnya lewat penulisan ulang atau menawarkan cara lain dalam melihatnya. Pemutusan itu suatu cara untuk bisa mengenali sisi-sisinya yang lain. Agar kita semakin mampu memahami kompleksitasnya. Dan saya percaya, sastra (dalam hal ini novel) sangat bisa jadi tangan atau gunting yang ikut memutus jaring-jaring itu. Tapi KOELLA Bersamamu dan Terluka (Herlinatiens, Pinus, 2006), saya kira tidak termasuk di dalamnya.

Novel 272 halaman ini mengisahkan percintaan seorang perempuan yang bapaknya di-PKI-kan dengan Smesta Mahatvavirya (Esta), seorang taruna. Kisahnya dituturkan Makula Kecil, tokoh utamanya. Narasinya banyak berupa monolog interior. Pilihan ini memungkinkan kita terlibat langsung pada apa yang tengah dirasa dan dipikirkan Makula. Kita langsung bertemu dengan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang dianggap Makula persoalan dan bagaimana ia menyikapinya. Bentuk pengisahannya bukan saja realis, tapi pun menyebut banyak tempat yang kita kenal: Madiun, Magelang, Bandara Adisucipto, Belanda. Demikian dengan nama-nama orang, seperti Soekarno, Muso, Semaun, Kartosuwiryo, DN Aidit.

Dengan itu KOELLA berpeluang menyeret kita mengikutinya. Apalagi Makula adalah seseorang yang mungkin biasa menggunakan nalar dan punya kemampuan memberi nama-nama. Ia mantan “siswi terbaik di kampus”nya (h.29) dan sedang menyelesaikan S2 di Belanda. Ia juga seorang yang menganggap “perenungan sebagai perjalanan yang mengasyikkan” (h.182).

Tapi untuk latar sedemikian, Makula terlihat tidak punya mata yang khas untuk melihat peristiwa G 30 S dan peristiwa-peristiwa lain yang mengikutinya. Padahal jelas, peristiwa tersebut adalah rahim bagi kehadirannya. Tidak ada satu pun tanda yang menunjukkan kemampuannya dalam melihat hubungan cintanya yang (seolah) rumit dengan PKI yang dicapkan pada bapaknya. Bahkan Makula seperti tidak punya akses membaca buku-buku yang memberikan sudut pandang lain terhadap peristiwa tersebut. Apalagi sampai menelisik keragaman PKI di banyak tempat di Indonesia atau perbedaan signifikan komunisme di Indonesia dengan komunisme di Cina atau di Sovyet.

Itu, mungkin, yang menyebabkan peristiwa G 30 S—dan peritiwa-peristiwa lain yang mengikuti—dikatakan Makula lewat teks-teks yang sudah sangat galib didengar banyak orang: “pembantaian dilakukan secara sistematis, polanya bervariasi” (h.38), “pembunuhan besar-besaran di tahun 1965-1966” (h.198 ) dan “kudeta 1 Oktober 1965 menjadi sebuah momok yang menakutkan sekaligus menggelikan bagi banyak orang” (h.199). Atau lewat jargon-jargon tanpa acuan makna yang jelas dan kehilangan konteks, seperti “marxisme” (h.23), “instrumen-instrumen masif” (h.37, 169), “sosialis utopis” (h.58), “marhaenis” (h.79), “proletar atau borjuis” (h.97), “militansi dan fasisme” (h.98), “oportunis” (h.109).

Peristiwa G 30 S—dan peristiwa-peristiwa lain yang mengikuti—direkonstruksi melalui “sebuah hipotesa seseorang” (h.22), “kabar dari banyak tempat” (h.76) atau “mungkin kira-kira dulu seperti ini” (h.98). Dengan itu, secara tidak langsung ia mau bilang, bisa jadi apa yang dikatakannya tidak tepat benar. Tidak terlalu mengherankan kalau narasi Makula terasa seperti jaring-jaring yang saya kenal. Makula menyamakan PKI dan komunis dengan ateis, dengan perbuatan-perbuatan buruk “bapakku adalah seorang yang taat beragama (meski Kartosuwiryo dan DN Aidit juga berasal dari keluarga santri)” (h.99), “komunislah orang yang telah mem-PKI-kan bapakku” (h. 39), “yang bercinta di dalam mobil itu, aku ingin menyebutnya PKI!” (h.66).

