TIDAK LEBIH JAUH DARI TITITNYA

Tiga kali sudah saya menemukan Medy Loekito menuliskan tema seksualitas dan sastra. Di Perempuan Sastra Pria (Jurnal Perempuan 30) Medy membicarakan Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (Dinar Rahayu), Saman (Ayu Utami). Tulisan kedua, Perempuan dan Sastra Seksual (Sastra Kota,2003). Di situ, karya Ayu Utami (Saman dan Larung), Dinar Rahayu (Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch), Clara Ng (Tujuh Musim Setahun), dan Jenar Mahesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet), sebagai tinjauannya. Dan terakhir, Media Indonesia Minggu (18/01/04) dengan contoh novel Ayu dan Dinar.

Dari tulisan yang terakhir pun, sebenarnya banyak hal menarik untuk didiskusikan. Misalnya, perbedaan “esai ringan” dan “paper akademis”, apa berpikir ‘ilmiah’—metodologi, acuan istilah, logika, validitas data—bisa absen pada yang satu. Atau kejelasan kalimat “simbolisasi atau pengungkapan yang lebih dalam sifat aspek psikologisnya”. Atau soal hubungan moralitas dan sastra. Atau bisa juga bagaimana cara menafsirkan teori feminisme yang dikutipnya (Cixous, Irigaray) dan aplikasi teori-teori tersebut dalam karya sastra.

Tapi Medy, yang konon penyair itu, keburu seperti Chairil: meradang dan menerjang. Karya-karya—yang dinamainya “sastra seksual” yang sifatnya “semi-pornografi”—itu melukai kepalanya teramat dalam. “Apakah karya tulis para penulis wanita terkini tersebut dapat dikatakan sebagai benda estetis”, hingga “memang penting untuk ditampilkan dalam pendidikan sastra kita”. Apa jadinya masyarakat kita tanpa karya yang “mengandung muatan moral dan etika yang diperlukan oleh bangsa ini”, semata “keberanian mengungkapkan dan/atau berbuat kekerasan serta senggama terbuka”.

Kondisi demikian, mungkin, yang menjadikan Medy seperti kehilangan keinsafan. Sebagai orang yang puluhan tahun menggeluti sastra, Medy pasti insaf bahwa menulis menggunakan bahasa. Dengan begitu, ada pula keinsafan di peradaban mana ia ada. Peradaban yang kita huni adalah peradaban yang sangat laki-laki, sangat patriakat. Sampai sekarang pun, ideologi itu masih terus menerus memproduksi dan mereproduksi wacana. Begitu banyak ruang-ruang di mana perempuan ditaklukan dan dibikin inferior, dihina dan dieksploitasi, diperas tak bedanya dengan tebu. Bahasa Indonesia tak terkecuali.

Kamus bahasa Indonesia—baik yang resmi dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (KBBI) maupun Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer—semuanya mengartikan kata ‘lacur’ sebagai (perempuan) berkelakuan tidak baik dan ‘pelacur’ sebagai sundal; wanita tuna susila. Padahal, kita tahu, bagaimana bisa pelacuran dilakukan oleh hanya satu pihak yang berkelakuan tidak baik. Kita juga masih menemukan eufemisme ‘menggagahi’ untuk ‘memperkosa’. Jadi ada upaya membuat perkosaan sebagai tindakan yang gagah. Dan gagah, jelas, bukan kata sifat yang diperuntukkan buat perempuan.

Tak mengherankan. Karlina Leksono pernah menulis, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa adalah juga kegiatan sosial yang terkonstruksikan dan terikat pada kondisi sosial tertentu. Bahasa memuat semua tanda, istilah, konsep maupun label yang pantas untuk perempuan dan yang pantas untuk laki-laki. Maka bahasa jelas tidak netral. Bahasa jelas bisa seksis. Bahasa bisa sangat efektif memenjara perempuan.

