Kepala K

MALAM belum larut benar. Namun jalanan lengang. Daun-daun masih berat menyimpan sisa hujan seharian. Adi hampir sampai di ujung jalan. Dia harus cepat. Sebentar lagi warung Pak Dimas tutup. Padahal dia masih harus berjaga semalaman.

Tapi kakinya seolah membentur batu kali. Adi berhenti. Walau hanya sekilas bayangan gelap, Adi hapal benar sosok yang sedang menikung di depannya. Adi cepat merapat ke dekat selokan depan sebuah rumah kosong. Menyusup dekat pagar tanaman. Bulan bercadar awan semakin menyembunyikannya. Adi merasa jantungnya berdegup melebihi jatuhnya titik air ke atap seng. Perutnya terasa bergejolak. Adi mual. Dia jongkok. Muntah.

Adi tidak tahu berapa lama dia di situ dengan bau masam nempel di sepatu. Dia hanya merasa kakinya yang kanan kesemutan, sukar digerakkan. Adi tidak yakin sosok itu sudah tidak ada. Dengan air liur masih memenuhi mulut, dan lutut seperti tak bertungkai, Adi berbalik arah. Dia urung membeli rokok. Uang puluhan ribu rupiah dalam genggamannya terasa lembab.

Di waktu lalu, perasaan Adi berbeda. Siulannya nyaring dan riang ketika meninggalkan pos penjagaan. Marno dan Iyan yang jadi temannya berjaga dengan senang hati menyilakan Adi berkeliling kompleks. Mereka jadi punya jatah lebih nonton televisi. Adi juga rajin ke warung. Dalam satu hari tak terhitung berapa kali dia pergi pulang beli rokok ketengan. Tidak peduli siang terik atau malam gerimis. Siulan Adi sama nyaring dan sama riang. Hanya Marno dan Iyan tidak lagi merasa senang, mereka mendengus kesal. Sampai akhirnya kedua temannya itu bosan. Bahkan bergantian membujuk Adi menggantikan tugas kalau mereka ada janji dengan Sri dan Minah.

Adi selalu ingin ke warung itu. Di situ dia bertemu sosok itu.

Tidak seperti pembantu lain. Sosok itu, yang dipanggilnya Noni, tidak mungkin ditemuinya selain di warung yang tak jauh dari tikungan. Perempuan itu tidak pernah terlihat nongkrong di trotoar depan rumah. Rumah tempat perempuan berambut tipis itu bekerja berpagar besi setinggi dua meter. Jadi kalau pun Noni menyapu, mencabuti rumput atau menyiram tanaman di halaman, Adi tidak bisa melihatnya. Satu-satunya kesempatan bertemu, ya, hanya di warung itu. Walau hanya melihat Noni tersenyum.

Angin malam menggoyangkan daun-daun mangga. Air sisa hujan jatuh di seragam Adi. Meresap. Adi menggigil. Dia tahu, tadi pagi, juga pagi kemarin, Noni melewati pos penjagaan waktu belanja sayuran. Dia tahu, perempuan itu hapal jalan yang lebih dekat. Tapi itu tidak dipilihnya. Perempuan itu sengaja memutar. Noni ingin bertemu Adi.

Adi menyepak-nyepak kerikil. Bayangan-bayangan bersama Noni di kepalanya menyamar. Semakin buram. Adi kesal. Kerikil yang disepaknya kena tiang listrik. Berdenting. Adi benar-benar kesal. Laki-laki itu tahu ini semua bukan salah Noni.

Tapi dia tidak mungkin bersama perempuan yang punggungnya saja sudah bisa membuat perut Adi mual.

Gara-gara malam itu….

ADI merasa berubah tepat di malam setelah pemotongan kurban. Sebagai Satpam, Adi diminta membantu panitia pemotongan hewan kurban. Atas pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Adi yakin akan dapat jatah lebih. Karena itulah Adi berani ngajak Noni nyate. Dia membayangkan malam itu akan jadi peringatan peresmian hubungan mereka. Adi akan nembak Noni. Dengan honor sebagai Satpam senior, dan pemasukan tambahan dari para pemilik rumah yang dijaganya, Adi yakin, tak lama mereka bisa menikah. Mungkin, bayangan di kepalanya terlalu jauh. Tapi Adi yakin benar, Noni adalah jodohnya.

Lagi pula, kata orang, kesempatan tidak dua kali datang. Kalau tidak malam itu, kapan lagi mereka punya waktu panjang bersama. Hanya berdua. Dan Adi tidak salah. Perempuan itu mau memenuhi ajakannya. Kebetulan majikan Noni merayakan Idul Adha di tempat anaknya, dan dua teman Noni yang juga pembantu di rumah itu tidak keberatan.

Adi merasa matahari lupa bergerak. Hari terasa lambat. Tapi Adi rasa semuanya sudah siap. Kecuali daging kambing. Adi memang dapat dua bungkus. Satu bungkus untuk ibunya. Satu bungkus lagi akan dibakarnya bersama Noni. Baru saja Adi mau mandi, sore itu, adiknya datang. Adiknya yang sedang ngidam itu ingin makan daging kambing. Gule kambing yang dimasak ibunya sudah habis oleh lima adiknya yang lain. Adi tidak tega tidak memberikan jatah dagingnya yang dititipkan di lemari es warung.

Matahari sudah mendekati bukit. Hari mulai gelap. Adi belum juga membawa arang dan jerigan minyak tanah ke tempat perjanjiannya. Dia masih duduk di pos penjagaan.

“Ntar telat….”

“Pusing, No. Kambingmu aku beli, ya.”

“Kambing apa?”

“Jatahmu.”

“Biar dikasih seratus ribu, enggak kukasih. Siang tadi punyaku udah habis.”

“Di pasar bawah masih ada nggak, ya?”

“Ada. Besok pagi. Sekarang si udah tutup. Terus gimana?”

“Di mesjid enggak ada lagi?”

“Kan tadi kamu yang bagi-bagi. Mana sekarang yang kurban sedikit tapi yang datang banyak. Kupon pembagian aja kurang.”

“Aduh, gimana ya?”

“Besok aja enggak bisa?”

“Besok majikan Noni datang.”

“Kalau….”

“Kalau apa?”

“Di rumah Jenderal Sukron kan ada….”

“Ada apa? Aku enggak bisa mikir.”

“Si Iyan kan jaga rumah Pak Jenderal. Dia bilang di situ banyak kelinci….”

“Minta?”

“Minta mah enggak akan dikasih.”

“Maling?”

“Bukan maling. Minta. Tapi bilangnya dalam hati. Tenang. Enggak akan ketauan. Pak Jenderal datangnya kadang-kadang. Kata Iyan, kemarin kelincinya banyak yang lahir. Gimana? Kalau mau, aku ambilin. Maleman dikit aku anter dagingnya biar tinggal tusuk. Aku emang niat minta kelincinya Pak Jenderal. Mau bakar-bakaran sama si Nandang. Dia baru datang dari Jakarta. Lagi banyak uang. Tambah gila. Segalanya dicampur. Nah, sekarang minuman dicampur sate kelinci. Model baru….”

Tidak ada jalan lain. Adi mengiyakan dan bergegas ke rumah kosong yang ditungguinya. Mata laki-laki itu mengalahkan sinar bulan, berbinar. Adi menyiapkan panci untuk liwet, tusuk sate, arang, kecap, cabe rawit. Tak lama Iyan mengantar tas plastik berisi daging karena Marno, si pembuat rencana, dan Nandang sudah tertidur oleh minuman sebelum sempat mengantarkan tas plastik itu.

“Kang, maaf ya. Tadi telat. Habis Cinta Fitri-nya tanggung. Eh, Kang, liwetnya kekerasan, ya? Habisnya Noni biasa masak di rais kuker.”

“Enak kok, Non. Tambah lagi satenya, Non?”

“Iya, Kang, ini mau. Kata orang, makan daging kelinci bagus lo untuk rahim. Kelinci kan anaknya banyak. Bener lo, Kang. Mau Noni suapin?”

Noni mengerling. Jarinya lembut menarik tusuk sate dari bibir. Jari yang sama memasukkan jejeran daging bakar ke dalam mulut Adi. Mata laki-laki itu bisa tak lepas dari lidah Noni yang menyapu kecap di bibirnya. Adi tersedak. Noni tertawa kecil.

“Dagingnya keras.”

