Wawancara

Setiap kali ada mata kuliah Wawancara, Nalar—juga sejumlah orang atau komunitas atau tempat lain di Jatinangor—ada dalam daftar. Ada saja yang membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi kerap datang mewawancarai: profil komunitas belajar, profil toko buku komunitas, profil beberapa teman di Nalar yang dianggap penulis atau sering tulisannya dimuat media, atau sekedar tempat nongkrong dekat gerbang Unpad. Angkatan demi angkatan datang. Mahasiswa dan mahasiswi berganti. Tema yang tidak terlalu variatif itu ditanyakan dengan pola yang relatif beragam. Tapi saya merasa ada kesamaan, walau tidak semua, pada mereka yang datang.

Pertama, mereka datang seperti layaknya wartawan “profesional”. Tangan mereka memegang buku catatan, pulpen, tape recorder, dan kamera. Terlihat sibuk. Kesibukan itu, mungkin, yang membuat mereka seperti tidak peduli dengan siapa dan apa yang sedang dibuat di Nalar. Tanpa memperkenalkan diri, mereka bisa langsung bilang, “Saya mau wawancara dengan pemilik toko buku”. Atau “Bisa wawancara tentang komunitas studi di sini?” Atau “Saya mau wawancara untuk tugas kuliah”.

Kedua, mereka yang akan mewawancara tidak tahu persis siapa, apa, dan bagaimana narasumbernya. Ketiga, belum pernah sekali pun hasil wawancara diperlihatkan atau dikonfirmasi lagi pada siapa yang diwawancara.

Beberapa kali saya dan beberapa kawan masih memaklumi cara demikian (ya… namanya juga sedang belajar). Tapi kali kesekian dan seterusnya, tidak jarang kedatangan mereka mulai dirasa mengganggu. Dan akhirnya jadi “permainan”: siapa pun bisa berganti nama dan menjadi apa pun. Pernah satu ketika, pewawancara mendapat informasi yang mungkin begini: ada seseorang di Nalar bernama Hikmat yang kerap menulis di media. Tapi kawan pewawancara itu tidak mengenal sosok fisik dan ternyata pula, dia belum pernah membaca satu pun tulisan Hikmat. Kawan itu datang, juga tidak mengenalkan diri, dan bertanya, apa bisa mewawancarai Hikmat. Tanya jawab berlangsung hampir 1 jam. Setelah dia pulang, beberapa kawan yang masih ada di Nalar saling berpandangan. Saling melempar senyum. Meledak tertawa. Ya, kawan pewawancara itu tidak tahu bahwa yang baru saja diwawancarainya bukan Hikmat tapi Bonar. Hikmat sendiri, ketika Bonar serius menjawab pertanyaan, sedang duduk dan menikmati rokok di sudut ruang.

Kawan pewawancara itu mungkin sudah tahu bahwa memulai wawancara idealnya, selain memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan wawancara, juga tahu dan paham apa-apa yang ingin diketahuinya. Teori sederhana tersebut kemungkinan besar sudah mereka dapat di bangku kuliah. Apa mungkin mereka lupa? Bisa jadi. Tapi bisa juga soalnya karena teori-teori yang mungkin berserak di buku-buku itu lebih berfaedah sebagai hapalan untuk menjawab pertanyaan dalam ujian tertulis tengah atau akhir semester.

Kalau soalnya yang terakhir tadi, tidak mengherankan kalau pewawancara itu tidak paham benar apa yang sedang dibuatnya, terlebih menjadikan tugas itu sebagai arena menguji atau ruang konfirmasi teori yang mereka baca atau dapatkan. Itu mungkin yang menyebabkan hal-hal elementer dan aspek-aspek yang terkait dengannya jadi luput. Proses wawancara jadi tugas yang dalam pelaksanaannya terasa memberatkan. Karena hanya untuk wawancara taklebih dari 1 atau 2 jam, misalnya, mereka dituntut untuk membaca sejumlah buku sebagai bahan pertanyaan. Hal ini jelas membebani dan tidak menyenangkan di tengah tarikan hal lain yang juga mungkin tidak bisa (mau?) dielakkan. Menjadi tidak mudah lagi ketika buku-buku penunjang itu seperti tidak berhubungan langsung dengan mata kuliah wawancara, terlebih dengan diri mereka.

Jadi, sebuah pilihan mudah ketika menempatkan wawancara praktek itu sebuah tugas dari satu mata kuliah yang kemudian darinya diharap sekedar nilai di akhir semester. Nilai-nilai kuantitatif tersebut yang kelak melahirkan ijazah. Dan dengan sistem pendidikan yang seolah lebih menghargai hasil akhir daripada proses, ijazah jelas tidak berbanding lurus dengan perkembangan diri dan intelektualitas seseorang. Tapi lembaran yang diikuti transkrip nilai itu bisa jadi modal. Modal untuk memasuki gerbang lain.

Gerbang yang belakangan mengarah pada satu titik: peradaban yang rodanya rakus menggelinding ke mana pun sesuai logika pasar untuk meraup sebanyak mungkin modal. Pada kasus kawan pewawancara, tidak sulit baginya menulis ulang hasil “wawancara” di Nalar dengan Hikmat gadungan. Toh pertanyaan-pertanyaan yang dibuat berdasar kebiasaan penulisan wawancara yang mungkin didapatnya dari kakak angkatan atau melihat tugas tahun lalu sudah terjawab. Dengannya mungkin ia mendapat nilai A. Juga sejumlah mata kuliah lain. Deretan A di transkrip nilai memudahkan kawan itu dilirik dan terjun dalam industri media. Mungkin juga tidak sulit baginya menyesuaikan diri terlebih dengan betebarannya media atau rumah produksi yang diantaranya mencetak sinetron macam “Ibu yang Durhaka Karena Membiarkan Anak Kandungnya sendiri Bermain Judi dan Berzina”. Dalam roda industri media yang ngebut, berpikir bukan pekerjaan yang terlalu dibutuhkan. Kepemilikan ruang pribadi untuk sekedar berkaca semakin sempit dan jadi kemewahan. Masing-masing dari kita tidak leluasa, bahkan tidak mutlak, mengenal dan memahami apa yang dikerjakan. Maka perkembangan diri dan intelektualitas semakin tidak mendapat tempat. Semakin hari diri dibuat semakin asing dan tidak saling mengenal. Terus menerus demikian hingga akhirnya tidak lagi ada kesadaran ke mana roda itu mengarah dan kita lupa telah terjebak di dalamnya. Terjebak dalam ketidaksadaran dan pengasingan.