Ketika perempuan berbahasa, ia mengenakan kaca mata laki-laki untuk melihat diri. Dunia perempuan adalah dunia yang diciptakan oleh dan/atau untuk laki-laki. Maka yang terlihat hanyalah bayang-bayang. Akibatnya perempuan kehilangan kemampuan untuk menafsir dunia. Perempuan jadi asing dengan dirinya sendiri. Ia bisu dalam berbahasa.

Itu sebabnya, untuk menulis, perempuan membutuhkan energi lebih. Mereka harus lebih dulu ‘menghancurkan’ bahasa. Mereka harus menemukan kosa kata atau gaya atau struktur bahasa yang dapat mencungkilkan pengalaman-pengalaman dari dunianya yang khas, yang selama ini diingkari atau dikuburkan oleh kuasa phalus. Praktislah si perempuan, harus mempunyai keleluasaan untuk ‘bermain-main’, untuk mengeksplorasi dan membongkar bahasa hingga menjelma jadi bahasa yang sanggup mengangkat dan mendedahkan ‘dunia-dunia lain’. Sebuah dunia yang, mungkin, tidak saja enak tapi juga perlu dibaca baik oleh perempuan maupun laki-laki.

Dalam keadaan demikianlah perempuan yang menulis dalam bahasa Indonesia ketika menulis cerita rekaan. Dan konon, cerita rekaan—baik novel maupun cerita pendek—adalah pula sebuah organisme yang utuh. Tahun 1968, Subagio Sastrowardoyo menulis, ”…karya sastra adalah suatu kesatuan yang organis yang mengandung kepaduan gaya, suasana, dan cerita. Kesatuan itu terdukung oleh tema yang pokok. Dari asas estetik ini kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa selama adegan yang menguraikan secara terperinci perbuatan seks merupakan unsur yang organis di dalam kesatuan karya sastra sehingga jika ditiadakan akan mengganggu dan merusak kepaduan gaya, suasana dan cerita maka tidak berhaklah kita menuduh karya sastera itu pornografi.” Karya sastra, tambahnya, sebagai kesatuan organis saja belum cukup. Kita harus juga melihat sudut subyektivitas zaman selain perimbangan unsur permainan dan kesungguhan di dalamnya.

Jauh sebelum Subagio, tahun 1956, dalam sebuah diskusi “Percabulan dalam Kesusastraan”, Umar Kayam mengungkap hal serupa. Satu dari empat hal yang ditawarkannya mengenai tema tersebut “satu hasil sastra yang menyangkut soal seks tidak mungkin kita anggap sebagai hasil sastra yang melanggar nilai-nilai kesusilaan, bila dia didukung oleh satu ide yang baik, dipersiapkan dengan mendalam dan matang dan memberi kita pengertian yang baik tentang kehidupan dan kemanusiaan”, karena “dalam membaca satu buku, bukanlah bagian-bagian yang memberi kita pengertian mutlak, tetapi adalah keseluruhan dari seluruh buku itu. Tumpukan batu adalah lain dengan pagar batu, meskipun mempunyai bagian-bagian yang sama: batu”.

Karenanya, sulit bagi saya mencap seksual, jorok, atau porno kepada—misalnya—Umar Kayam, Sitor Situmorang, atau Goenawan Mohamad, karena kalimat “…di bagian atas pahanya, di dekat-dekat kelangkangan, kemudian naik sedikit ke sekitar bola-bolanya….” dalam Sri Sumarah, “…ia langsung mencopot baju…. Ia terlalu sadar volume payudaranya seperti Durga bule.” dalam Kisah Surat dari Legian, “Ah farji/ yang mengucup dan memeriahkan/ berahi// zakar/ yang melingkar-lingkar dalam basah/ dan geletar” dalam Menjelang Pembakaran Sita¬.

Tapi Medy lain. Itu mungkin karena kaca mata yang dipakainya—teori sastra impor yang terbaru—atau karena hal lain. Yang jelas, baginya “bagian-bagian yang memberi kita pengertian mutlak”. Di tiga tulisan, Medy menafsirkan dan memberi label hanya berdasarkan kutipan-kutipan dari novel-novel dan cerpen-cerpen. Seperti kutipan novel Dinar dan Ayu pada tulisan terakhirnya.