“Iya ya, Kang. Agak asem juga.”

“Daging kelinci memang gini kali, Non.”

Walau daging kambing digantikan daging kelinci, bayangan di kepala Adi nyaris semuanya terwujud. Adi merasa jantungnya penuh udara, mengembang. Adi ingat benar sentuhan mereka ketika duduk bersebelahan di atas koran. Bara masih menyala. Langit seperti bersetuju, warnanya biru. Laki-laki itu hampir lupa kalau saja Iyan tidak lewat memukul tiang listrik satu kali, dan Noni yang harus diantarnya pulang.

Mereka berdua saja menyusur malam. Rumah-rumah sudah mematikan lampu. Tangan Noni yang melingkar di tangan Adi dirasanya seakan enggan lepas. Mereka berjalan selambat tiupan angin malam itu. Seperti sedang mimpi. Adi tidak mau bangun. Dia rasa Noni juga begitu. Tapi pintu gerbang tinggi itu seperti bergerak dan tiba-tiba sudah di depan mereka.

Adi terkesiap. Tiba-tiba bibir Noni menyentuh pipinya sebelum perempuan itu berlari mendekati gerbang. Jantungnya yang mengembang seolah meledak. Adi tersenyum dan ingin bergegas tidur. Membawa kecupan lembut itu masuk mimpinya. Tapi dia masih harus membereskan kulit kelinci yang kata Iyan ditinggalkan Marno tak jauh dari selokan di ujung kompleks perumahan.

Adi berjalan cepat. Dia menuju tempat yang tidak banyak dilalui orang itu. Tempat para pemulung biasa membuang barang yang tidak mereka butuhkan. Selokan di ujung komplek itu gelap. Tanaman menyemak. Adi mencari-cari dengan senternya. Di bawah pohon kersen berdaun lebat, yang dicarinya tampak samar.

Marno memang teman yang baik, tapi kalau sudah mabok, asal aja dia buang….

ADI merogoh saku jaket. Mengeluarkan kantung plastik. Dia ingin cepat menjalankan tugas pamungkas. Dan cepat memimpikan kecupan Noni. Tapi tangan Adi berhenti terulur. Pori-pori membesar. Makanan dalam perut menyodok lambung. Liur masam. Adi muntah. Tak jauh dari kepala kucing kesayangan Jenderal Sukron.***

Dimuat di Koran Tempo, 05/31/2009

Published in: on 06/27/2009 at 8:09 am Comments (1)
Tags: ,

Bola Mainan

Tirani matahari! Angin kesetanan!
Sekarang memang pas angin doyan doyannya pelesir. Debu debu seperti di jalan bebas hambatan. Setelah dari selokan kering terbang ke batang pohon kersen, ke daun-daunnya, ke kaca rumah, ke tahu goreng, ke terpal penjual buah, ke spion mobil, ke trotoar, ke mata. Gila. Tapi yang gila itu, orang yang tengah hari begini berjalan tanpa tujuan. Tanpa topi. Padahal aspal saja menyerah. Dan orang itu aku. Tadi seharusnya aku nenteng majalah, setidaknya menolong dari tusukan matahari. Mana sempat berpikir? Pintu saja lupa kukunci.

Ketika bayangannya terlihat melintas aku langsung keluar.
“Pak. Pak.”
Laki laki itu menghentikan korehannya di bak sampah.
“Bisa minta tolong?”

Dia belum menjawab tapi mulai mendekat.
Rumah rumah di sekitar senyap. Waktu yang tepat untuk tidur siang. Para penghuni perempuan pasti sudah selesai masak makanan siang. Berada di sekitar rumah bertipe tidak terlalu nyaman itu sangat mudah tahu waktu. Hanya perlu mengendus udara. Pagi: busa deterjen dan pewangi baju. Sebelum jam 12: ikan asin atau bumbu sayuran. Sore: bau tanah terkena semprotan air. Suara suara juga begitu. Pagi: kuis, infotainmen, musik india. Lewat jam 12: film ber-dubbing. Sore: infotainmen, berita. Tengah malam: (suara yang paling kusuka) erangan tertahan.

Memasuki tahun pertama ini aku masih juga belum, tepatnya, merasa tidak perlu menyesuaikan waktuku dengan para tetangga. Aku sengaja mencari perumahan bukan deretan kamar di antara para mahasiswa untuk segera menyelesaikan tenggat skripsi.
Ternyata salah hitung.

Awalnya memang aku yang memperkenalkan diri ke tetangga kanan-kiri-depan-belakang. Tapi entah karena rumah kontrakanku tidak berpagar atau aku yang tidak bisa menolak, petaka mulai singgah. Mulanya pasangan Wir, tetangga kanan, setiap pagi titip kunci rumah. Jam 1 kunci itu diambil istrinya yang kerja jadi perawat. Jam 3 dititip lagi. Jam 7 malam pasangan itu kembali mengetuk pintu, mengambil kunci. Begitu seterusnya.

Mungkin karena itu, aku terlihat sebagai orang baik, sejak sebulan lalu tetangga depan berani titip anaknya yang masih belajar jalan.

“Biasalah, pembantu jaman sekarang, Dek, maunya gaji tinggi tapi kerjanya payah. Jadi sekarang saya mau nyuci baju. Anak kecil kalau liat air, maunya main, saya takut dia masuk angin. Jadi saya titip Fifi sebentar ya. Enggak akan lama kok. Ya?”

Sulit kan menjelaskan kalau aku bukan tanpa kerjaan dan pagi adalah saat yang tepat memikirkan skripsi? Sulit. Dan jadinya, di ruang tamuku tampak makhluk kecil yang asyik sendiri. Aku tidak tahu harus bicara apa ke anak yang baru kenal 10 kosa kata. Aku menyalakan tape, dia malah nangis. Daripada berurusan dengan ibunya yang kalau ngomong tanpa titik itu terpaksa membiarkannya menarik taplak meja, menumpahkan kopi, nyenggol toples. Kebaikan hatiku berlanjut hingga berhari hari. Rumah kontrakanku pun menyamai bangkai titanic.

Itu baru awal.
Tadinya supaya anak itu tidak mengganggu barang barang milikku, aku sengaja beli bola plastik. Hanya satu hari bola itu sanggup menahan jarahan tangannya, selanjutnya back to habit. Kisah tragisku berlanjut. Bola plastik itu kemudian “dipinjam”Cingat kata ini sengaja diberi tanda kutipCkakak si anak kecil mulai jam 3 sampai menjelang Magrib. Dia bersama kawanannya tanpa berdosa bermain di halamanku nan asri. Malapetaka. Bola itu tidak hanya bergaul dari kaki ke kaki tapi juga ke jendela dan dinding rumah batakoku. Gangguan si adik paling lama satu jam tapi si kakak, gila, tiga jam! Dan itu di saat saat aku harus memejamkan mata sebagai persiapan begadang malamnya. Aku langsung diserang penyakit baru, darah tinggi, migren berkepanjangan. Siang tidak bisa tidur dan malam, satu satunya ketenangan yang kupunya, lembar lembar A4 itu hanya kosong karena mata berkunang kunang.

“Punya siapa?”
“Saya.”
Bibirnya membuat bulatan.
“Namanya hidup bertetangga, jadi suka dipakai sama anak depan.”
Bulatan bibirnya makin sempurna.
“Memang tadinya saya mau simpan tapi namanya bertetangga, takut tidak enak dengan ibunya.”
“Jadi gimana?”
“Ambil aja buat Bapak.”
“Ya. Ya. Terima kasih.”
“Tapi, ambilnya nanti kalau saya sudah pergi.”
“Kok?”
“Ya, namanya bertetangga. Nanti saya disangka pelit.”

Kukira penjelasanku soal bertetangga cukup memuaskan. Buktinya kepala laki laki itu mengangguk.
Masih sekitar seperempat jam lagi supaya tidak terlalu mencurigakan.

Pintu wartel di muka jalan perumahan terbuka. Akhirnya kakiku punya tujuan melangkah. Lumayan untuk mendinginkan ubun ubun. Tadinya aku mau ke warung kopi tempat biasa aku nongkrong tapi tadi penuh sopir taksi yang kelihatannya juga punya niatan sama.

Di dalam hanya ada tukang parkir yang matanya menempeli pantat penyanyi dangdut di televisi. Mata penunggu wartel kelihatan jenuh.

