Wawancara

Setiap kali ada mata kuliah Wawancara, Nalar—juga sejumlah orang atau komunitas atau tempat lain di Jatinangor—ada dalam daftar. Ada saja yang membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi kerap datang mewawancarai: profil komunitas belajar, profil toko buku komunitas, profil beberapa teman di Nalar yang dianggap penulis atau sering tulisannya dimuat media, atau sekedar tempat nongkrong dekat gerbang Unpad. Angkatan demi angkatan datang. Mahasiswa dan mahasiswi berganti. Tema yang tidak terlalu variatif itu ditanyakan dengan pola yang relatif beragam. Tapi saya merasa ada kesamaan, walau tidak semua, pada mereka yang datang.

Pertama, mereka datang seperti layaknya wartawan “profesional”. Tangan mereka memegang buku catatan, pulpen, tape recorder, dan kamera. Terlihat sibuk. Kesibukan itu, mungkin, yang membuat mereka seperti tidak peduli dengan siapa dan apa yang sedang dibuat di Nalar. Tanpa memperkenalkan diri, mereka bisa langsung bilang, “Saya mau wawancara dengan pemilik toko buku”. Atau “Bisa wawancara tentang komunitas studi di sini?” Atau “Saya mau wawancara untuk tugas kuliah”.

Kedua, mereka yang akan mewawancara tidak tahu persis siapa, apa, dan bagaimana narasumbernya. Ketiga, belum pernah sekali pun hasil wawancara diperlihatkan atau dikonfirmasi lagi pada siapa yang diwawancara.

Beberapa kali saya dan beberapa kawan masih memaklumi cara demikian (ya… namanya juga sedang belajar). Tapi kali kesekian dan seterusnya, tidak jarang kedatangan mereka mulai dirasa mengganggu. Dan akhirnya jadi “permainan”: siapa pun bisa berganti nama dan menjadi apa pun. Pernah satu ketika, pewawancara mendapat informasi yang mungkin begini: ada seseorang di Nalar bernama Hikmat yang kerap menulis di media. Tapi kawan pewawancara itu tidak mengenal sosok fisik dan ternyata pula, dia belum pernah membaca satu pun tulisan Hikmat. Kawan itu datang, juga tidak mengenalkan diri, dan bertanya, apa bisa mewawancarai Hikmat. Tanya jawab berlangsung hampir 1 jam. Setelah dia pulang, beberapa kawan yang masih ada di Nalar saling berpandangan. Saling melempar senyum. Meledak tertawa. Ya, kawan pewawancara itu tidak tahu bahwa yang baru saja diwawancarainya bukan Hikmat tapi Bonar. Hikmat sendiri, ketika Bonar serius menjawab pertanyaan, sedang duduk dan menikmati rokok di sudut ruang.

Kawan pewawancara itu mungkin sudah tahu bahwa memulai wawancara idealnya, selain memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan wawancara, juga tahu dan paham apa-apa yang ingin diketahuinya. Teori sederhana tersebut kemungkinan besar sudah mereka dapat di bangku kuliah. Apa mungkin mereka lupa? Bisa jadi. Tapi bisa juga soalnya karena teori-teori yang mungkin berserak di buku-buku itu lebih berfaedah sebagai hapalan untuk menjawab pertanyaan dalam ujian tertulis tengah atau akhir semester.

Kalau soalnya yang terakhir tadi, tidak mengherankan kalau pewawancara itu tidak paham benar apa yang sedang dibuatnya, terlebih menjadikan tugas itu sebagai arena menguji atau ruang konfirmasi teori yang mereka baca atau dapatkan. Itu mungkin yang menyebabkan hal-hal elementer dan aspek-aspek yang terkait dengannya jadi luput. Proses wawancara jadi tugas yang dalam pelaksanaannya terasa memberatkan. Karena hanya untuk wawancara taklebih dari 1 atau 2 jam, misalnya, mereka dituntut untuk membaca sejumlah buku sebagai bahan pertanyaan. Hal ini jelas membebani dan tidak menyenangkan di tengah tarikan hal lain yang juga mungkin tidak bisa (mau?) dielakkan. Menjadi tidak mudah lagi ketika buku-buku penunjang itu seperti tidak berhubungan langsung dengan mata kuliah wawancara, terlebih dengan diri mereka.