Karenanya, sudahlah, mungkin, beberapa kawan yang sedang mengerjakan tugas wawancara pun sudah mengisafinya. Itu makanya, jauh-jauh hari mereka tidak sungkan dan mulai belajar mempersiapkan diri.

Published in:  on 09/22/2008 at 12:34 pm Comments (2)
Tags: , , ,

Koran atau Tabloid?

Siang itu, Jatinangor takbeda seperti siang dalam empat bulan terakhir; debu beterbangan dan matahari terik menyengat. Saya bergegas masuk Nalar. Dayat, yang kebetulan lebih dulu di sana sedang menyampul buku. Lima mahasiswi mengitarinya. Sebagai seseorang yang belum pernah berpacaran selama kuliah, keadaan ini seharusnya disyukuri. Jodoh, katanya, di tangan Tuhan dan siapa yang tahu tanganNya bekerja. Tapi muka kawan itu malah sekering musim ini. Bibirnya terkatup rapat. Kepala menunduk dengan mata menempeli plastik dan halaman buku yang sepertinya berubah jadi makhluk aneh yang harus dia amati setiap sentimeternya.

Setelah melempar senyum, saya masuk kamar dan tidak bergabung dengan mereka. Pertama, saya tidak paham apa yang membuat kawan itu demikian. Alasan lain, ada sejumlah buku yang memang harus saya cek. Dari kamar yang tepat berada di belakang Dayat, saya jelas mendengar percakapan kelima mahasiswi itu. Telinga saya tegak.

“Jadinya apa?”
“Tadi sih habis kuliah gue sempat ribut dengan (menyebutkan sejumlah nama). Gue bilang koran. Tapi mereka pada ngotot kalau tabloid.”
“Koran apa tabloid sih sebenarnya?”
“Tabloidlah.”
“Kalau gue bilang, koran.”
“Masa’ sih?”
“Menurut lo apa?”
“Apaan?”
“Kortem itu koran apa tabloid?”
“Koran kali…”
“Masa’ sih?”

Dayat berdehem seolah minta saya keluar untuk menyelamatkan tenggorokannya yang mungkin tergelitik. Saya mulai dapat sedikit terang penyebab muka kawan satu itu seperti tanaman kurang air, tertekuk. Dan saya memilih terus di kamar.

Published in:  on at 12:25 pm Leave a Comment
Tags: , ,

Das Kapital (catatan 31 Juli 2007)

Kami—Sari, Idim, Wengki, Nur, Evi, dan saya—berkumpul di sudut Nalar. Selasa sore biasanya memang toko sepi dari perkulakan, maka belajar menulis bersama kami tidak banyak “diinterupsi”.

Sekitar jam 4 sore, dua orang mahasiswa datang. Mereka bertanya dengan suara yang terdengar jengah. Wajar. Tidak ada satu orang pun di Nalar yang tidak berada dalam lingkaran Kelas Menulis. Saya menghampiri dan sempat memotong Sari yang sedang membicarakan tanggapan Evi atas tulisan Idim.

“Ada yang bisa dibantu, Mbak?”
Seorang dari mereka menjawab, “Apa ada Das Kapital?”
“Karl Marx?”
“Ya.”
“Buku yang mana?”
“Maksudnya?”
“Das Kapital yang terjemahan ada dalam 3 buku.”
“Oh gitu ya.”
“Iya. Mbak, carinya yang mana? Eh, tapi ga dijawab juga ga apa-apa. Saya ga bisa bantu, di sini tiga buku itu sedang kosong.”
“Oh gitu ya… Aduh gimana ya?” Pertanyaan ini ditujukan pada temannya.
“Kalau boleh tau untuk apa? Mungkin di sini ada buku lain yang rada nyambung.”
“Enggak bisa.”
“Maksudnya?”
“Enggak bisa digantikan dengan yang lain, soalnya itu untuk tugas.”
“Oh. Memang tugasnya apa? Siapa tau hanya bagian tertentu Das Kapital jadi bisa dibantu dengan buku lain.”
“Enggak bisa.”
“Oh…”
“Soalnya tugasnya bikin resensi.”
Teman-teman di Kelas Menulis berhenti. Berbarengan mereka melihat ke sumber suara.
“Diresensi? Tebel lo…” (Kalau tidak salah Wengki yang nyeletuk).
“Iya ya?”
“Untuk bikin resensi kan bukan soal tebal atau tipis, asal cukup waktu buat baca biar kata setinggi pintu yang ga masalah.” Omongan saya yang ini lebih sekedar mencairkan kepanikan kedua mahasiswa itu.
“Kira-kira berapa tebel?”
“Segini.” Jari telunjuk dan jempol saya membuat jarak.
“Tebel banget…”
”Memang belum tau bukunya?”
“Belum. Dosennya hanya kasih tau judul sama pengarangnya.”
“Oh… Coba di toko buku di Bandung aja. Kemungkinan ada.”
“Ke Bandung ya?”
“Iya. Memang kenapa? Kalau males ke Bandung di sini juga bisa pesan kok, tapi lusa baru ada.”
“Enggak bisa.”
“Maksudnya?”
“Tugasnya dikumpulin lusa.”
Mendengar omongan itu saya yang panik…

Published in:  on at 12:24 pm Comments (1)
Tags: , , ,

ALIRAN LAVA PIJAR

Bayangan, seperti kumpulan cerita pendek Iwan, tegak lurus dengan langit. Matahari membakar kulit. Tepat di tengah-tengah benda yang saban hari helai rambutnya semakin jarang. Pinggiran pertokoan tidak meneduhi. Kios pembuat stempel berebut dengan penjual koran dan teh botol.