“Kamar 1 bisa lokal?”
“Bisa.”
Aku memutar nomor telepon. Berdengung. Aku meletakkan gagangnya.
“Kenapa?”
“Belum ada yang angkat, masih istirahat kayaknya.”
“Tunggu aja dulu.”
“Ya. Sebentar lagi saya coba.”
Sedikit nyaman. Bisa menyenderkan punggung.
“Eh, eh, mau coba telepon lagi?”
Aku sempat tertidur.
“Ya. Ya.”
Aku masuk lagi. Memutar nomor sembarang.
“Bisa dengan Pak Gugun?”
“Nomor berapa ya?”
“Sedang meeting?”
“Nggak ada nama Gugun.”
“Oh.”
“Apanya yang oh? Salah sambung tau.”
“Kapan kira kira bisa ditelepon?”
“Gila ni orang.”
“Oh.”
“Malah oh lagi, dibilang salah sambung juga.”
“Baik. Baik.”
“Gilaa!”
Tut… tut… tut…
Gagang telepon kembali ke singgasananya.
“Berapa?”
“Enam ratus.”
“Mari…”

Beberapa puluh langkah lagi aku bagai pengikut Musa, menemukan tanah harapan, mendapatkan kembali ketenangan. Akhir minggu ini, targetku, ketemu Pak Yos untuk bab pembahasan. Beres. Bulan depannya sidang. Wisuda. Selesailah kewajibanku.

Sampai di ujung jalan, kulihat paras para tetangga bergerombol di muka rumah. Ada apa lagi?
“Itu dia pulang.”
Aku seperti camat yang ditunggu untuk jadi pembina upacara bendera. Semua serentak menguntit kakiku yang mendekat.
“Dari mana?”
“Untung ketahuan.”
“Untung Pak Ruwi lewat depan rumah.”
“Bisa bisa komplek kita kebobolan lagi.”
“Biar monitor komputernya belum digital kan masih ada harganya.”
“Kaset juga banyak.”
“Setrikaan.”
“Tip.”
Mereka kelihatan paham benar barang barang milikku. Tapi ada apa?
“Kalau dijual cepet ke Cihapit kasetnya jadi 5 ratusan. Lumayan buat jaman susah begini.”
“Lupa tutup pintu ya?”
“Maaf, Pak, Bu. Ada apa?”
“Begini, tadi waktu Pak Rawi lewat depan rumah Situ, ada orang yang bergerak mencurigakan.”
“Saya kebagian mukul mukanya.”
“Aku sih baru pulang.”
“Si Sap tuh yang sempat ambil batu terus pukul kepalanya.”
“Siapa?”
“Pemulung.”
“Kirain orangnya baik. Jadi pemulung juga pekerjaan halal. Itu tu jadinya kalau enggak pernah puas.”
“Bola mainan anak anak sudah masuk karung.”
“Sekarang orangnya di mana?”
“Dibawa ke puskesmas.”
“Biar aja mampus sekalian.”
“Sekarang bolanya mana?”
“Dibawa sekalian buat bukti, itu juga kalau orangnya masih hidup.”
Tusukan matahari masih membekas di kepala. Aku basa basi sebentar lantas permisi masuk.
***

Dimuat di Tribun Jabar 17/8/2008

Published in: on 12/31/2008 at 10:31 am Comments (3)
Tags: ,

ALIRAN LAVA PIJAR

Bayangan, seperti kumpulan cerita pendek Iwan, tegak lurus dengan langit. Matahari membakar kulit. Tepat di tengah-tengah benda yang saban hari helai rambutnya semakin jarang. Pinggiran pertokoan tidak meneduhi. Kios pembuat stempel berebut dengan penjual koran dan teh botol.

“Hai.”

“Halo Bos. Koran? Atau yang ini baru datang…”

“Bisa saja kau. Masak tengah hari bolong begini dibilang baru. Ada kabar apa Ben?”

“Biasalah. Presiden jalan-jalan ke Australia, deeper protes, massa Banyuwangi bikin macet. Jakarta masih banyak yang demo…”

“Heh, jauh amat dari Australia ke Banyuwangi. Yang deket-deket aja kawan.”

“Oh itu. Dengar berita kemaren?”

“Berita apa?”

“Seru Bos. Lebih seru dari koran.”

“Oya?”

“Kemaren orang Palembang…”

“Ribut lagi sama anak Karapitan? Biasa kan…”

“He eh. Ributnya mah rutin. Tapi kemaren pas ada operasi Tibum. Bareng sama yang belanja awal bulan. Nambah lagi yang ambil pensiunan. Jalanan banjir. Pinuh.”

“Terus?”

“Ya seru. Kejar-kejaran. Ucing-ucingan. Ka Lengkong. Alun-alun. Dalem Kaum. Kota Kembang. Kapatihan. Kebon Kalapa. Balik deui ka dieu. Nu keur belanja jejeritan. Took-toko langsung tutup. Mobil-mobil ngacir. Taksi ngungsi. He eh. Jiga pilem eksen. Ngan teu aya mobil nu gugulitikan hungkul. Batu? Geus teu usum. Sekarang yeuh Bos, ribut begitu mah pada make clurit. Parang. Samurai. Sukur-sukur aya pestol… Satu? Sepuluh delapan ratus. Ada dua ratus? Ya. Nuhun Pak… Di sini, he eh, depan sini, darah ngalayah. Di mana-mana getih. Seru. Rame . naon? Tong salah. Aing oge miluan. Nya ikutan mukul we. Teuing saha. Pokokna ada yang lewat habeg. Nyenggol saeutik babug. Lumayan keur represing. Polisi? Aya meureun leuwih ti sapuluh mobil mah. Trek garede nu kacana diteralisan beusi. Katanya Brimob ti Jatinangor. Ujang Codet… ma’ enya teu nyaho. Itulah preman nu jidatna baret. Nu jangkung. Gondrong. Hideung. Ehm…nu pipina loba bekas jerawat. Biasa nongkrong di jembatan? He eh. He eh. Nah manehna beunang. Kena.”

“Oya?”

“Ada Anisa?”

“He eh. Tapi tadi rada pagian geus ka tingali nagihan. Gancang geuning proses verbalna… Apa? Cari apa Neng?”

“Anisa.”

“Tahu proses verbal segala.”

“Ah si Bos. Anisa? Belum datang Neng. Baru besok Jumat.”

“Neng. Neng. Ini saja. Baru. Arina. Sama-sama Anisa, cerita juga. Lebih bagus malah. Ada cerita…”
Sementara Beben sibuk membual, aku membuka suplemen koran lokal yang konon beroplag paling besar. Selintas melihat-lihat judul. Membalik. Merentang halaman tengah. Mencari kolom puisi. Mengeja barisan huruf capital di sudut kanannya. Menengok cerita pendek. Membaca judul dan nama.

“Sialan.”

“Ada yang gawat ya? Eh eh… koranna kumaha Bos? Ka mana?”

“Aku ke alun-alun dulu Ben. Korannya nanti sajalah. Tunggu mandat alias wangsit dari Australi.”
Aku menyeberang. Empat buah ban radikal seketika berhenti. Mulut CJ 7 hampir menanduk lutut. Dentaman bas dari dalamnya memukul-mukul. Sebuah kepala dengan jambul seperti kakak tua warna cengek masak keluar. Matanya hendak loncat.

“Heh. Liat-liat kenapa? Kalo gua tabrak, mampus tau.”

“Maaf.”

“Nyebrang tuh pake ini.”

“Pakai kaki juga.”

“Heh. Nantang lu.”

Empat kepala dengan wujud tak jauh beda nyembul dari jendela kiri dan belakang.

“Enggak. Enggak.”

“Kagak. Kagak. Budek apa gua kagak denger lu ngomong. Pake melotot. Bilang kagak lagi.”

“Ngejual tuh Man. Embat aja. Masa lu takut.”

“Anjing!”

“Bener mas, enggak nantang, saya mana berani…”

“Banyak bacot lu!”

Mobil-mobil lain mulai mengular sampai kaki jembatan penyebrang. Kepala-kepala melongok. Bibir berteriak tidak sabar. Klakson diteken panjang dan pendek. Sahut-menyahut. Orang-orang mulai berdatangan.

“Ada apa? Ada apa?”

“Enggak tahu.”

“Berantem.”

“Hayuh atuh jreng…”

“Iya. Gatel nih. Hajar saja Kang!”

“Mending kite cabut Man.”