Jadi, sebuah pilihan mudah ketika menempatkan wawancara praktek itu sebuah tugas dari satu mata kuliah yang kemudian darinya diharap sekedar nilai di akhir semester. Nilai-nilai kuantitatif tersebut yang kelak melahirkan ijazah. Dan dengan sistem pendidikan yang seolah lebih menghargai hasil akhir daripada proses, ijazah jelas tidak berbanding lurus dengan perkembangan diri dan intelektualitas seseorang. Tapi lembaran yang diikuti transkrip nilai itu bisa jadi modal. Modal untuk memasuki gerbang lain.

Gerbang yang belakangan mengarah pada satu titik: peradaban yang rodanya rakus menggelinding ke mana pun sesuai logika pasar untuk meraup sebanyak mungkin modal. Pada kasus kawan pewawancara, tidak sulit baginya menulis ulang hasil “wawancara” di Nalar dengan Hikmat gadungan. Toh pertanyaan-pertanyaan yang dibuat berdasar kebiasaan penulisan wawancara yang mungkin didapatnya dari kakak angkatan atau melihat tugas tahun lalu sudah terjawab. Dengannya mungkin ia mendapat nilai A. Juga sejumlah mata kuliah lain. Deretan A di transkrip nilai memudahkan kawan itu dilirik dan terjun dalam industri media. Mungkin juga tidak sulit baginya menyesuaikan diri terlebih dengan betebarannya media atau rumah produksi yang diantaranya mencetak sinetron macam “Ibu yang Durhaka Karena Membiarkan Anak Kandungnya sendiri Bermain Judi dan Berzina”. Dalam roda industri media yang ngebut, berpikir bukan pekerjaan yang terlalu dibutuhkan. Kepemilikan ruang pribadi untuk sekedar berkaca semakin sempit dan jadi kemewahan. Masing-masing dari kita tidak leluasa, bahkan tidak mutlak, mengenal dan memahami apa yang dikerjakan. Maka perkembangan diri dan intelektualitas semakin tidak mendapat tempat. Semakin hari diri dibuat semakin asing dan tidak saling mengenal. Terus menerus demikian hingga akhirnya tidak lagi ada kesadaran ke mana roda itu mengarah dan kita lupa telah terjebak di dalamnya. Terjebak dalam ketidaksadaran dan pengasingan.

Karenanya, sudahlah, mungkin, beberapa kawan yang sedang mengerjakan tugas wawancara pun sudah mengisafinya. Itu makanya, jauh-jauh hari mereka tidak sungkan dan mulai belajar mempersiapkan diri.

Published in: on 09/22/2008 at 12:34 pm Comments (2)
Tags: , , ,

Koran atau Tabloid?

Siang itu, Jatinangor takbeda seperti siang dalam empat bulan terakhir; debu beterbangan dan matahari terik menyengat. Saya bergegas masuk Nalar. Dayat, yang kebetulan lebih dulu di sana sedang menyampul buku. Lima mahasiswi mengitarinya. Sebagai seseorang yang belum pernah berpacaran selama kuliah, keadaan ini seharusnya disyukuri. Jodoh, katanya, di tangan Tuhan dan siapa yang tahu tanganNya bekerja. Tapi muka kawan itu malah sekering musim ini. Bibirnya terkatup rapat. Kepala menunduk dengan mata menempeli plastik dan halaman buku yang sepertinya berubah jadi makhluk aneh yang harus dia amati setiap sentimeternya.

Setelah melempar senyum, saya masuk kamar dan tidak bergabung dengan mereka. Pertama, saya tidak paham apa yang membuat kawan itu demikian. Alasan lain, ada sejumlah buku yang memang harus saya cek. Dari kamar yang tepat berada di belakang Dayat, saya jelas mendengar percakapan kelima mahasiswi itu. Telinga saya tegak.

“Jadinya apa?”
“Tadi sih habis kuliah gue sempat ribut dengan (menyebutkan sejumlah nama). Gue bilang koran. Tapi mereka pada ngotot kalau tabloid.”
“Koran apa tabloid sih sebenarnya?”
“Tabloidlah.”
“Kalau gue bilang, koran.”
“Masa’ sih?”
“Menurut lo apa?”
“Apaan?”
“Kortem itu koran apa tabloid?”
“Koran kali…”
“Masa’ sih?”

Dayat berdehem seolah minta saya keluar untuk menyelamatkan tenggorokannya yang mungkin tergelitik. Saya mulai dapat sedikit terang penyebab muka kawan satu itu seperti tanaman kurang air, tertekuk. Dan saya memilih terus di kamar.

Published in: on at 12:25 pm Leave a Comment
Tags: , ,