“Hai.”

“Halo Bos. Koran? Atau yang ini baru datang…”

“Bisa saja kau. Masak tengah hari bolong begini dibilang baru. Ada kabar apa Ben?”

“Biasalah. Presiden jalan-jalan ke Australia, deeper protes, massa Banyuwangi bikin macet. Jakarta masih banyak yang demo…”

“Heh, jauh amat dari Australia ke Banyuwangi. Yang deket-deket aja kawan.”

“Oh itu. Dengar berita kemaren?”

“Berita apa?”

“Seru Bos. Lebih seru dari koran.”

“Oya?”

“Kemaren orang Palembang…”

“Ribut lagi sama anak Karapitan? Biasa kan…”

“He eh. Ributnya mah rutin. Tapi kemaren pas ada operasi Tibum. Bareng sama yang belanja awal bulan. Nambah lagi yang ambil pensiunan. Jalanan banjir. Pinuh.”

“Terus?”

“Ya seru. Kejar-kejaran. Ucing-ucingan. Ka Lengkong. Alun-alun. Dalem Kaum. Kota Kembang. Kapatihan. Kebon Kalapa. Balik deui ka dieu. Nu keur belanja jejeritan. Took-toko langsung tutup. Mobil-mobil ngacir. Taksi ngungsi. He eh. Jiga pilem eksen. Ngan teu aya mobil nu gugulitikan hungkul. Batu? Geus teu usum. Sekarang yeuh Bos, ribut begitu mah pada make clurit. Parang. Samurai. Sukur-sukur aya pestol… Satu? Sepuluh delapan ratus. Ada dua ratus? Ya. Nuhun Pak… Di sini, he eh, depan sini, darah ngalayah. Di mana-mana getih. Seru. Rame . naon? Tong salah. Aing oge miluan. Nya ikutan mukul we. Teuing saha. Pokokna ada yang lewat habeg. Nyenggol saeutik babug. Lumayan keur represing. Polisi? Aya meureun leuwih ti sapuluh mobil mah. Trek garede nu kacana diteralisan beusi. Katanya Brimob ti Jatinangor. Ujang Codet… ma’ enya teu nyaho. Itulah preman nu jidatna baret. Nu jangkung. Gondrong. Hideung. Ehm…nu pipina loba bekas jerawat. Biasa nongkrong di jembatan? He eh. He eh. Nah manehna beunang. Kena.”

“Oya?”

“Ada Anisa?”

“He eh. Tapi tadi rada pagian geus ka tingali nagihan. Gancang geuning proses verbalna… Apa? Cari apa Neng?”

“Anisa.”

“Tahu proses verbal segala.”

“Ah si Bos. Anisa? Belum datang Neng. Baru besok Jumat.”

“Neng. Neng. Ini saja. Baru. Arina. Sama-sama Anisa, cerita juga. Lebih bagus malah. Ada cerita…”
Sementara Beben sibuk membual, aku membuka suplemen koran lokal yang konon beroplag paling besar. Selintas melihat-lihat judul. Membalik. Merentang halaman tengah. Mencari kolom puisi. Mengeja barisan huruf capital di sudut kanannya. Menengok cerita pendek. Membaca judul dan nama.

“Sialan.”

“Ada yang gawat ya? Eh eh… koranna kumaha Bos? Ka mana?”

“Aku ke alun-alun dulu Ben. Korannya nanti sajalah. Tunggu mandat alias wangsit dari Australi.”
Aku menyeberang. Empat buah ban radikal seketika berhenti. Mulut CJ 7 hampir menanduk lutut. Dentaman bas dari dalamnya memukul-mukul. Sebuah kepala dengan jambul seperti kakak tua warna cengek masak keluar. Matanya hendak loncat.

“Heh. Liat-liat kenapa? Kalo gua tabrak, mampus tau.”

“Maaf.”

“Nyebrang tuh pake ini.”

“Pakai kaki juga.”

“Heh. Nantang lu.”

Empat kepala dengan wujud tak jauh beda nyembul dari jendela kiri dan belakang.

“Enggak. Enggak.”

“Kagak. Kagak. Budek apa gua kagak denger lu ngomong. Pake melotot. Bilang kagak lagi.”

“Ngejual tuh Man. Embat aja. Masa lu takut.”

“Anjing!”

“Bener mas, enggak nantang, saya mana berani…”

“Banyak bacot lu!”

Mobil-mobil lain mulai mengular sampai kaki jembatan penyebrang. Kepala-kepala melongok. Bibir berteriak tidak sabar. Klakson diteken panjang dan pendek. Sahut-menyahut. Orang-orang mulai berdatangan.

“Ada apa? Ada apa?”

“Enggak tahu.”

“Berantem.”

“Hayuh atuh jreng…”

“Iya. Gatel nih. Hajar saja Kang!”

“Mending kite cabut Man.”

“Yoi Man. Enggak usah dilayanin. Enggak lepel.”

“Awas! Laen kali, abis lu.”

“Lo enggak jadi?”

“Teuing.”

“Payah…”

Knalpot racing mobil itu menggerung. Bannya berdecit. Mengerat. Meninggalkan garis panjang hitam di aspal. Menyisakan kebulan asap putih. Aku tidak lama menunggu. Langsung nyelinap antara parkiran motor. Setengah berlari nyelusup antara tiang setinggi pinggang. Selonjor di sebuah bangku semen. Cuping hidungku mengembang. Menghisap dalam-dalam. Bau keringat kering dari ketiak menghujam. Pesing dan semburan knalpot ikut menikam.