“Penisku mereka gosok, buah zakarku mereka remas…. Mereka menuangkan krim kocok di atasnya dan menjilatinya seperti kanak-kanak yang haus”, “Dan aku menamainya klentit karena serupa kontolyang kecil…. Dan dengan penisnya ia menembus.”

Ini pula, mungkin, yang membikin tafsir Medy amat lain dengan Melani Budianta, misalnya, ketika membicarakan Saman. Novel ini, dikatakan Melani, sebagai novel heteroglosia. Heterogosia itu, antara lain, muncul akibat pemakaian sudut pandang yang berbeda-beda terhadap wacana seksualitas dan ideologi gender yang menjadi acuannya, yakni dari posisi yang mengikuti wacana dominan sampai yang oposisional. Sifat tersebut muncul pula dalam bahasa yang digunakan. Saman terdiri dari berbagai ujaran sosial dan suara perseorangan yang diatur secara artistik. Lima teks (teks Laila, teks Saman, teks Shakuntala, teks surat Saman dan teks korespondensi antara Saman dan Yasmin) di dalamnya berbeda dalam pemakaian gaya bercerita, nada, dan suasana.

Medy juga beda dengan Faruk HT. Sedari alinea pertama, Saman telah memukau Faruk melalui keindahan iramanya, melalui aliran aliterasi beruntun bunyi konsonan bilabial. Di samping, manifestasi yang paling penting dari keindahan yakni melalui pelukisan subyektivitas. Termasuk keindahan dalam keterbukaan melukiskan hubungan seks sebagai pengalaman ketubuhan yang partikular.

Baik, saya pungkas tulisan ini—yang mungkin tak lain hanya sekedar menghadirkan kembali perbincangan arkaik dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Dahulu sekali, Hamka karena Tenggelamnya Kapal van der Wijck pernah disebut “seorang Kijahi I Love You, toekang tjerita tjaboel”. H.B. Jassin juga mengalami nasib serupa, ditegur karena memuat cerpen yang mengarah-arah pornografi. Dengan ‘semangat’ yang sama, saya pun hanya mengutip apa yang pernah Jassin tulis “pornografi sudah ada dalam otak mereka sendiri. Citarasa mereka masih terbatas pada yang ‘itu’ dan horisonnya tidak lebih jauh dari tititnya”, dan Hamka tulis “…lantaran ketika membatja itoe hatinja memang memikirkan ketjaboelan, maka timboel sadja sangkanya bahwa pertemoean berdoea itoe telah berzina, itoepoen beloem djadi alasan boeat memoepoesnja”.**

Dimuat di Media Indonesia 25 Januari 2004 dengan judul “Di Balik Ruang Kesadaran”

Published in: on 08/08/2008 at 7:51 am Comments (5)
Tags: , , , , , ,

KERETA API MALAM

Darah kering terselip di kuku jari tengahnya.

Perempuan itu merasa sesak. Mata laki-laki tua di sampingnya setengah terpejam. Beberapa kali kepala setengah botak itu jatuh ke pundaknya. Laki-laki tua itu tersentak kaget. Perempuan itu tidak tahu apa itu sungguhan atau sekedar pura-pura. Setelahnya laki-laki itu akan tersenyum sebagai permintaan maaf. Senyuman itu yang membuat dada perempuan itu sesak. Bibir laki-laki tua itu seperti liang pantat. Nakal. Lalu, laki-laki tua itu terkantuk lagi. Bau minyak angin bercampur tisu penyegar tercium dari tubuh tuanya yang menggelambir. Perempuan itu menggeser duduknya. Menjauh. Kini, seluruh tubuh tua itu miring ke kiri. Pipinya yang coklat terbakar matahari bersatu dengan kaca jendela buram berselimut debu. Napas laki-laki itu mulai teratur.

Darah kering juga terselip di kuku ibu jarinya.