Saya kira, KOELLA tidak tahu apa yang mau dikatakannya. Untuk itu, penulis-tak-nampak (implied author)—untuk tidak mengatakan Herlinatiens—harus terus menerus membuat perangkap. Tokoh Makula bersembunyi. Penokohannya berkabut. Saya tidak tahu apa yang dimaksud Makula dengan “menghadapi hari-hari yang cukup berat” (h.264). Saya tidak tahu di mana ia kuliah atau kuliah apa ia. Cinta Makula pada Esta, yang merupakan bayi dari rahim KOELLA, terlihat semacam fetishim, kecintaan berlebih pada pinggang Esta. Berbagai varian seperti “aku mencintanya pinggangnya” (h.60), “menikmati pinggangnya dari jauh” (h.92), “pinggangnya yang selalu menawan” (h.173), “pinggang indah” (h.233); tidak kurang dari 13 kali dikatakannya. Berulang Makula mengatakan “sudut 45 derajat” (h. 50, 54, 81, 83, 89, 138 ) dengan maksud yang tidak jelas.

Narasi KOELLA, yang diantaranya, dibangun lewat relasi antar tokohnya tidak berbeda. Saya sulit berempati pada bapak Makula yang dituduh PKI. Mungkin karena Makula hanya memberitahu bahwa setelah dipecat, bapak mengajar di sebuah desa yang jaraknya sekian kilo dari rumah (h.101). Saya tidak tahu bagaimana bapaknya menghadapi hari-hari setelah pemecatan, hubungannya dengan guru-guru lain, atau sekedar naik apa laki-laki itu mengajar. Saya juga tidak dapat merasakan ibu Makula yang “hidup susah setelah kepergian bapak” (h.41). Mungkin karena saya tidak tahu apakah ke“susah”an itu karena warung tempatnya biasa membeli sayuran tidak lagi mau menjual pada ibu atau karena anaknya menangis sepulang sekolah karena selalu diejek. Dengan kata lain, tokoh-tokoh lainnya pun sama dengan Makula: berkabut

Penulis-tak-nampak terus membuat terperangkap. Narasi KOELLA semakin gelap dengan cara tutur yang (dibuat) rumit dan (berniat) puitis dengan metafor. Dan jadilah banyak—untuk tidak mengatakan semua—kehadirannya antara lain seperti ini:

Semua orang hingar tertawa, saat sebuah nama meraup schizoprenia yang meneduhkan penglihatan. Tapi hakikat tanya, demikianlah jawab. (h.30)

Pembenaran segala intuisi semu. Fatamorgana rasial yang tak terjamah oleh pendulang rasa oportunis sesat semacam entah. Lalu waktu terasa lebih dekat mengikat kita. (h.128 )

Titit tiga berjajar lurus menghentikan tanda seru pun tanda tanya. Jika ini pantas, namailah ia sesuka hatimu. Dengan demikian aku akan belajar memahami semua akan tetap menjadi milikku. (h.177-178 )

Saya kenal kata-kata itu. Tapi kenapa bisa saya tidak mengerti? Saya tidak bisa mengerti. Terlebih untuk bisa memahami dan memaknainya.

Memang sastra—dalam hal ini novel—kata banyak orang, mempunyai bahasa yang khas. Tapi kekhasan tersebut bukan tujuan, “hanya” konsekuensi logis dari apa yang hendak dikatakannya. Kundera pernah bilang, novel mengatakan apa yang tidak bisa dikatakan yang bukan novel. Dan novel, berbeda dengan hostoriografi yang menuliskan sejarah masyarakat, menulis sejarah manusia yang tidak satu dan tidak sama. Jadi sangat logis kalau tiap novel menuntut pemakaian bahasa yang juga tidak satu dan tidak sama. Itu mungkin yang membuat bahasa novel jadi khas. Saya mungkin berbeda dengan penulis-tak-nampak KOELLA yang membuat bahasa Makula seperti tempat sampah, penuh tumpukan kata-kata. Sesuatu yang dimaksudkannya sebagai metafor olehnya juga berbeda. Konon, metafor—beroperasi dengan proses produksi atau logika tertentu—membuat pengalaman manusia dan relasi-relasinya yang kompleks menjadi konkrit, lebih bisa dirasakan.