Alun-alun, seperti biasa, setiap sudutnya orang-orang menyemak. Sesak. Di sudut kiri seorang penjual obat melilitkan ular belang ke lehernya. Dua laki-laki tua dekat WC asyik memindah-mindahkan bidak catur. Penjual gorengan tengah menghitung lembaran uang kertas lusuh. Beberapa perempuan bergincu terang duduk di pinggiran tembok. Sekumpulan laki-laki bertato mengerumuni dadu dan gerincing uang logam. Sepasang sejoli saling merapatkan bahu. Pasangan lain, kelihatannya, sedang bertengkar. Yang perempuan, mengenakan jean sobek, menuding. Yang laki-laki, tidak kalah garang, meluruskan telunjuk. Suara mereka berhimpit dengan terompet, peluit parker, dan pengeras suara dari departemen store sebrang jalan. Seorang perempuan dan laki-laki melintas. Tangan mereka menjinjing tas plastic belanjaan yang sarat. Seorang anak berlari. Sekitar bibir penuh coklat. Lewat barisan gigi hitamnya, anak itu berseru. Anak satunya menangis. Kakinya menyepak-nyepak. Tangan menunjuk pada parasut mainan yang sengaja diterbangkan di depannya. Penjualnya tersenyum menang saat si ibu sambil menggerutu membayar mainan itu.

Aku merogoh saku celana. Tinggal tiga batang kretek gepeng tertindih pantat. Korek?

“Permisi…”

“Punya api?”

“Oh ada. Ada.”

Laki-laki beryou can see itu mengeluarkan pemantik gas. Selayaknya adegan film Hollywood, dia menyalakannya untukku. Tembakau dalam lintingan berkretek.

“Permisi…”

Jreng.

“Hah?”

“Kenapa Pak?”

“Masak ngamen di sini?”

“Di sana enggak boleh sih, Pak. Satpam barunya galak. Herder aja kalah galak. Baru kita ngomong permisi, pentungannya keluar. Padahal kita sama-sama cari makan. Payah. Mentang-mentang pakai seragam.”

“Kan biasanya…”

“Parapatan? Bukan bagian saya. Seratus aja Pak.”

“Ini juga pas-pasan.”

“Masak enggak kasihan Pak. Orang miskin. Buat makan.”

“Saya juga belum makan.”

“Rokoknya aja Pak.”

“Rokok sih bukan seratus.”

“Satu aja Pak.”

“Tinggal tiga…eh dua, buat sampai malam.”

“Ah…percaya.”

“Ini. Ini.”

Aku terpaksa menyerahkan seratus rupiah padanya.

“Rokoknya?”

“Katanya seratus.”

“Ya, kalau dikasih dua-duanya enggak ditolak Pak. Tapi ini juga terima kasih lah.”

“Lo?”

“Kenapa Pak?”

“Kok enggak nyanyi?”

“Saya ngamen buat cari uang Pak. Kalau uangnya dapet ya…”
laki-laki itu berbalik. Ngeloyor pergi.

Babon! Apa isi kepala orang itu? Bisanya ngomong satpam galak, orang miskin, cari uanglah, belum makan. Kera busuk! Dia sendiri seenaknya memperlakukan orang. Apa dikiranya aku juga tidak butuh uang? Apa kelihatannya hidupku lebih enak, lantas bisa bebas diinjak-injak.

Gunung berapi lahir. Mungkin dari lambung yang sedari pagi belum menggerus makanan.

Belum lagi ditengah terik aku harus berjalan kaki. Kenapa? Pertanyaan bodoh. Biar bagaimana, aku harus keluar kamar. Harus. Perkaranya? Belum cukup apa? Dengar. Tepat jam sebelas Bu Prapto pasti akan mengetok kamar. Dia akan nagih pembayaran uang kos yang dua bulan ini aku tunggak. Kalau kali ini seperti kemarin-kemarin, hanya janji yang kuberi, dia seperti bendungan bocor. Puluhan, bahkan ratusan huruf menggelincir dari bibir bak Julia Robertnya. Aku sudah kehabisan kata. Kontras memang. Penyair ditinggalkan kata. Mau apa? Kata-kataku tidak punya kekuataan menghadapi hal-hal semacam itu. Makanya, mau tidak mau, dengan mengantongi seribu lima ratus perak yang telah berkurang seratus disantap pengamen sialan itu, aku ke sini. Kenapa ke sini? Itu juga pertanyaan bodoh. Tempat ini strategis, sangat strategis dengan kondisiku sekarang. Aku bisa tahu, dengan berpura-pura hendak membeli koran, melihat kalau-kalau puisi atau cerpenku dimuat. Kalau dimuat, dengan jalan sejauh dua kilo lagi aku bisa sampai rumah Darno. Aku perlihatkan korannya sebagai jaminan. Aku bisa pinjam uang. Bisa makan. Bayar kos. Beli rokok. Pulang dengan kendaraan umum. Sederhana. Kalau tidak? Ya seperti yang dilihat. Tidak jadi beli Koran. Selonjoran sambil mengisap rokok. Tidak tahu harus bagaimana. Lalu ditindas pengamen fasis.

Nyeri melilit usus. Lengkap! Oh. Satu lagi. Nyaris mati tertabrak manusia-manusia planet punk. Gila! Aku juga hampir saja jadi biang keributan. Cepat sekali orang-orang tadi berkerumun…

Celanaku basah. Aku bangkit. Ada bercak coklat kekuningan di bangku yang kududuki. Aku mengusap-ngusap pantat. Lembab. Berlendir. Likat. Aku endus telapak tangan. Anyir.

Puah! Tambah lagi kesialanku.

Aku bergegas menuruni WC di pojok alun-alun. Dua keran wastafelnya macet. Dua pintu tertutup. Aku menunggu. Menghitung jari kanan. Jari kiri. Menghitung ruasnya. Kanan. Kiri. Pintu itu masih juga belum terbuka. Banyak tulisan sepenuh tembok kamar mandi. Tulisan-tulisan itu sepertinya menyeringai. Mengejek. Orang sabar kekasih gusti. Gusti Randa. Randa Aceh. Hapus DOM di Aceh. Dom pimpah alaikum gambreng. Pisang gambreng. Goreng et mah euy. Seragam tentara yang goreng-goreng. DOM? DOM meledak di Antapani. Jangan tulis-tulis antapani! Di situ rumah Asih. Jelitaku yang telah menyakit hati tapi aku tetapi mencintaimu, saying. Hidup cinta. Hidup orang miskin. Berangus…

Akhirnya seorang laki-laki berperut buncit keluar. Aku segera nyerobot. Membilas celana. Berkali-kali. Sampai kurasa benar-benar bersih.