Perempuan itu melirik pada sepasang anak muda di hadapannya. Mereka mungkin orang kaya. Si laki-laki mengenakan celana hitam dengan kemeja katun putih yang lembut. Si perempuan memakai sepatu sendal keemasan yang kelihatannya mahal. Mereka duduk berimpitan. Mata mereka terpejam. Tapi Perempuan itu yakin keduanya tidak tidur. Ia melihat gerak tangan yang disembunyikan di bawah jaket seperti lilitan ular saling melingkar. Sebuah tangan bergerak-gerak di payudara si perempuan. Kadang memeras. Kadang mengelus. Jakun si laki-laki naik turun dengan cepat. Si perempuan beberapa kali tak sadar mendesah. Mereka berdua pasti tidak akan peduli apa yang terjadi di sekitarnya.

Perempuan itu menyapu matanya ke sekeliling. Tak seorang pun yang dikenal dan mengenalnya. Ia memungut sebatang korek api dari lantai. Mematahkan ujungnya. Lantas mengorek-ngorek kuku. Kuku-kukunya besar, kasar, panjang dan tidak rapi. Kotoran sebesar biji padi dia cungkil. Butiran lembek itu ditekan-tekankan di antara ibu jari dan telunjuk dekat hidungnya.

Bau busuk yang enak. Mungkin seperti bau arak murahan dan asap rokok.

“Baumu enggak enak, Le. Mana?”

“Apa, Bu?”

“Kan ibu suruh kamu panggil bapak.”

“Sudah ah, mulai sekarang Sule enggak mau lagi kalau disuruh panggil bapak.”

“Didamprat?”

Sule mengangkat bahu. Dia berbalik. Menelikung dan membungkus punggungnya dengan sarung.

Garwa memegang dahi Sintren. Panas badan anak bungsunya belum juga turun.

“Le. Bangun dulu. Ibu mau nyusul bapak. Kamu jaga Sintren sebentar ya.”

“Tapi, bu…”

Sule menghentikan gerak bibirnya melihat mata Garwa yang membesar.

Kereta berhenti tiba-tiba.

Lima buah lampu menyala. Tiga buah mati. Termasuk lampu di atas kepala perempuan itu. Laki-laki tua di sampingnya terlempar tepat di pangkuan sepasang anak muda yang tangan mereka masih merayap-rayap. Mata laki-laki tua itu berkerjapan. Dia menyeringai ketika sadar kepalanya beralas paha kenyal si perempuan muda.

Telapak tangan laki-laki tua itu mengusap air liur. Si laki-laki kelihatan kesal. Si perempuan diam-diam mengancingkan kemeja.

Perempuan itu tidak tahu kereta berhenti di mana. Ia baru pertama kali bepergian dengan kereta.
Kelihatannya stasiun kecil di luar kota.

Keheningan malam berubah wujud. Beberapa penumpang mendecakkan lidah karena tidur mereka terganggu. Beberapa penumpang lain mengeluh karena kipas angin yang malas berputar. Kipas itu berputar seperti kitiran bambu tanpa angin. Berputar. Tapi lebih banyak diam. Perempuan itu kelihatan tidak peduli. Dari kaca jendela sebelah kanan penjaja makanan bergerombol menawarkan dagangan. Suara-suara dari luar menyadarkan perempuan itu bahwa sejak pagi perutnya belum sempat diisi. Biasanya ia tahan seharian tidak makan asalkan minum teh hangat. Atau juga dengan mengisap sisa rokok yang ditinggalkan suaminya. Tapi ia sadar tidak mungkin merokok dalam kereta. Seorang perempuan berdaster tipis, sendiri, merokok pula, pasti laki-laki tua di sampingnya mengira ia lonte. Mulutnya pahang dan bau. Ususnya mendadak perih. Perempuan itu membuka jendela. Ia mengambil bungkusan nasi dan teh dalam plastik. Lalu menyerahkan dua lembar uang lima ratus bersamaan dengan melintas kencang sebuah kereta dari arah depan di rel sebelah kiri.

Tak lama kereta mulai melaju pelan.