Salah satu narasi Makula seperti ini: “Pagi ini memang hujan. Seperti larut duka karena merindu seseorang yang jauh” (h.113). “Pagi ini memang hujan”, yang sebagai sebuah deskripsi relatif jelas, diibaratkan “larut duka karena merindu seseorang yang jauh”. Pengibaratannya, buat saya, malah membingungkan dari pada mengkonkritkan. Karena saya tidak tahu seperti apa itu “larut (larutan?) duka”. Saya juga tidak tahu apakah “merindu” sejenis perasaan yang menyakitkan seperti tawon yang menusuk mata, atau sejenis rasa cemas hingga detak jantung seperti putaran kipas angin atau semacam apa. “Jauh” juga masih terlalu abstrak. Apa itu seperti jauhnya kaki langit yang selalu pergi ketika didekati atau seperti tembok tinggi yang menghalangi pertemuan.

Jaring demi jaring KOELLA membuat saya terperangkap. Megap-megap dalam gelap. Tapi mungkin novel seperti KOELLA untuk penulis-tak-nampaknya tidak jadi soal. Karena, selepas 1998 tema seputar PKI, seperti juga tabloid-tabloid jorok: banyak diburu.**

Judul Buku: Koella -Bersamamu dan terluka-
Penulis: Herlinatiens
Cetakan: 1, Januari 2006
Penerbit: Pinus
Tebal: 272 hlm

Dimuat di Pikiran Rakyat 1 April 2006

Published in:  on 08/05/2008 at 6:29 am Leave a Comment
Tags: , , , , ,

PEREMPUAN TUA DI PESISIR

Di pesisir itu, perempuan kurus berbalut sari hijau “telah membuka kepalan dan melepaskan bawaannya yang berisi helium, mengamati sampai balon terakhir ditelan kegelapan malam Bombay. (…) Di hadapannya, cakrawala yang dipertemukan laut dan langit nyaris tak terlihat”.

Demikian Thrity Umrigar membuka novelnya, Jarak di Antara Kita. Perempuan itu Bhima. Perempuan tua yang merasa dihukum dalam janam, kelahirannya. Hidup, ia rasa, hanyalah arena melompat satu pengkhiatanan ke pengkhianatan lain.

Sewaktu tiga jari Gopal dipotong karena infeksi akibat kecelakaan tempat kerja, cap jempol Bhima membuat suaminya itu dipecat tanpa pesangon, Bhima merasa si akuntan mengkhianatinya karena ia takberdaya, buta huruf. Tapi pengkhianatan itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan ketika Gopal, suami yang mulanya terdiri atas, “sinar matahari, lagu, tawa, dan gurauan, beraroma metol, ketumbar, dan hujan yang baru turun” berubah jadi “sekeras palu, sepejal kulit, dan berbau keringat, abu dan susu masam”.

Juga tidak seberapa dibanding dengan kepergian Gopal membawa putra mereka, Amit. Meninggalkannya berdua hanya dengan Pooja, anak perempuan mereka. Pengkhianatan itu memang sempat membuat Bhima goyah. Tapi Pooja membuat Bhima bertahan, “karena kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri? Hampir sepanjang waktu kita hidup untuk orang lain, terus meletakkan satu kaki di depan kaki yang lain, kiri dan kanan, kiri dan kanan, sehingga berjalan menjadi kebiasaan, seperti bernafas.”

Sewaktu Pooja digerogoti AIDS dan Bhima “menyaksikan saat api menari-nari seperti iblis di atas jenazah putrinya”, kaki-kakinya pun masih terus bisa “meletakkan satu kaki di depan kaki yang lain”. Karena Pooja menyerahkan tangan kecil Maya yang tanpa dirinya, anak yatim piatu tujuh tahun itu tidak punya banyak kemungkinan. Di jalanan Delhi, setahu Bhima, Maya mungkin hanya mengisi tempat sebagai pengemis atau pelacur.