“Uangnya?”

“Saya kan enggak kencing.”

“Tadi masuk.”

“Saya hanya cuci celana.”

“Mana tahu?”

“Ini basah.”

“Bisa saja Situ berak di celana.”

“Sial…”

“Kenapa?”

“Enggak. Saya kira hanya yang…”

“Bisa baca?”

“Kenapa tanya-tanya, apa bisa baca…”

“Bisa baca enggak? Nah bagus kalau bisa baca. Itu aturannya. Baca.”

Penjaga WC menunjuk kertas yang bertulis spidol biru, masuk WC 300.

Dengan berat hati, tiga ratus perak aku masukkan dalam kotak kusam dekat tempat duduk penjaga itu.

Apa kubilang?

Orang macam begini ini yang bikin kacau negara. Sedikit saja diberi tempat, dikasih kekuasaan, dipakaikan seragam, yang dibilang pengamen tadi mentang-mentang, sudah jadi tirani. Ngelunjak. Gendang telinga dibiasakan tertutup. Mana mau mendengar orang lain bicara? Hantam kromo! Peraturan ditulis pasti ada konteksnya. Dan konteks itu sekarang, seribu seratus perak. OK Bung Freire. Salut. Tabik buat budaya kemiskinan Sampeyan. Terbukti.

Ludah di pangkal lidah terasa masam. Pandangan menguning. Telinga berdenging.

Aku harus duduk. Tapi sekarang tepat jam istirahat. Bangku-bangku, tembok-tembok, anak tangga, pinggiran pagar, semua penuh. Orang-orang tengah melahap kupat tahu, lontong kari, mi ayam, gado-gado. Menyeruput teh botol dingin, air mineral, es cendol. Tak peduli. Tenggorokanku gantang. Tidak ada sisa liur yang dapat kutelan. Aku menyeret langkah. Pelan. Mencari bangku kosong yang tersisa.

Dekat pagar besi menghadap mesjid, sebuah bangku agak panjang diduduki seorang laki-laki tua. Sampingnya bungkusan tergeletak. Masih ada tempat ujung satunya kosong. Tidak ada pilihan. Aku hempaskan pantat di situ. Tengkuk kulipat. Mata pejam. Angin panas kusedot. Menahannya dalam hitungan sepuluh. Kutiup pelahan.

Aku selipkan sebatang rokok. Korek?

“Jang. Jang.”

“Rokok A?”

“Minta api ya?”

“Yeh.”

“Nuhun.”

“Sugan teh rek meuli, nyaho kitu mah…”

Anak kecil dengan koreng dibetis itu meludah. Menjauh. Terus menggerutu.

Kapitalis cilik! Sebatang korek api. Hanya sebatang korek api saja bikin anak bau ketuban sudah berani kurang ajar. Apa yang diajarkan orang tuanya di rumah? Tidak sempat. Baik. Apa yang dikerjakan LSM anak jalanan yang katanya dapat dana luar negeri? Tidak sempat juga. Apa maksud UUD anak terlantar dipelihara negara? Idem. Babon! Sebatang korek api. Bayangkan…

Gelambir bibir laki-laki tua disampingku menyemburkan dahak dekat kaki. Dia berdehem. Sekali lagi.

“Asli sini?”

Aku mengiyakan agar pertanyaan tidak berlanjut.

Sekarang bagaimana? Apa nekad saja ke tempatnya Darno? Kemungkinan pertama, dia jera. Tidak mau lagi meminjamkan uang. Tapi setidaknya aku bisa menebalkan muka berbaring sebentar di sana. Ada alasan untuk bilang aku menunggu malam, supaya pulang tidak terlalu panas karena aku berjalan kaki. Itu harus kuucapkan dengan tegas dan jelas padanya. Jalan kaki. Siapa tahu pori-porinya masih bisa tersentuh. Hal lain, kalau aku di sana sampai agak malam masak dia tega tidak menawariku makan. Kemungkinan kedua. Dia baru terima upah. Sedang berbaik hati. Dia mau meminjamkan uang. Minimal untukku melanjutkan hari selama seminggu. Nantilah memikirkan Bu Prapto…

“Bapak sih baru datang.”

“Oh.”

Kemungkinan ketiga, ini yang terburuk, dia sedang pergi. Tidak mungkin ditunggu karena tidak pasti jam pulangnya. Kalau begitu, artinya aku jalan kaki dua kilo lagi, Bu Prapto, plus perut kosong.

“Apa setiap hari ramai begini?”

“Iya.”

Kemungkinan lain? Mi rebus? Seribu perak hanya untuk karbohidrat dan penyedap. Tidak. Warteg? Sambel sama lalaban gratis. Teh hangat free. Nasi tujuh ratus. Tahu sayur dua ratus lima puluh. Sisanya seratus lima…

“Memang enak duduk di sini bisa lihat yang jalan-jalan… Bapak sedang nunggu agak sore mau ke tempat anaknya Bapak di Gegerkalong, kalau dateng sekarang pasti enggak ada di rumah mereka orang sibuk ya namanya kerja di jaman sekarang mana bisa santai apalagi kalau jadi tentara.”

“Oh.”

“Sedang apa?”

“Apa?”

Asap tar dan nikotin kuhembus kuat-kuat.

“Sedang apa di sini?”

“Oh… Istirahat.”

“Iya ya buat istirahat juga di sini enak…”

Mulut laki-laki itu mengusik. Membangunkan El Misti yang hampir lelap.

“Kalau capek memang perlu duduk sebentar, istirahat. Dari mata saja Bapak bisa lihat kalau Situ capek sekali. Mata kan jendela hati. Kalau susah atau ada pikiran mata jadi keruh tidak jernih, kalau capek urat-urat di putihnya menonjol keluar, mata yang keruh ditambah lagi berurat itu akibat jalan darah tidak sempurna dan akan memompa produksi adrenalin…”

Magma pekat dalam tubuhku mencair. Membara. Campuran karbondioksida dan belerang bergelegak. Bergolak naik. Kulit di sekujur membengkak. Retak. Pecah.