“Yoi Man. Enggak usah dilayanin. Enggak lepel.”

“Awas! Laen kali, abis lu.”

“Lo enggak jadi?”

“Teuing.”

“Payah…”

Knalpot racing mobil itu menggerung. Bannya berdecit. Mengerat. Meninggalkan garis panjang hitam di aspal. Menyisakan kebulan asap putih. Aku tidak lama menunggu. Langsung nyelinap antara parkiran motor. Setengah berlari nyelusup antara tiang setinggi pinggang. Selonjor di sebuah bangku semen. Cuping hidungku mengembang. Menghisap dalam-dalam. Bau keringat kering dari ketiak menghujam. Pesing dan semburan knalpot ikut menikam.

Alun-alun, seperti biasa, setiap sudutnya orang-orang menyemak. Sesak. Di sudut kiri seorang penjual obat melilitkan ular belang ke lehernya. Dua laki-laki tua dekat WC asyik memindah-mindahkan bidak catur. Penjual gorengan tengah menghitung lembaran uang kertas lusuh. Beberapa perempuan bergincu terang duduk di pinggiran tembok. Sekumpulan laki-laki bertato mengerumuni dadu dan gerincing uang logam. Sepasang sejoli saling merapatkan bahu. Pasangan lain, kelihatannya, sedang bertengkar. Yang perempuan, mengenakan jean sobek, menuding. Yang laki-laki, tidak kalah garang, meluruskan telunjuk. Suara mereka berhimpit dengan terompet, peluit parker, dan pengeras suara dari departemen store sebrang jalan. Seorang perempuan dan laki-laki melintas. Tangan mereka menjinjing tas plastic belanjaan yang sarat. Seorang anak berlari. Sekitar bibir penuh coklat. Lewat barisan gigi hitamnya, anak itu berseru. Anak satunya menangis. Kakinya menyepak-nyepak. Tangan menunjuk pada parasut mainan yang sengaja diterbangkan di depannya. Penjualnya tersenyum menang saat si ibu sambil menggerutu membayar mainan itu.

Aku merogoh saku celana. Tinggal tiga batang kretek gepeng tertindih pantat. Korek?

“Permisi…”

“Punya api?”

“Oh ada. Ada.”

Laki-laki beryou can see itu mengeluarkan pemantik gas. Selayaknya adegan film Hollywood, dia menyalakannya untukku. Tembakau dalam lintingan berkretek.

“Permisi…”

Jreng.

“Hah?”

“Kenapa Pak?”

“Masak ngamen di sini?”

“Di sana enggak boleh sih, Pak. Satpam barunya galak. Herder aja kalah galak. Baru kita ngomong permisi, pentungannya keluar. Padahal kita sama-sama cari makan. Payah. Mentang-mentang pakai seragam.”

“Kan biasanya…”

“Parapatan? Bukan bagian saya. Seratus aja Pak.”

“Ini juga pas-pasan.”

“Masak enggak kasihan Pak. Orang miskin. Buat makan.”

“Saya juga belum makan.”

“Rokoknya aja Pak.”

“Rokok sih bukan seratus.”

“Satu aja Pak.”

“Tinggal tiga…eh dua, buat sampai malam.”

“Ah…percaya.”

“Ini. Ini.”

Aku terpaksa menyerahkan seratus rupiah padanya.

“Rokoknya?”

“Katanya seratus.”

“Ya, kalau dikasih dua-duanya enggak ditolak Pak. Tapi ini juga terima kasih lah.”

“Lo?”

“Kenapa Pak?”

“Kok enggak nyanyi?”

“Saya ngamen buat cari uang Pak. Kalau uangnya dapet ya…”
laki-laki itu berbalik. Ngeloyor pergi.

Babon! Apa isi kepala orang itu? Bisanya ngomong satpam galak, orang miskin, cari uanglah, belum makan. Kera busuk! Dia sendiri seenaknya memperlakukan orang. Apa dikiranya aku juga tidak butuh uang? Apa kelihatannya hidupku lebih enak, lantas bisa bebas diinjak-injak.

Gunung berapi lahir. Mungkin dari lambung yang sedari pagi belum menggerus makanan.

Belum lagi ditengah terik aku harus berjalan kaki. Kenapa? Pertanyaan bodoh. Biar bagaimana, aku harus keluar kamar. Harus. Perkaranya? Belum cukup apa? Dengar. Tepat jam sebelas Bu Prapto pasti akan mengetok kamar. Dia akan nagih pembayaran uang kos yang dua bulan ini aku tunggak. Kalau kali ini seperti kemarin-kemarin, hanya janji yang kuberi, dia seperti bendungan bocor. Puluhan, bahkan ratusan huruf menggelincir dari bibir bak Julia Robertnya. Aku sudah kehabisan kata. Kontras memang. Penyair ditinggalkan kata. Mau apa? Kata-kataku tidak punya kekuataan menghadapi hal-hal semacam itu. Makanya, mau tidak mau, dengan mengantongi seribu lima ratus perak yang telah berkurang seratus disantap pengamen sialan itu, aku ke sini. Kenapa ke sini? Itu juga pertanyaan bodoh. Tempat ini strategis, sangat strategis dengan kondisiku sekarang. Aku bisa tahu, dengan berpura-pura hendak membeli koran, melihat kalau-kalau puisi atau cerpenku dimuat. Kalau dimuat, dengan jalan sejauh dua kilo lagi aku bisa sampai rumah Darno. Aku perlihatkan korannya sebagai jaminan. Aku bisa pinjam uang. Bisa makan. Bayar kos. Beli rokok. Pulang dengan kendaraan umum. Sederhana. Kalau tidak? Ya seperti yang dilihat. Tidak jadi beli Koran. Selonjoran sambil mengisap rokok. Tidak tahu harus bagaimana. Lalu ditindas pengamen fasis.

Nyeri melilit usus. Lengkap! Oh. Satu lagi. Nyaris mati tertabrak manusia-manusia planet punk. Gila! Aku juga hampir saja jadi biang keributan. Cepat sekali orang-orang tadi berkerumun…

Celanaku basah. Aku bangkit. Ada bercak coklat kekuningan di bangku yang kududuki. Aku mengusap-ngusap pantat. Lembab. Berlendir. Likat. Aku endus telapak tangan. Anyir.

Puah! Tambah lagi kesialanku.

Aku bergegas menuruni WC di pojok alun-alun. Dua keran wastafelnya macet. Dua pintu tertutup. Aku menunggu. Menghitung jari kanan. Jari kiri. Menghitung ruasnya. Kanan. Kiri. Pintu itu masih juga belum terbuka. Banyak tulisan sepenuh tembok kamar mandi. Tulisan-tulisan itu sepertinya menyeringai. Mengejek. Orang sabar kekasih gusti. Gusti Randa. Randa Aceh. Hapus DOM di Aceh. Dom pimpah alaikum gambreng. Pisang gambreng. Goreng et mah euy. Seragam tentara yang goreng-goreng. DOM? DOM meledak di Antapani. Jangan tulis-tulis antapani! Di situ rumah Asih. Jelitaku yang telah menyakit hati tapi aku tetapi mencintaimu, saying. Hidup cinta. Hidup orang miskin. Berangus…

Akhirnya seorang laki-laki berperut buncit keluar. Aku segera nyerobot. Membilas celana. Berkali-kali. Sampai kurasa benar-benar bersih.

“Uangnya?”

“Saya kan enggak kencing.”

“Tadi masuk.”

“Saya hanya cuci celana.”

“Mana tahu?”

“Ini basah.”

“Bisa saja Situ berak di celana.”

“Sial…”

“Kenapa?”

“Enggak. Saya kira hanya yang…”

“Bisa baca?”

“Kenapa tanya-tanya, apa bisa baca…”

“Bisa baca enggak? Nah bagus kalau bisa baca. Itu aturannya. Baca.”

Penjaga WC menunjuk kertas yang bertulis spidol biru, masuk WC 300.

Dengan berat hati, tiga ratus perak aku masukkan dalam kotak kusam dekat tempat duduk penjaga itu.

Apa kubilang?

Orang macam begini ini yang bikin kacau negara. Sedikit saja diberi tempat, dikasih kekuasaan, dipakaikan seragam, yang dibilang pengamen tadi mentang-mentang, sudah jadi tirani. Ngelunjak. Gendang telinga dibiasakan tertutup. Mana mau mendengar orang lain bicara? Hantam kromo! Peraturan ditulis pasti ada konteksnya. Dan konteks itu sekarang, seribu seratus perak. OK Bung Freire. Salut. Tabik buat budaya kemiskinan Sampeyan. Terbukti.

