PEREMPUAN TUA DI PESISIR

Di pesisir itu, perempuan kurus berbalut sari hijau “telah membuka kepalan dan melepaskan bawaannya yang berisi helium, mengamati sampai balon terakhir ditelan kegelapan malam Bombay. (…) Di hadapannya, cakrawala yang dipertemukan laut dan langit nyaris tak terlihat”.

Demikian Thrity Umrigar membuka novelnya, Jarak di Antara Kita. Perempuan itu Bhima. Perempuan tua yang merasa dihukum dalam janam, kelahirannya. Hidup, ia rasa, hanyalah arena melompat satu pengkhiatanan ke pengkhianatan lain.

Sewaktu tiga jari Gopal dipotong karena infeksi akibat kecelakaan tempat kerja, cap jempol Bhima membuat suaminya itu dipecat tanpa pesangon, Bhima merasa si akuntan mengkhianatinya karena ia takberdaya, buta huruf. Tapi pengkhianatan itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan ketika Gopal, suami yang mulanya terdiri atas, “sinar matahari, lagu, tawa, dan gurauan, beraroma metol, ketumbar, dan hujan yang baru turun” berubah jadi “sekeras palu, sepejal kulit, dan berbau keringat, abu dan susu masam”.

Juga tidak seberapa dibanding dengan kepergian Gopal membawa putra mereka, Amit. Meninggalkannya berdua hanya dengan Pooja, anak perempuan mereka. Pengkhianatan itu memang sempat membuat Bhima goyah. Tapi Pooja membuat Bhima bertahan, “karena kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri? Hampir sepanjang waktu kita hidup untuk orang lain, terus meletakkan satu kaki di depan kaki yang lain, kiri dan kanan, kiri dan kanan, sehingga berjalan menjadi kebiasaan, seperti bernafas.”

Sewaktu Pooja digerogoti AIDS dan Bhima “menyaksikan saat api menari-nari seperti iblis di atas jenazah putrinya”, kaki-kakinya pun masih terus bisa “meletakkan satu kaki di depan kaki yang lain”. Karena Pooja menyerahkan tangan kecil Maya yang tanpa dirinya, anak yatim piatu tujuh tahun itu tidak punya banyak kemungkinan. Di jalanan Delhi, setahu Bhima, Maya mungkin hanya mengisi tempat sebagai pengemis atau pelacur.

Bhima berkeras meneruskan langkah, meneruskan pekerjaan sebagai seharusnya ghati, kelas rendah. Ia “seperti mesin, hadir hanya untuk bekerja dan mendapat gaji, memerlukan makanan dan air sekadar menjaga agar onderdil tubuhnya tetap terminyaki dan berfungsi”. Untungnya Sera, majikan suku Parsi—kaum terdidik dan kaya di Bombay—tidak seperti banyak majikan lain. Pertolongan dan penghargaan Sera, membuat Bhima melayani keluarga itu layaknya “kesetiaan seekor anjing”. “Keakraban (…) terbina di antara mereka selama bertahun-tahun”. Bhima dan Sera biasa “menyeruput teh dalam sunyi”, dalam “bahasa yang tak terucap”, walau “kepulan teh menciptakan penghalang yang bergulung”. Bhima yakin bahwa Sera memercayainya. Hanya kepadanyalah Sera mengungkapkan “pikirannya sendiri. Pikiran yang dikuncinya dalam kepala seperti obat dalam lemari. Seperti uang dalam lemari”.

Sera pula yang menyekolahkan Maya. Bhima berharap cucunya menjadi sarjana pertama dalam keluarga. Gelar yang bisa memutus mata rantai buyut-nenek-ibunya, yang menjadikan tangan Bhima “pada usia tujuh belas tahun, keras dan kapalan karena sudah bekerja menjadi pembantu sejak kecil. Rusak akibat seumur hidup memegang bulu-bulu sapu yang keras, tajam, dan runcing, mencelupkan tangan dalam abu untuk menggosok panci dan penggorengan sampai mengilap”.

Tapi sebuah pengkhianatan lagi: Maya hamil oleh Viraf, menantu Sera.

Bhima dan harapannya “seolah selembar kertas terbuang di jalan berangin”. Limbung. Ia tidak pernah mampu mengatakan hal itu pada Sera yang “selama sekian tahun sosok yang kuat seperti Tuhan”. Dan satu ketika, ketika “api menghanguskannya, mengubah masa depan dan impiannya menjadi abu”, Bhima tidak lagi punya pilihan. Ia dengan “kata-katanya menyembur sekental dan seasin darah”, terpaksa mengatakannya. Tapi Bhima melihat Sera hanya “membatu seperti tembok”. Sera juga lalu menutup pintu rumah baginya. Dan “neraka (yang) berada di sisi lain pintu” seolah siap membakar. Ketika itu, bukan hanya Sera “menjauh darinya, seperti bulan yang semakin lama semakin tinggi di langit”, tapi pun “kerongkongan Bhima terbakar garam ketidakadilan. Dia menelan gumpalan di kerongkongannya, tetapi gumpalan itu membakar membentuk jalur hingga ke dada sampai akhirnya mengendap bagai api membara di perutnya”.