“Kesehatan itu karunia yang harus dipelihara ya kuncinya satu kalau kerja jangan diporsir bahasa Bapak jangan ngoyo, mesin dari baja yang tahan laser begitu saja kalau dipakai nonstop bisa aus apalagi badan manusia yang hanya tulang sama daging ya kalau tidak hati-hati pasti cepat ambruk dan jangan lupa sakit enggak hanya pisik tapi juga psikis ini yang repot, makanya Bapak selalu wanti-wanti sama anak Bapak bilang ke mereka, cari uang boleh, ngejar pangkat tinggi silakan, ambisi karir naik juga enggak dilarang, tapi… Ada tapinya, tapi jangan lupa jaga kesehatan istirahat. Cukup makan. Cukup istirahat.”

“Hem…”

“Dua bulan lalu mantu Bapak kena tipus sempat diopname sampai dua minggu dirawat di rumah sakit tapi baru sembuh sehari dianya langsung ke Jakarta waktu itu Jakarta lagi ramai peledakan bom dia kan bagian operasi jadi ya harus langsung turun ke lapangan tahu kan yang meledak di gereja di panti asuhan bank pertokoan…Lo mau ke mana?”

“Ke sana…”

“Di sini saja. Sampai mana? Oh ya kabar terakhir Bapak terima dia sudah enggak bolak-balik ke Jakarta Bapak tanya kenapa dia bilang di sini juga rawan sekitar semingguan ke belakang katanya ada perkelahian antar gang pakai senjata tajam malah pakai pistol segala ya mana tahu dari mana terus ini juga ceritanya ada orang yang curi sandal diadili massa dibakar tuh hanya curi sandal saja dibakar apa tidak sadis? Tapi kriminal juga makin sadis mau ambil gelang eh sama tangan-tangannya dipotong nah nah ini berhubungan dengan apa yang Bapak bilang tadi sakit psikis…”

Aku tak tahan lagi.

Badanku gemetar. Gempa mengguncang. Magma kental terdorong sampai mulut kaldera. Buncah. Muncrat. Menggelegar. Bantuan terlempar. Kisaran uap beracun dan abu melingkup langit. Bergulung-gulung. Lava pijar menjalar. Mambakar. Kepala hingga sumsum tulang belakang tersiram. Beludak lewat mata.

Aku bangkit.

Aku hampiri laki-laki yang bergerombol tak jauh dari situ. Aku bisiki salah satu dari mereka. Dia terbelalak. Dia perhatikan orang tua yang masih belum menyadari ketidakhadiranku. Bibirnya masih gerunyam. Sesekali tangannya bergerak-gerak. Kerutan di pinggiran mata laki-laki itu mengerap. Kulit pipinya turun naik seiring mulut yang tidak putus bicara.

Laki-laki yang kubisiki itu membisik pada laki-laki lain di sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya. Sebelahnya lagi. Berantai. Tak lama. Orang-orang seperti aliran sungai lava mendidih. Melancap deras. Melindas. Mereka santroni laki-laki tua itu. Mereka berteriak. Mengumpat. Menyerbu.

“Orang itu…”

“Bom! Bom! Orang itu bawa bom.”

Dimuat di Pikiran Rakyat 4 April 2002

Published in:  on 08/15/2008 at 7:57 am Leave a Comment
Tags: , ,

LASTRI

Perempuan berambut gelombang itu terus memampatkan paru-parunya. Serbuk-serbuk udara terus dihisap walau dadanya sudah terasa sesak. Getar jantungnya seperti hujan musim pancaroba. Tak berirama. Beberapa helai rambut berceceran di atas jerami basah. Pipi sepucat bunga randu ditetesi embun kemerahan mendari ujung-ujung lalang yang terkulai.

Hari belum lama rekah.

Benar kan, Lastri menepati janji.

Perempuan itu tersentak.

“Lastri?”

Ujung bibir anak kecil itu menciut. Membentuk senyum. Deretan giginya yang sebagian ompong dan hitam tampak. Lastri kelihatan segar dengan rambut basah sebatas telinga sehabis keramas. Ia menggelosotkan kaki sepanjang pematang. Menghampirinya. Tas kecil yang tersampir di bahunya berayun. Wanginya seperti tanah basah.

Lihat, ni. Sudah dijahit sama Ibu… sambil marah-marah. Lastri!

Lastri menggerak-gerakkan telunjuk menirukan Ibunya.

Lastri! Jangan main di sawah lagi. Di sana banyak paku. Banyak rumput domdoman. Banyak… Banyak… Oh iya. Banyak keong yang bikin gatal. Kamu kan kalau sudah gatal-gatal ributnya minta ampun. Bikin repot satu rumah. Dan jangan biasa ngomong sendiri, banyak genderuwo lewat, nanti kalau kesambet… Eh, Ibu aneh ya? Masak orang-orang udah sampai ke bulan masih bilang ada genderuwo. Lastri tertawa. Enggak boleh ngomongin orang ya? Enggak kok. Lastri sayang sama Ibu. Ikut duduk di sini ya?

Lastri duduk seenaknya di atas rumputan. Rok merahnya melembab. Bola matanya yang bulat berkerjapan menembus kabut. Langit masih merah. Awan abu-abu berlintasan menjauh. Mencari malam di tempat lain. Angin pagi membuat suara lirih dari sisa batang-batang padi yang bersintuhan. Sampai juga di telinga perempuan itu dengung puluhan bebek yang berbaris rapi di kejauhan.

Ji, ro, lu, pat… kiri…, kanan kiri… Lastri berteriak. Para pengangon melambaikan tangan. Lastri tertawa kegirangan.

Sekarang saya bisa merasakan seolah semuanya menggenang.

“Lastri mau ke mana?” Suara itu keluar lamat-lamat dari bibir yang telah merapat. Perempuan itu sendiri pun hanpir tidak bisa mendengarnya.