Ludah di pangkal lidah terasa masam. Pandangan menguning. Telinga berdenging.

Aku harus duduk. Tapi sekarang tepat jam istirahat. Bangku-bangku, tembok-tembok, anak tangga, pinggiran pagar, semua penuh. Orang-orang tengah melahap kupat tahu, lontong kari, mi ayam, gado-gado. Menyeruput teh botol dingin, air mineral, es cendol. Tak peduli. Tenggorokanku gantang. Tidak ada sisa liur yang dapat kutelan. Aku menyeret langkah. Pelan. Mencari bangku kosong yang tersisa.

Dekat pagar besi menghadap mesjid, sebuah bangku agak panjang diduduki seorang laki-laki tua. Sampingnya bungkusan tergeletak. Masih ada tempat ujung satunya kosong. Tidak ada pilihan. Aku hempaskan pantat di situ. Tengkuk kulipat. Mata pejam. Angin panas kusedot. Menahannya dalam hitungan sepuluh. Kutiup pelahan.

Aku selipkan sebatang rokok. Korek?

“Jang. Jang.”

“Rokok A?”

“Minta api ya?”

“Yeh.”

“Nuhun.”

“Sugan teh rek meuli, nyaho kitu mah…”

Anak kecil dengan koreng dibetis itu meludah. Menjauh. Terus menggerutu.

Kapitalis cilik! Sebatang korek api. Hanya sebatang korek api saja bikin anak bau ketuban sudah berani kurang ajar. Apa yang diajarkan orang tuanya di rumah? Tidak sempat. Baik. Apa yang dikerjakan LSM anak jalanan yang katanya dapat dana luar negeri? Tidak sempat juga. Apa maksud UUD anak terlantar dipelihara negara? Idem. Babon! Sebatang korek api. Bayangkan…

Gelambir bibir laki-laki tua disampingku menyemburkan dahak dekat kaki. Dia berdehem. Sekali lagi.

“Asli sini?”

Aku mengiyakan agar pertanyaan tidak berlanjut.

Sekarang bagaimana? Apa nekad saja ke tempatnya Darno? Kemungkinan pertama, dia jera. Tidak mau lagi meminjamkan uang. Tapi setidaknya aku bisa menebalkan muka berbaring sebentar di sana. Ada alasan untuk bilang aku menunggu malam, supaya pulang tidak terlalu panas karena aku berjalan kaki. Itu harus kuucapkan dengan tegas dan jelas padanya. Jalan kaki. Siapa tahu pori-porinya masih bisa tersentuh. Hal lain, kalau aku di sana sampai agak malam masak dia tega tidak menawariku makan. Kemungkinan kedua. Dia baru terima upah. Sedang berbaik hati. Dia mau meminjamkan uang. Minimal untukku melanjutkan hari selama seminggu. Nantilah memikirkan Bu Prapto…

“Bapak sih baru datang.”

“Oh.”

Kemungkinan ketiga, ini yang terburuk, dia sedang pergi. Tidak mungkin ditunggu karena tidak pasti jam pulangnya. Kalau begitu, artinya aku jalan kaki dua kilo lagi, Bu Prapto, plus perut kosong.

“Apa setiap hari ramai begini?”

“Iya.”

Kemungkinan lain? Mi rebus? Seribu perak hanya untuk karbohidrat dan penyedap. Tidak. Warteg? Sambel sama lalaban gratis. Teh hangat free. Nasi tujuh ratus. Tahu sayur dua ratus lima puluh. Sisanya seratus lima…

“Memang enak duduk di sini bisa lihat yang jalan-jalan… Bapak sedang nunggu agak sore mau ke tempat anaknya Bapak di Gegerkalong, kalau dateng sekarang pasti enggak ada di rumah mereka orang sibuk ya namanya kerja di jaman sekarang mana bisa santai apalagi kalau jadi tentara.”

“Oh.”

“Sedang apa?”

“Apa?”

Asap tar dan nikotin kuhembus kuat-kuat.

“Sedang apa di sini?”

“Oh… Istirahat.”

“Iya ya buat istirahat juga di sini enak…”

Mulut laki-laki itu mengusik. Membangunkan El Misti yang hampir lelap.

“Kalau capek memang perlu duduk sebentar, istirahat. Dari mata saja Bapak bisa lihat kalau Situ capek sekali. Mata kan jendela hati. Kalau susah atau ada pikiran mata jadi keruh tidak jernih, kalau capek urat-urat di putihnya menonjol keluar, mata yang keruh ditambah lagi berurat itu akibat jalan darah tidak sempurna dan akan memompa produksi adrenalin…”

Magma pekat dalam tubuhku mencair. Membara. Campuran karbondioksida dan belerang bergelegak. Bergolak naik. Kulit di sekujur membengkak. Retak. Pecah.

“Kesehatan itu karunia yang harus dipelihara ya kuncinya satu kalau kerja jangan diporsir bahasa Bapak jangan ngoyo, mesin dari baja yang tahan laser begitu saja kalau dipakai nonstop bisa aus apalagi badan manusia yang hanya tulang sama daging ya kalau tidak hati-hati pasti cepat ambruk dan jangan lupa sakit enggak hanya pisik tapi juga psikis ini yang repot, makanya Bapak selalu wanti-wanti sama anak Bapak bilang ke mereka, cari uang boleh, ngejar pangkat tinggi silakan, ambisi karir naik juga enggak dilarang, tapi… Ada tapinya, tapi jangan lupa jaga kesehatan istirahat. Cukup makan. Cukup istirahat.”

“Hem…”

“Dua bulan lalu mantu Bapak kena tipus sempat diopname sampai dua minggu dirawat di rumah sakit tapi baru sembuh sehari dianya langsung ke Jakarta waktu itu Jakarta lagi ramai peledakan bom dia kan bagian operasi jadi ya harus langsung turun ke lapangan tahu kan yang meledak di gereja di panti asuhan bank pertokoan…Lo mau ke mana?”

“Ke sana…”

“Di sini saja. Sampai mana? Oh ya kabar terakhir Bapak terima dia sudah enggak bolak-balik ke Jakarta Bapak tanya kenapa dia bilang di sini juga rawan sekitar semingguan ke belakang katanya ada perkelahian antar gang pakai senjata tajam malah pakai pistol segala ya mana tahu dari mana terus ini juga ceritanya ada orang yang curi sandal diadili massa dibakar tuh hanya curi sandal saja dibakar apa tidak sadis? Tapi kriminal juga makin sadis mau ambil gelang eh sama tangan-tangannya dipotong nah nah ini berhubungan dengan apa yang Bapak bilang tadi sakit psikis…”

Aku tak tahan lagi.

Badanku gemetar. Gempa mengguncang. Magma kental terdorong sampai mulut kaldera. Buncah. Muncrat. Menggelegar. Bantuan terlempar. Kisaran uap beracun dan abu melingkup langit. Bergulung-gulung. Lava pijar menjalar. Mambakar. Kepala hingga sumsum tulang belakang tersiram. Beludak lewat mata.

Aku bangkit.

Aku hampiri laki-laki yang bergerombol tak jauh dari situ. Aku bisiki salah satu dari mereka. Dia terbelalak. Dia perhatikan orang tua yang masih belum menyadari ketidakhadiranku. Bibirnya masih gerunyam. Sesekali tangannya bergerak-gerak. Kerutan di pinggiran mata laki-laki itu mengerap. Kulit pipinya turun naik seiring mulut yang tidak putus bicara.

Laki-laki yang kubisiki itu membisik pada laki-laki lain di sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya lagi. Berantai. Tak lama. Orang-orang seperti aliran sungai lava mendidih. Melancap deras. Melindas. Mereka santroni laki-laki tua itu. Mereka berteriak. Mengumpat. Menyerbu.

“Orang itu…”

“Bom! Bom! Orang itu bawa bom.”

Dimuat di Pikiran Rakyat 4 April 2002

Published in: on 08/15/2008 at 7:57 am Leave a Comment
Tags: , ,

LASTRI

Perempuan berambut gelombang itu terus memampatkan paru-parunya. Serbuk-serbuk udara terus dihisap walau dadanya sudah terasa sesak. Getar jantungnya seperti hujan musim pancaroba. Tak berirama. Beberapa helai rambut berceceran di atas jerami basah. Pipi sepucat bunga randu ditetesi embun kemerahan mendari ujung-ujung lalang yang terkulai.