Apakah Sera “mampu melupakan kata-kata itu, mampu menguburnya di bawah lindungan lapisan-lapisan lupa dan penyangkalan?” Kenapa sampai sang Sera, seorang “wanita agung dan bermartabat”, lebih “memilih dusta menantunya yang kentara daripada kebenaran yang gamblang?” “Apa mereka juga belajar tidak diburu dan disiksa kebenaran? Bukankah dia bersembunyi di balik lindungan keluarga ketika harus memilih?” Pertanyaan-pertanyaan buncah. Kepalanya mau pecah. Ia tidak menjawab. Tapi, apakah “api membara” akan membuat hidupnya berubah? Bhima tidak juga bisa menjawab. Kepalanya rusak oleh penyakit yang tidak terobati, “miskin, tua, dan bodoh”.

Bhima merasa pengkhianat terbesar dalam hidupnya adalah kepalanya sendiri.

Bhima melangkah ke luar gedung apartemen keluarga Sera saat senja “seakan diterangi cahaya sejuta matahari. “Udara senja yang sejuk menari-nari di wajahnya, membekukan air matanya pada jalur yang terbentuk di pipi”. Bhima ingat kecemasan Maya yang menunggunya. Tapi kakinya malah mengajak ke “tepi jalan yang berseberangan dengan laut”. Dan tiba-tiba tubuh ringkihnya, “seperti Tuhan, bertindak dengan cara-cara yang misterius”. Tubuh itu bersama ombak dan langit semakin gelap—“tak lagi menampilkan pertunjukan cahaya yang memukau—”, membangkitkan kenangan dan ingatan kesakitannya. Bhima ingat orang Pathan, lelaki Afgan, penjual balon yang dijumpainya belasan tahun lalu. “Lelaki penyendiri, orang buangan, orang tanpa negeri atau keluarga” yang dalam ingatan Bhima “belajar cara menciptakan lagu dari kesepiannya”. Lelaki itu “dengan tangan kosong, dia membangun dunia”. Lewat perantara angin, telinganya mendengar “suara lelaki itu datang kepadanya, menyeberangi gunung-gunung dan melintasi tahun-tahun”. Lantas “segala sesuatu di sekeliling Bhima diam seribu basa”. Bhima mendengarkan “bumi berirama debur ombak”.

Bhima membiarkan tubuh merasakan, membuka dan karenanya melampaui kepalanya. Perempuan tua itu menemukan “diri (lepas) dari penjara kulit”, menemukan “pisau yang memotong benang yang mengikat dirinya”. Itulah yang “menghentikan ratapannya, lalu rasa takut menghentikan dengung kebasnya, dan yang tersisa hanyalah kebebasan—gencar, bergejolak, dan bertenaga”. Ia “mengikuti bunyi kepak di telinganya, bunyi sayap mengepak, bunyi belajar terbang. Kebebasan”.

Itulah pengalaman langka yang dihayati Bhima. Di pesisir itu, Bhima menyerap pengalaman tubuhnya. Ia, saya kira—meminjam nalar Heidegger—bertemu dengan momen otentiknya, sebuah diri yang tersingkap. Momen yang menjadikannya sebagai orang “baru”, Dasein, diri yang otentik. Momen tersebut idealnya lahir bersama kecemasan. Sebuah kesadaran bahwa Ada-di-dalam-dunia melalui penataan kepingan-kepingan yang kadang larut dalam keseharian. Tapi untuk perempuan tua seperti Bhima yang, di antaranya, tahu “bagaimana kehidupan memperlakukan orang-orang yang tak berpendidikan”, momen otentik itu hanya akan menjerumuskannya pada ketakutan. Ia sepertinya tidak siap mengalami, memaknai, dan menamai ketersingkapan untuk menyiapkan antisipasi (das Vourlaufen).

Hal ini karena Bhima hanya menempati ruang gelap dan sempit dalam keseharian. Ruang gelap itu membuat tubuh takleluasa dikenali. Tubuh takbiasa mengalami. Keseharian itu menyesakkan. Itu makanya, keseharian adalah semacam kesenangan “meninggalkan keterpencilan suram gubuknya di basti dan melebur ke dalam kerumunan yang cair tak berbetuk”. Orang-orang berkerumun, merasa saling mengenal dan merasa bercakap. Padahal, dalam keseharian demikian, tidak ada percakapan yang saling menyingkap, saling mengukuhkan, dan sekaligus memperkuat hidup bersama. Yang ada sekedar ocehan (Gerede), bahasa manipulatif yang makin menjauhkan diri dari ketersingkapan. Di situ, diri melarut. Pengalaman-pengalaman raib dan sukar dimaknai. Ketersingkapan diri otentik dan hidup bersama yang sejati (Mitdasein) jadi hal yang sulit diraih. Ruang-ruang gelap dan sempit di keseharian makin berbiak dalam hegemoni kuasa(-kuasa) yang menjadikan hidup sekedar larutan.

Keseharian begitu, mungkin takcuma fiksi yang ditulis pengajar penulisan kreatif dan sastra di Case Western reserve University ini, kita pun mungkin bagian yang dibiakan dan membiakan keseharian jadi sedemikian. Maka membaca Jarak di Antara Kita, bisa mengajak kita tamasya, sebagai pengalaman Bhima, perempuan tua di pesisir itu. Novel ini dibangun oleh tokoh-tokoh, peristiwa-peristiwa dan konflik-konflik yang kompleks, dan dengan bahasa yang plastis, imajinatif dan kaya nuansa, seperti beberapa saya kutip dalam tulisan ini. Maka, Jarak di Antara Kita sangat mungkin menerbitkan tafsir lain yang lebih memukau.**

Dimuat di Jurnal Perempuan

Keterangan:
Judul Buku : Jarak di Antara Kita
Judul Asli : The Space Between Us
Penulis : Thrity Umrigar
Penerjemah : Femmy Syahrani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cetakan pertama, Desember 2007
Halaman : 430