Pori-porinya membesar melawan dingin. Udara beku. Perempuan itu menggerakkan kepala pelahan. Kulit bahunya merasakan gesekan tanah. Dan dadanya telah benar-benar sesak. Perempuan itu berusaha menegakkan telinga. Menajamkan pendengaran. Ngilu seketika membekap. Kepala yang nyaris terangkat kembali menghantam tanah. Kelopak matanya sempat terbuka. Hanya jejak sepatu. Ada juga kepakan sayap capung yang bersliweran. Lantas dinding gelap yang sukar ditembus.

“Ke mari, Bapa… temani saya. Mereka telah pergi. Saya takut…” Bibirnya lagi bergerak-gerak.

Ruang dalam kepalanya seperti berpintu. Banyak sekali pintu. Satu pintu terbuka. Satu peristiwa datang. Pintu lain terbuka. Peristiwa lain datang. Lalu tidak hanya satu pintu yang terbuka, kadang-kadang beberapa pintu sekaligus terbuka. Peristiwa-peristiwa berloncat-loncat. Tapi semaunya berputar.

Peristiwa itu seperti baru beberapa menit berlalu.

Masih digelayuti penat dan guncangan kereta semalaman, Lastri duduk di atas kursi kayu tua. Sepiring singkong rebus dengan irisan gula aren mengepul di hadapannya. Ibu hanya diam. Tangan perempuan yang semakin ringkih itu membereskan bungkusan oleh-oleh yang dibawanya. Berkali Ibu melakukannya. Sekedar kegiatan mengusir ketegangan. Laki-laki yang telah dimakan usia dan matahari itu, mengisap dalam-dalam pipa tanduknya. Asap seketika menebar. Separuh menyesakkan dada Lastri.

Semuanya terserah Lastri. Tapi jangan lupa, kamu tidak bisa mengelak dari usia. Biar kamu sekolah tinggi, sudah bisa cari makan sendiri, orang-orang tetap lihat kamu anakku. Kami hanya bisa mengingatkan, memberi tahu, tetapi tetap semua keputusan ada di tanganmu. Ya, semuanya terserah Lastri. Kedewasaan semoga menyertai usia dan pilihanmu…, kata Ayah. Tak jarang ayahnya sedingin muka altar.

Lastri menggigit bibir. Semua terserah padanya. Ayahnya selalu begitu. Selalu saja itu dijadikan senjata pamungkas. Tapi apakah dapat mengingkari sejarah. Ia ingin menangis. Mendorong gumpalan yang sedang menyambut kerongkongan. Bola matanya yang bulat beriak.

Lastri capek lho, Pak. Iya kan, Nak? Istirahat dulu. Ibu sudah siapkan teh manis kental dari tadi, tapi mungkin sudah dingin. Waktu kamu telepon dari stasiun tadi, Ibu langsung godok air.

Ibu masih seperti dulu. Demikian paham dan mengerti. Terkadang.

Bukan soal mudah, Bu, katanya, ada beberapa yang harus dibenahi sebelum melangkah. Aku bukan tidak mempedulikan Ibu dan Ayah. Bukan. Bukankah yang kita inginkan adalah bahagia yang abadi? Bukan tanpa alasan Romo Purnomo selalu bilang, tidak ada perceraian itu karena Bapa…

Tangannya berhenti mengeluarkan pakaian dari dalam tas. Lastri ingat laki-laki itu dan beberapa harinya yang sepi. Tidak. Aku tidak kesepian dan sendiri. Aku hanya butuh waktu yang panjang untuk belajar, gumam Lastri.

Ibu ngerti, tapi…

Lastri diam. Ia menyelam dalam keteduhan mata Ibu. Ingin benar rasanya ia bergegas menyelesaikan hal-hal yang mengganjal di antara mereka. Lastri telah menaiki kereta. Ia menahan kantuk diiringi bulan yang menyabit langit dari bingkai jendela kereta. Rindu terus menguntitnya menuju kota di mana jarak ternyata telah terentang. Kota yang beruang dan ada seorang laki-laki yang pernah di setiap petang menggenggam buket melati. Laki-laki itu cermin yang setiap saat mengingatkan. Rindu menguntit Lastri dalam perjalanan pulang. Pulang?

Lastri datang dan mengetuk pintu. Ia berharap dapat bicara berdua saja seperti dulu. Tapi ia sekarang sedang mengetuk pintu. Lastri hanyalah tamu. Apa pulang kalau begitu?

Bukan soal mudah, Bu, gumamnya lagi, mungkin yang dibutuhkan lebih banyak lagi kesabaran dan pengertian. Lebih banyak lagi…

Lastri memiliki tumpukan kesabaran dan kepercayaan yang teramat. Kadang, ketika jenuh dan tak tahu, ia mengagumi dirinya sendiri untuk hal itu.

Semuanya berlalu cepat. Demikian cepat dan tak terkejar.

Bukan soal mudah.

Mata perempuan itu masih terpejam. Matahari mulai mengunjungi. Semakin tinggi. Angin menyusup di antara dinding yang terbuat dari bilahan-bilahan bambu. Sobekan panjang di bajunya yang lembab membuatnya mengkerut. Ia merasa kecil dan dingin. Di luar senyap. Tak ada kehidupan setelah panen, ia hapal betul itu, kecuali paruh-paruh bebek yang bercipuk dalam genangan.

Kamu tahu aku. Apa mungkin? Lastri terisak di gagang telepon.

Ya. Ya. Tapi soalnya ini bukan persoalan antara kita…

Ya aku tahu. Aku mungkin hanya butuh penegasan untuk membenarkan semua ini, potong Lastri.

Kamu jelas tidak salah. Bukan sebuah pembenaran…

Kamu lama mengenalku, mungkinkah aku seperti yang dikatakan mereka? Tanya lastri lagi.

Hey, hey, ini bukan persoalan antara kita. Bukan. Sekarang apa rencanamu? Jawab suara di seberang kabel.

Aku rasa apa yang aku lakukan bukan untuk kepentingan pribadi. Aku tidak dapat apa-apa dari semua ini. Kamu tahu itu. Tapi mereka mengatakan aku… Mereka bilang aku…

Laki-laki di seberang kabel telepon menunggu.