Bhima berkeras meneruskan langkah, meneruskan pekerjaan sebagai seharusnya ghati, kelas rendah. Ia “seperti mesin, hadir hanya untuk bekerja dan mendapat gaji, memerlukan makanan dan air sekadar menjaga agar onderdil tubuhnya tetap terminyaki dan berfungsi”. Untungnya Sera, majikan suku Parsi—kaum terdidik dan kaya di Bombay—tidak seperti banyak majikan lain. Pertolongan dan penghargaan Sera, membuat Bhima melayani keluarga itu layaknya “kesetiaan seekor anjing”. “Keakraban (…) terbina di antara mereka selama bertahun-tahun”. Bhima dan Sera biasa “menyeruput teh dalam sunyi”, dalam “bahasa yang tak terucap”, walau “kepulan teh menciptakan penghalang yang bergulung”. Bhima yakin bahwa Sera memercayainya. Hanya kepadanyalah Sera mengungkapkan “pikirannya sendiri. Pikiran yang dikuncinya dalam kepala seperti obat dalam lemari. Seperti uang dalam lemari”.

Sera pula yang menyekolahkan Maya. Bhima berharap cucunya menjadi sarjana pertama dalam keluarga. Gelar yang bisa memutus mata rantai buyut-nenek-ibunya, yang menjadikan tangan Bhima “pada usia tujuh belas tahun, keras dan kapalan karena sudah bekerja menjadi pembantu sejak kecil. Rusak akibat seumur hidup memegang bulu-bulu sapu yang keras, tajam, dan runcing, mencelupkan tangan dalam abu untuk menggosok panci dan penggorengan sampai mengilap”.

Tapi sebuah pengkhianatan lagi: Maya hamil oleh Viraf, menantu Sera.

Bhima dan harapannya “seolah selembar kertas terbuang di jalan berangin”. Limbung. Ia tidak pernah mampu mengatakan hal itu pada Sera yang “selama sekian tahun sosok yang kuat seperti Tuhan”. Dan satu ketika, ketika “api menghanguskannya, mengubah masa depan dan impiannya menjadi abu”, Bhima tidak lagi punya pilihan. Ia dengan “kata-katanya menyembur sekental dan seasin darah”, terpaksa mengatakannya. Tapi Bhima melihat Sera hanya “membatu seperti tembok”. Sera juga lalu menutup pintu rumah baginya. Dan “neraka (yang) berada di sisi lain pintu” seolah siap membakar. Ketika itu, bukan hanya Sera “menjauh darinya, seperti bulan yang semakin lama semakin tinggi di langit”, tapi pun “kerongkongan Bhima terbakar garam ketidakadilan. Dia menelan gumpalan di kerongkongannya, tetapi gumpalan itu membakar membentuk jalur hingga ke dada sampai akhirnya mengendap bagai api membara di perutnya”.

Apakah Sera “mampu melupakan kata-kata itu, mampu menguburnya di bawah lindungan lapisan-lapisan lupa dan penyangkalan?” Kenapa sampai sang Sera, seorang “wanita agung dan bermartabat”, lebih “memilih dusta menantunya yang kentara daripada kebenaran yang gamblang?” “Apa mereka juga belajar tidak diburu dan disiksa kebenaran? Bukankah dia bersembunyi di balik lindungan keluarga ketika harus memilih?” Pertanyaan-pertanyaan buncah. Kepalanya mau pecah. Ia tidak menjawab. Tapi, apakah “api membara” akan membuat hidupnya berubah? Bhima tidak juga bisa menjawab. Kepalanya rusak oleh penyakit yang tidak terobati, “miskin, tua, dan bodoh”.

Bhima merasa pengkhianat terbesar dalam hidupnya adalah kepalanya sendiri.

Bhima melangkah ke luar gedung apartemen keluarga Sera saat senja “seakan diterangi cahaya sejuta matahari. “Udara senja yang sejuk menari-nari di wajahnya, membekukan air matanya pada jalur yang terbentuk di pipi”. Bhima ingat kecemasan Maya yang menunggunya. Tapi kakinya malah mengajak ke “tepi jalan yang berseberangan dengan laut”. Dan tiba-tiba tubuh ringkihnya, “seperti Tuhan, bertindak dengan cara-cara yang misterius”. Tubuh itu bersama ombak dan langit semakin gelap—“tak lagi menampilkan pertunjukan cahaya yang memukau—”, membangkitkan kenangan dan ingatan kesakitannya. Bhima ingat orang Pathan, lelaki Afgan, penjual balon yang dijumpainya belasan tahun lalu. “Lelaki penyendiri, orang buangan, orang tanpa negeri atau keluarga” yang dalam ingatan Bhima “belajar cara menciptakan lagu dari kesepiannya”. Lelaki itu “dengan tangan kosong, dia membangun dunia”. Lewat perantara angin, telinganya mendengar “suara lelaki itu datang kepadanya, menyeberangi gunung-gunung dan melintasi tahun-tahun”. Lantas “segala sesuatu di sekeliling Bhima diam seribu basa”. Bhima mendengarkan “bumi berirama debur ombak”.