Hari belum lama rekah.

Benar kan, Lastri menepati janji.

Perempuan itu tersentak.

“Lastri?”

Ujung bibir anak kecil itu menciut. Membentuk senyum. Deretan giginya yang sebagian ompong dan hitam tampak. Lastri kelihatan segar dengan rambut basah sebatas telinga sehabis keramas. Ia menggelosotkan kaki sepanjang pematang. Menghampirinya. Tas kecil yang tersampir di bahunya berayun. Wanginya seperti tanah basah.

Lihat, ni. Sudah dijahit sama Ibu… sambil marah-marah. Lastri!

Lastri menggerak-gerakkan telunjuk menirukan Ibunya.

Lastri! Jangan main di sawah lagi. Di sana banyak paku. Banyak rumput domdoman. Banyak… Banyak… Oh iya. Banyak keong yang bikin gatal. Kamu kan kalau sudah gatal-gatal ributnya minta ampun. Bikin repot satu rumah. Dan jangan biasa ngomong sendiri, banyak genderuwo lewat, nanti kalau kesambet… Eh, Ibu aneh ya? Masak orang-orang udah sampai ke bulan masih bilang ada genderuwo. Lastri tertawa. Enggak boleh ngomongin orang ya? Enggak kok. Lastri sayang sama Ibu. Ikut duduk di sini ya?

Lastri duduk seenaknya di atas rumputan. Rok merahnya melembab. Bola matanya yang bulat berkerjapan menembus kabut. Langit masih merah. Awan abu-abu berlintasan menjauh. Mencari malam di tempat lain. Angin pagi membuat suara lirih dari sisa batang-batang padi yang bersintuhan. Sampai juga di telinga perempuan itu dengung puluhan bebek yang berbaris rapi di kejauhan.

Ji, ro, lu, pat… kiri…, kanan kiri… Lastri berteriak. Para pengangon melambaikan tangan. Lastri tertawa kegirangan.

Sekarang saya bisa merasakan seolah semuanya menggenang.

“Lastri mau ke mana?” Suara itu keluar lamat-lamat dari bibir yang telah merapat. Perempuan itu sendiri pun hanpir tidak bisa mendengarnya.

Pori-porinya membesar melawan dingin. Udara beku. Perempuan itu menggerakkan kepala pelahan. Kulit bahunya merasakan gesekan tanah. Dan dadanya telah benar-benar sesak. Perempuan itu berusaha menegakkan telinga. Menajamkan pendengaran. Ngilu seketika membekap. Kepala yang nyaris terangkat kembali menghantam tanah. Kelopak matanya sempat terbuka. Hanya jejak sepatu. Ada juga kepakan sayap capung yang bersliweran. Lantas dinding gelap yang sukar ditembus.

“Ke mari, Bapa… temani saya. Mereka telah pergi. Saya takut…” Bibirnya lagi bergerak-gerak.

Ruang dalam kepalanya seperti berpintu. Banyak sekali pintu. Satu pintu terbuka. Satu peristiwa datang. Pintu lain terbuka. Peristiwa lain datang. Lalu tidak hanya satu pintu yang terbuka, kadang-kadang beberapa pintu sekaligus terbuka. Peristiwa-peristiwa berloncat-loncat. Tapi semaunya berputar.

Peristiwa itu seperti baru beberapa menit berlalu.

Masih digelayuti penat dan guncangan kereta semalaman, Lastri duduk di atas kursi kayu tua. Sepiring singkong rebus dengan irisan gula aren mengepul di hadapannya. Ibu hanya diam. Tangan perempuan yang semakin ringkih itu membereskan bungkusan oleh-oleh yang dibawanya. Berkali Ibu melakukannya. Sekedar kegiatan mengusir ketegangan. Laki-laki yang telah dimakan usia dan matahari itu, mengisap dalam-dalam pipa tanduknya. Asap seketika menebar. Separuh menyesakkan dada Lastri.

Semuanya terserah Lastri. Tapi jangan lupa, kamu tidak bisa mengelak dari usia. Biar kamu sekolah tinggi, sudah bisa cari makan sendiri, orang-orang tetap lihat kamu anakku. Kami hanya bisa mengingatkan, memberi tahu, tetapi tetap semua keputusan ada di tanganmu. Ya, semuanya terserah Lastri. Kedewasaan semoga menyertai usia dan pilihanmu…, kata Ayah. Tak jarang ayahnya sedingin muka altar.

Lastri menggigit bibir. Semua terserah padanya. Ayahnya selalu begitu. Selalu saja itu dijadikan senjata pamungkas. Tapi apakah dapat mengingkari sejarah. Ia ingin menangis. Mendorong gumpalan yang sedang menyambut kerongkongan. Bola matanya yang bulat beriak.

Lastri capek lho, Pak. Iya kan, Nak? Istirahat dulu. Ibu sudah siapkan teh manis kental dari tadi, tapi mungkin sudah dingin. Waktu kamu telepon dari stasiun tadi, Ibu langsung godok air.

Ibu masih seperti dulu. Demikian paham dan mengerti. Terkadang.

Bukan soal mudah, Bu, katanya, ada beberapa yang harus dibenahi sebelum melangkah. Aku bukan tidak mempedulikan Ibu dan Ayah. Bukan. Bukankah yang kita inginkan adalah bahagia yang abadi? Bukan tanpa alasan Romo Purnomo selalu bilang, tidak ada perceraian itu karena Bapa…

Tangannya berhenti mengeluarkan pakaian dari dalam tas. Lastri ingat laki-laki itu dan beberapa harinya yang sepi. Tidak. Aku tidak kesepian dan sendiri. Aku hanya butuh waktu yang panjang untuk belajar, gumam Lastri.

Ibu ngerti, tapi…

Lastri diam. Ia menyelam dalam keteduhan mata Ibu. Ingin benar rasanya ia bergegas menyelesaikan hal-hal yang mengganjal di antara mereka. Lastri telah menaiki kereta. Ia menahan kantuk diiringi bulan yang menyabit langit dari bingkai jendela kereta. Rindu terus menguntitnya menuju kota di mana jarak ternyata telah terentang. Kota yang beruang dan ada seorang laki-laki yang pernah di setiap petang menggenggam buket melati. Laki-laki itu cermin yang setiap saat mengingatkan. Rindu menguntit Lastri dalam perjalanan pulang. Pulang?

Lastri datang dan mengetuk pintu. Ia berharap dapat bicara berdua saja seperti dulu. Tapi ia sekarang sedang mengetuk pintu. Lastri hanyalah tamu. Apa pulang kalau begitu?

Bukan soal mudah, Bu, gumamnya lagi, mungkin yang dibutuhkan lebih banyak lagi kesabaran dan pengertian. Lebih banyak lagi…

Lastri memiliki tumpukan kesabaran dan kepercayaan yang teramat. Kadang, ketika jenuh dan tak tahu, ia mengagumi dirinya sendiri untuk hal itu.

Semuanya berlalu cepat. Demikian cepat dan tak terkejar.

Bukan soal mudah.

Mata perempuan itu masih terpejam. Matahari mulai mengunjungi. Semakin tinggi. Angin menyusup di antara dinding yang terbuat dari bilahan-bilahan bambu. Sobekan panjang di bajunya yang lembab membuatnya mengkerut. Ia merasa kecil dan dingin. Di luar senyap. Tak ada kehidupan setelah panen, ia hapal betul itu, kecuali paruh-paruh bebek yang bercipuk dalam genangan.

Kamu tahu aku. Apa mungkin? Lastri terisak di gagang telepon.

Ya. Ya. Tapi soalnya ini bukan persoalan antara kita…

Ya aku tahu. Aku mungkin hanya butuh penegasan untuk membenarkan semua ini, potong Lastri.

Kamu jelas tidak salah. Bukan sebuah pembenaran…

Kamu lama mengenalku, mungkinkah aku seperti yang dikatakan mereka? Tanya lastri lagi.

Hey, hey, ini bukan persoalan antara kita. Bukan. Sekarang apa rencanamu? Jawab suara di seberang kabel.