Aku… Lastri terisak.

Katakan…

Mereka bilang aku PKI… Isak Lastri semakin mengeras.

Anjing! Mudah betul untuk membunuh orang. Tinggal bilang turunan PKI, bles… kamu dapat disingkirkan. Bukan salahmu. Mereka hanya butuh kambing hitam. Aku kan pernah bilang. Lalu?

Aku hanya mengatakan apa yang kukira benar dan aku tidak pernah memaksakannya. Aku tidak mau memaksakan. Aku hanya mengajak mereka bicara baik-baik, bukan seperti dua kelompok yang bermusuhan. Aku bukan hendak…

Nining berhenti memijit tuts-tuts keyboard. Ia memandang dari balik komputer. Sebagai kawan yang merasa dekat, Nining paham dan sekaligus tidak mengerti kebatuan Lastri yang dirasanya hanya mempersulit diri. Dia tidak sepenuhnya bisa mengerti karena dia tahu Lastri dapat memilih jalan lain. Semuanya bisa dihindari, kalau ia mau. Lastri cerdas dan baik. Ia dapat keluar kerja dan tanpa kesulitan mendapatkannya lagi. Dan mungkin lebih baik. Beberapa kali telah dikatakannya, tapi Lastri hanya menggeleng dan tersenyum. Nining tak habis mengerti.

Nining juga sudah mengingatkan Lastri tentang mata Okita yang tajam memandang Lastri setelah angket itu disebar. Juga tentang kabar pertemuan di ruang B3 yang berkali menyebut nama Lastri. Juga tentang Pak Mamat yang gelisah. Tapi Lastri hanya diam dan terus berjalan. Nining hanya bisa diam. Ia menghormati pilihan Lastri. Juga karena ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Aku ingin ketemu. Aku lelah di sini. Aku merasa dikepung. Sejujurnya aku ingin pergi, benra-benar pergi… Tidak. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Mereka hanya minta apa yang menjadi hak mereka. Mereka… Tega betul. Aku hanya… Lastri tidak dapat menahannya lagi. Ia hanyut seperti gedebong pisang mengikuti arus.

Gagang telepon berayun. Wajahnya telungkup di atas tumpukan kuitansi-kuitansi upah.

Nining menghampiri. Tangannya mengusap rambut Lastri. Hanya demikian.

Perempuan itu berusaha menggerakkan badan. Sia-sia. Hanya perih yang semakin. Jari-jari perempuan itu merayapi paha dan selangkangannya. Darah setengah kering. Kepala bertambah berat.

“Bapa… Hanya ini. Terima kasih untuk telah mencoba…” Perempuan itu berbisik. Suaranya ditelan gonggongan anjing kampung mengendus anyir.

Ning, aku tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Tidak untuk sesuatu. Semoga kamu percaya. Tidak untuk sesuatu seperti yang mereka bilang. Aku merasa ada yang bisa kubuat untuk yang lain. Mungkin kecil tapi aku berharap dapat berarti. Dapat berharga. Tidak untuk sesuatu, Ning.

Kamu tahu akibatnya, Ti. Dan itu, mungkin bukan hanya pemecatan. Saya mencium ada sesuatu yang mengerikan. Saya merasakannya…

Aku hanya mencoba apakah kaki ini bisa melangkah. Apakah bibir ini bisa berkata-kata. Hanya itu. Jesus juga tahu apa akibatnya tapi Dia, kamu tahu, terus mendaki. Terus memanggul kayu salibnya sendiri.

Hei, ngomong apa sih?

Aku dipanggil dewan nanti sore setelah meeting. Kalau aku dipecat, pinjam uang untuk bayar teh botolnya Pak otong ya…

Sudah ah. Nining tergidig.

Tapi siapa dapat menebak suratan. Siapa sangka kebersamaan selama ini mendekati titiknya.

Mata perempuan itu tertutup kain. Tak ada sinar yang dapat masuk terlebih hari telah demikian larut dan awan hitam sedari tadi menggantung. Bagian keningnya memar. Ia susah bernafas. Ada darah mengering di sepanjang lorong hidungnya. Sepotong besi dingin mendorongnya agar cepat menapaki pematang. Lengan kirinya ditarik. Dengan langkah digayuti penat, bibirnya hanya menggumamkan do’a Maria tidak putus-putus. Kaki yang tanpa alas itu merasakan tusukan duri putri malu dan ranting-ranting.

“Maafkan Bapak, Ti…” Bisik laki-laki setengah baya tertunduk di sampingnya.

Ia paham. Kepalanya berusaha ia anggukkan. Ia ingin bilang, bahwa ia paham. Tapi tak satu kata dapat diucapkan bibirnya yang sobek. Tak satu jerit yang bisa keluar ketika besi menghantam rusuknya berulang. Tangannya pun kaku, tak dapat membendung darah ngocor tak henti-henti dari selangkangannya. Tak ada titik air yang bisa keluar dari matanya ketika puntung-puntung rokok membenam dalam payudara. Tak dapat lagi kepalanya yang berdarah ditikam pecahan botol memanggil Lastri kecil, Ayah, Ibu, Nining, dan laki-laki terkasih itu. Padahal ia sekedar ingin memberi mereka semua kecupan. Perempuan itu hanya melihat tangan yang seolah datang dari kegelapan menutup halaman-halaman waktu.

“Bapa, hanya ini… Terima kasih sudah diberi waktu untuk mencoba…”

Siapa dapat menebak suratan? Siapa sangka kebersamaan selama ini mendekati titiknya. Siapa duga satu waktu berjarak hanya sekian mili dari perpisahan?

Nining tidak.

Pagi itu Nining dijemput. Mereka minta ia mengenali Lastri. Nining tidak tahu tubuh siapa yang sedang dilihatnya. Kecuali kalung salib dari perak yang telah rapat terbakar memang milik Lastri.

Tapi siapa dapat?**

Dimuat di Pikiran Rakyat 9 Desember 1997