Bhima membiarkan tubuh merasakan, membuka dan karenanya melampaui kepalanya. Perempuan tua itu menemukan “diri (lepas) dari penjara kulit”, menemukan “pisau yang memotong benang yang mengikat dirinya”. Itulah yang “menghentikan ratapannya, lalu rasa takut menghentikan dengung kebasnya, dan yang tersisa hanyalah kebebasan—gencar, bergejolak, dan bertenaga”. Ia “mengikuti bunyi kepak di telinganya, bunyi sayap mengepak, bunyi belajar terbang. Kebebasan”.

Itulah pengalaman langka yang dihayati Bhima. Di pesisir itu, Bhima menyerap pengalaman tubuhnya. Ia, saya kira—meminjam nalar Heidegger—bertemu dengan momen otentiknya, sebuah diri yang tersingkap. Momen yang menjadikannya sebagai orang “baru”, Dasein, diri yang otentik. Momen tersebut idealnya lahir bersama kecemasan. Sebuah kesadaran bahwa Ada-di-dalam-dunia melalui penataan kepingan-kepingan yang kadang larut dalam keseharian. Tapi untuk perempuan tua seperti Bhima yang, di antaranya, tahu “bagaimana kehidupan memperlakukan orang-orang yang tak berpendidikan”, momen otentik itu hanya akan menjerumuskannya pada ketakutan. Ia sepertinya tidak siap mengalami, memaknai, dan menamai ketersingkapan untuk menyiapkan antisipasi (das Vourlaufen).

Hal ini karena Bhima hanya menempati ruang gelap dan sempit dalam keseharian. Ruang gelap itu membuat tubuh takleluasa dikenali. Tubuh takbiasa mengalami. Keseharian itu menyesakkan. Itu makanya, keseharian adalah semacam kesenangan “meninggalkan keterpencilan suram gubuknya di basti dan melebur ke dalam kerumunan yang cair tak berbetuk”. Orang-orang berkerumun, merasa saling mengenal dan merasa bercakap. Padahal, dalam keseharian demikian, tidak ada percakapan yang saling menyingkap, saling mengukuhkan, dan sekaligus memperkuat hidup bersama. Yang ada sekedar ocehan (Gerede), bahasa manipulatif yang makin menjauhkan diri dari ketersingkapan. Di situ, diri melarut. Pengalaman-pengalaman raib dan sukar dimaknai. Ketersingkapan diri otentik dan hidup bersama yang sejati (Mitdasein) jadi hal yang sulit diraih. Ruang-ruang gelap dan sempit di keseharian makin berbiak dalam hegemoni kuasa(-kuasa) yang menjadikan hidup sekedar larutan.

Keseharian begitu, mungkin takcuma fiksi yang ditulis pengajar penulisan kreatif dan sastra di Case Western reserve University ini, kita pun mungkin bagian yang dibiakan dan membiakan keseharian jadi sedemikian. Maka membaca Jarak di Antara Kita, bisa mengajak kita tamasya, sebagai pengalaman Bhima, perempuan tua di pesisir itu. Novel ini dibangun oleh tokoh-tokoh, peristiwa-peristiwa dan konflik-konflik yang kompleks, dan dengan bahasa yang plastis, imajinatif dan kaya nuansa, seperti beberapa saya kutip dalam tulisan ini. Maka, Jarak di Antara Kita sangat mungkin menerbitkan tafsir lain yang lebih memukau.**

Dimuat di Jurnal Perempuan

Keterangan:
Judul Buku : Jarak di Antara Kita
Judul Asli : The Space Between Us
Penulis : Thrity Umrigar
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cetakan pertama, Desember 2007
Halaman : 430