Aku rasa apa yang aku lakukan bukan untuk kepentingan pribadi. Aku tidak dapat apa-apa dari semua ini. Kamu tahu itu. Tapi mereka mengatakan aku… Mereka bilang aku…

Laki-laki di seberang kabel telepon menunggu.

Aku… Lastri terisak.

Katakan…

Mereka bilang aku PKI… Isak Lastri semakin mengeras.

Anjing! Mudah betul untuk membunuh orang. Tinggal bilang turunan PKI, bles… kamu dapat disingkirkan. Bukan salahmu. Mereka hanya butuh kambing hitam. Aku kan pernah bilang. Lalu?

Aku hanya mengatakan apa yang kukira benar dan aku tidak pernah memaksakannya. Aku tidak mau memaksakan. Aku hanya mengajak mereka bicara baik-baik, bukan seperti dua kelompok yang bermusuhan. Aku bukan hendak…

Nining berhenti memijit tuts-tuts keyboard. Ia memandang dari balik komputer. Sebagai kawan yang merasa dekat, Nining paham dan sekaligus tidak mengerti kebatuan Lastri yang dirasanya hanya mempersulit diri. Dia tidak sepenuhnya bisa mengerti karena dia tahu Lastri dapat memilih jalan lain. Semuanya bisa dihindari, kalau ia mau. Lastri cerdas dan baik. Ia dapat keluar kerja dan tanpa kesulitan mendapatkannya lagi. Dan mungkin lebih baik. Beberapa kali telah dikatakannya, tapi Lastri hanya menggeleng dan tersenyum. Nining tak habis mengerti.

Nining juga sudah mengingatkan Lastri tentang mata Okita yang tajam memandang Lastri setelah angket itu disebar. Juga tentang kabar pertemuan di ruang B3 yang berkali menyebut nama Lastri. Juga tentang Pak Mamat yang gelisah. Tapi Lastri hanya diam dan terus berjalan. Nining hanya bisa diam. Ia menghormati pilihan Lastri. Juga karena ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Aku ingin ketemu. Aku lelah di sini. Aku merasa dikepung. Sejujurnya aku ingin pergi, benra-benar pergi… Tidak. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Mereka hanya minta apa yang menjadi hak mereka. Mereka… Tega betul. Aku hanya… Lastri tidak dapat menahannya lagi. Ia hanyut seperti gedebong pisang mengikuti arus.

Gagang telepon berayun. Wajahnya telungkup di atas tumpukan kuitansi-kuitansi upah.

Nining menghampiri. Tangannya mengusap rambut Lastri. Hanya demikian.

Perempuan itu berusaha menggerakkan badan. Sia-sia. Hanya perih yang semakin. Jari-jari perempuan itu merayapi paha dan selangkangannya. Darah setengah kering. Kepala bertambah berat.

“Bapa… Hanya ini. Terima kasih untuk telah mencoba…” Perempuan itu berbisik. Suaranya ditelan gonggongan anjing kampung mengendus anyir.

Ning, aku tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Tidak untuk sesuatu. Semoga kamu percaya. Tidak untuk sesuatu seperti yang mereka bilang. Aku merasa ada yang bisa kubuat untuk yang lain. Mungkin kecil tapi aku berharap dapat berarti. Dapat berharga. Tidak untuk sesuatu, Ning.

Kamu tahu akibatnya, Ti. Dan itu, mungkin bukan hanya pemecatan. Saya mencium ada sesuatu yang mengerikan. Saya merasakannya…

Aku hanya mencoba apakah kaki ini bisa melangkah. Apakah bibir ini bisa berkata-kata. Hanya itu. Jesus juga tahu apa akibatnya tapi Dia, kamu tahu, terus mendaki. Terus memanggul kayu salibnya sendiri.

Hei, ngomong apa sih?

Aku dipanggil dewan nanti sore setelah meeting. Kalau aku dipecat, pinjam uang untuk bayar teh botolnya Pak otong ya…

Sudah ah. Nining tergidig.

Tapi siapa dapat menebak suratan. Siapa sangka kebersamaan selama ini mendekati titiknya.

Mata perempuan itu tertutup kain. Tak ada sinar yang dapat masuk terlebih hari telah demikian larut dan awan hitam sedari tadi menggantung. Bagian keningnya memar. Ia susah bernafas. Ada darah mengering di sepanjang lorong hidungnya. Sepotong besi dingin mendorongnya agar cepat menapaki pematang. Lengan kirinya ditarik. Dengan langkah digayuti penat, bibirnya hanya menggumamkan do’a Maria tidak putus-putus. Kaki yang tanpa alas itu merasakan tusukan duri putri malu dan ranting-ranting.

“Maafkan Bapak, Ti…” Bisik laki-laki setengah baya tertunduk di sampingnya.

Ia paham. Kepalanya berusaha ia anggukkan. Ia ingin bilang, bahwa ia paham. Tapi tak satu kata dapat diucapkan bibirnya yang sobek. Tak satu jerit yang bisa keluar ketika besi menghantam rusuknya berulang. Tangannya pun kaku, tak dapat membendung darah ngocor tak henti-henti dari selangkangannya. Tak ada titik air yang bisa keluar dari matanya ketika puntung-puntung rokok membenam dalam payudara. Tak dapat lagi kepalanya yang berdarah ditikam pecahan botol memanggil Lastri kecil, Ayah, Ibu, Nining, dan laki-laki terkasih itu. Padahal ia sekedar ingin memberi mereka semua kecupan. Perempuan itu hanya melihat tangan yang seolah datang dari kegelapan menutup halaman-halaman waktu.

“Bapa, hanya ini… Terima kasih sudah diberi waktu untuk mencoba…”

Siapa dapat menebak suratan? Siapa sangka kebersamaan selama ini mendekati titiknya. Siapa duga satu waktu berjarak hanya sekian mili dari perpisahan?

Nining tidak.

Pagi itu Nining dijemput. Mereka minta ia mengenali Lastri. Nining tidak tahu tubuh siapa yang sedang dilihatnya. Kecuali kalung salib dari perak yang telah rapat terbakar memang milik Lastri.

Tapi siapa dapat?**

Dimuat di Pikiran Rakyat 9 Desember 1997

KERETA API MALAM

Darah kering terselip di kuku jari tengahnya.

Perempuan itu merasa sesak. Mata laki-laki tua di sampingnya setengah terpejam. Beberapa kali kepala setengah botak itu jatuh ke pundaknya. Laki-laki tua itu tersentak kaget. Perempuan itu tidak tahu apa itu sungguhan atau sekedar pura-pura. Setelahnya laki-laki itu akan tersenyum sebagai permintaan maaf. Senyuman itu yang membuat dada perempuan itu sesak. Bibir laki-laki tua itu seperti liang pantat. Nakal. Lalu, laki-laki tua itu terkantuk lagi. Bau minyak angin bercampur tisu penyegar tercium dari tubuh tuanya yang menggelambir. Perempuan itu menggeser duduknya. Menjauh. Kini, seluruh tubuh tua itu miring ke kiri. Pipinya yang coklat terbakar matahari bersatu dengan kaca jendela buram berselimut debu. Napas laki-laki itu mulai teratur.

Darah kering juga terselip di kuku ibu jarinya.

Perempuan itu melirik pada sepasang anak muda di hadapannya. Mereka mungkin orang kaya. Si laki-laki mengenakan celana hitam dengan kemeja katun putih yang lembut. Si perempuan memakai sepatu sendal keemasan yang kelihatannya mahal. Mereka duduk berimpitan. Mata mereka terpejam. Tapi Perempuan itu yakin keduanya tidak tidur. Ia melihat gerak tangan yang disembunyikan di bawah jaket seperti lilitan ular saling melingkar. Sebuah tangan bergerak-gerak di payudara si perempuan. Kadang memeras. Kadang mengelus. Jakun si laki-laki naik turun dengan cepat. Si perempuan beberapa kali tak sadar mendesah. Mereka berdua pasti tidak akan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Perempuan itu menyapu matanya ke sekeliling. Tak seorang pun yang dikenal dan mengenalnya. Ia memungut sebatang korek api dari lantai. Mematahkan ujungnya. Lantas mengorek-ngorek kuku. Kuku-kukunya besar, kasar, panjang dan tidak rapi. Kotoran sebesar biji padi dia cungkil. Butiran lembek itu ditekan-tekankan di antara ibu jari dan telunjuk dekat hidungnya.

Bau busuk yang enak. Mungkin seperti bau arak murahan dan asap rokok.

“Baumu enggak enak, Le. Mana?”

“Apa, Bu?”

“Kan ibu suruh kamu panggil bapak.”

“Sudah ah, mulai sekarang Sule enggak mau lagi kalau disuruh panggil bapak.”

“Didamprat?”

Sule mengangkat bahu. Dia berbalik. Menelikung dan membungkus punggungnya dengan sarung.

Garwa memegang dahi Sintren. Panas badan anak bungsunya belum juga turun.

“Le. Bangun dulu. Ibu mau nyusul bapak. Kamu jaga Sintren sebentar ya.”

“Tapi, bu…”

Sule menghentikan gerak bibirnya melihat mata Garwa yang membesar.

Kereta berhenti tiba-tiba.

Lima buah lampu menyala. Tiga buah mati. Termasuk lampu di atas kepala perempuan itu. Laki-laki tua di sampingnya terlempar tepat di pangkuan sepasang anak muda yang tangan mereka masih merayap-rayap. Mata laki-laki tua itu berkerjapan. Dia menyeringai ketika sadar kepalanya beralas paha kenyal si perempuan muda.

Telapak tangan laki-laki tua itu mengusap air liur. Si laki-laki kelihatan kesal. Si perempuan diam-diam mengancingkan kemeja.

Perempuan itu tidak tahu kereta berhenti di mana. Ia baru pertama kali bepergian dengan kereta.
Kelihatannya stasiun kecil di luar kota.

Keheningan malam berubah wujud. Beberapa penumpang mendecakkan lidah karena tidur mereka terganggu. Beberapa penumpang lain mengeluh karena kipas angin yang malas berputar. Kipas itu berputar seperti kitiran bambu tanpa angin. Berputar. Tapi lebih banyak diam. Perempuan itu kelihatan tidak peduli. Dari kaca jendela sebelah kanan penjaja makanan bergerombol menawarkan dagangan. Suara-suara dari luar menyadarkan perempuan itu bahwa sejak pagi perutnya belum sempat diisi. Biasanya ia tahan seharian tidak makan asalkan minum teh hangat. Atau juga dengan mengisap sisa rokok yang ditinggalkan suaminya. Tapi ia sadar tidak mungkin merokok dalam kereta. Seorang perempuan berdaster tipis, sendiri, merokok pula, pasti laki-laki tua di sampingnya mengira ia lonte. Mulutnya pahang dan bau. Ususnya mendadak perih. Perempuan itu membuka jendela. Ia mengambil bungkusan nasi dan teh dalam plastik. Lalu menyerahkan dua lembar uang lima ratus bersamaan dengan melintas kencang sebuah kereta dari arah depan di rel sebelah kiri.

Tak lama kereta mulai melaju pelan.

Laki-laki tua di sampingnya kembali bersiap tidur.

Garwa membuka pintu. Matanya lama baru bisa menyesuaikan dengan keremangan bohlam 10 watt di tengah ruang. Tempat itu terasa pengap oleh asap rokok dan bau tuak murahan. Kepala Garwa pusing. Gatal-gatal di vaginanya mulai lagi terasa. Garwa hampir tidak tahan untuk menggaruknya, kalau saja ia tidak ingat rasa perih dan panas ketika kencing. Vagina itu sudah sebesar batok kelapa. Dan totol-totol di sekitar bibir vaginanya sudah pecah. Berair. Baunya seperti kuah sayur asem yang sudah berjamur. Kalau terkena air kencing, perih itu membuat mata berair dan urat-urat paha mengejang. Garwa menjejakkan kaki kuat-kuat ke lantai tanah yang keras untuk menahan gatal. Mata Garwa sekelebat menangkap tangan Agus yang mengambil lembaran uang dari belahan dada Misun.

Perempuan itu membuka bungkusan nasi dengan rakus. Sebuah irisan tipis tempe, irisan timun layu, dan sambel terasi. Lumayan untuk memberi makan cacing-cacing dalam perut. Ia meniup tangannya. Seolah kotoran dan bekas keringat dapat hilang dalam sekali hembusan. Sudut sempit mata perempuan itu sempat melihat lirikan jijik laki-laki muda di depannya.

Ia tidak peduli. Perempuan itu juga tidak mempedulikan Agus yang pulang dengan badan loyo dan berminyak karena begadang. Begitu pula kalau Agus pulang dengan mata birahi. Tapi tidak peduli tidak harus sama dengan kebodohan. Perempuan itu tahu kapan harus mengungsi ke rumah orang tuanya, kapan harus menurut saja disuruh mengeroki punggung berdaki Agus, kapan harus mengangguk atau menggeleng. Ia juga tahu kapan tidak perlu menolak seretan laki-laki itu ke kamar, disuruh telungkup atau menjilati dada hingga paha suaminya yang cairan sperma kering masih lengket di situ.

“Garwa! Kalau Burhan ke mari, bilang aku pergi.”

Perempuan itu mengangguk.

“Heh. Garwa! Kalau Burhan ke mari, bilang aku pergi. Dengar?”

Agus seperti habis berendam dalam puluhan botol alkohol. Ludah berpercikan dari mulutnya. Mata laki-laki itu sekeruh sungai di musim hujan. Pasti dia tidak melihat anggukan Garwa.

“Kopi.”

Garwa tidak perlu menjawab. Hanya dari kamar belakang yang merangkap dapur juga tempat penyimpanan segala macam barang rusak, terdengar denting sendok menyentuh bibir gelas. Sangat keras.

“Tumben ada kopi. Enak lagi.”

“Hasil jualan pepes.”

“Siapa yang bikin? Mino?”

Garwa menggeleng.

“Sule mana?”

“Ke terminal.”

“Ke terminal? Mau jadi preman? Cari modar! Makin besar bukan makin keruan. Bilang sama dia, aku marah. Garwa. Garwa. Ini…” Agus melemparkan beberapa lembar ribuan. “Biar ibumu tutup mulut. Mulut kayak knalpot. Ke mana-mana ngomong. Mantu pengangguran. Mantu suka minum. Suka judi. Tua-tua bukannya inget kuburan. Coba. Coba kalau menang. Dia ikut senang.”

Laki-laki itu membuka serbet kumal yang menutupi satu-satunya piring di atas meja.

“Pepesnya tinggal satu.” Garwa menyerahkan sepiring nasi yang sebagiannya telah kering.

“Hanya ini?”

“Nanti saya minta Ibu kalau mau…”

“Jangan! Besar kepala nanti.”

“Tapi nasinya hanya itu. Enggak masak lebih. Saya kira enggak akan…”

“Enggak akan pulang? Seneng kamu aku enggak pulang.”

Agus menaikkan kaki ke atas meja. Bajunya basah oleh keringat. Laki-laki itu membuka bungkusan daun pisang. Garwa berdiri dekat pintu dapur. Dadanya berdebur. Apa akan ketahuan? Tidak. Suaminya tidak mungkin tahu. Garwa sudah mencampurkan banyak irisan daun kemangi, bumbu penyedap dan daun bawang. Garwa memperhatikan gigi Agus mencabik-cabik isi piring dalam hitungan kedipan mata. Decakan laki-laki itu melebihi mulut kuda. Perut Garwa diaduk-aduk. Mual. Cairan asin memenuhi rongga mulut. Ia ingin memuntahkan dahak bercampur butiran nasi yang tidak sempurna dikunyah. Garwa menekan bibir bawahnya sampai gigi-giginya terasa menancap.

“Air.”

Agus menyudahi makan siangnya dengan berkumur air putih hangat. Menelannya dalam sekali tegukan. Bersendawa.

Malam beranjak. Semakin gelap. Kereta baru saja melewati jembatan panjang. Pori-pori perempuan itu membesar karena tiupan angin yang masuk dari jendela kereta yang rusak. Ia telah selesai makan. Bibirnya mendengus-dengus kepedasan. Dari ujung plastik yang telah digigit, teh hangat membasahi kerongkongan.

Kini ia memejamkan mata.

Kereta memasuki terowongan hitam. Besok pagi-pagi sekali ia akan sampai ke sebuah tempat yang tak seorang pun mengenalnya. Tak seorang pun. Tak seorang juga akan tahu tentang seekor tikus yang dicincang untuk makan siang suaminya.

Ia memejamkan mata.

Dimuat di Media Indonesia 5 September 1999

Published in: on 07/31/2008 at 7:11 am Leave a Comment
Tags: , ,