Laki-laki tua di sampingnya kembali bersiap tidur.

Garwa membuka pintu. Matanya lama baru bisa menyesuaikan dengan keremangan bohlam 10 watt di tengah ruang. Tempat itu terasa pengap oleh asap rokok dan bau tuak murahan. Kepala Garwa pusing. Gatal-gatal di vaginanya mulai lagi terasa. Garwa hampir tidak tahan untuk menggaruknya, kalau saja ia tidak ingat rasa perih dan panas ketika kencing. Vagina itu sudah sebesar batok kelapa. Dan totol-totol di sekitar bibir vaginanya sudah pecah. Berair. Baunya seperti kuah sayur asem yang sudah berjamur. Kalau terkena air kencing, perih itu membuat mata berair dan urat-urat paha mengejang. Garwa menjejakkan kaki kuat-kuat ke lantai tanah yang keras untuk menahan gatal. Mata Garwa sekelebat menangkap tangan Agus yang mengambil lembaran uang dari belahan dada Misun.

Perempuan itu membuka bungkusan nasi dengan rakus. Sebuah irisan tipis tempe, irisan timun layu, dan sambel terasi. Lumayan untuk memberi makan cacing-cacing dalam perut. Ia meniup tangannya. Seolah kotoran dan bekas keringat dapat hilang dalam sekali hembusan. Sudut sempit mata perempuan itu sempat melihat lirikan jijik laki-laki muda di depannya.

Ia tidak peduli. Perempuan itu juga tidak mempedulikan Agus yang pulang dengan badan loyo dan berminyak karena begadang. Begitu pula kalau Agus pulang dengan mata birahi. Tapi tidak peduli tidak harus sama dengan kebodohan. Perempuan itu tahu kapan harus mengungsi ke rumah orang tuanya, kapan harus menurut saja disuruh mengeroki punggung berdaki Agus, kapan harus mengangguk atau menggeleng. Ia juga tahu kapan tidak perlu menolak seretan laki-laki itu ke kamar, disuruh telungkup atau menjilati dada hingga paha suaminya yang cairan sperma kering masih lengket di situ.

“Garwa! Kalau Burhan ke mari, bilang aku pergi.”

Perempuan itu mengangguk.

“Heh. Garwa! Kalau Burhan ke mari, bilang aku pergi. Dengar?”

Agus seperti habis berendam dalam puluhan botol alkohol. Ludah berpercikan dari mulutnya. Mata laki-laki itu sekeruh sungai di musim hujan. Pasti dia tidak melihat anggukan Garwa.

“Kopi.”

Garwa tidak perlu menjawab. Hanya dari kamar belakang yang merangkap dapur juga tempat penyimpanan segala macam barang rusak, terdengar denting sendok menyentuh bibir gelas. Sangat keras.

“Tumben ada kopi. Enak lagi.”

“Hasil jualan pepes.”

“Siapa yang bikin? Mino?”

Garwa menggeleng.

“Sule mana?”

“Ke terminal.”

“Ke terminal? Mau jadi preman? Cari modar! Makin besar bukan makin keruan. Bilang sama dia, aku marah. Garwa. Garwa. Ini…” Agus melemparkan beberapa lembar ribuan. “Biar ibumu tutup mulut. Mulut kayak knalpot. Ke mana-mana ngomong. Mantu pengangguran. Mantu suka minum. Suka judi. Tua-tua bukannya inget kuburan. Coba. Coba kalau menang. Dia ikut senang.”

Laki-laki itu membuka serbet kumal yang menutupi satu-satunya piring di atas meja.

“Pepesnya tinggal satu.” Garwa menyerahkan sepiring nasi yang sebagiannya telah kering.

“Hanya ini?”

“Nanti saya minta Ibu kalau mau…”

“Jangan! Besar kepala nanti.”

“Tapi nasinya hanya itu. Enggak masak lebih. Saya kira enggak akan…”

“Enggak akan pulang? Seneng kamu aku enggak pulang.”

Agus menaikkan kaki ke atas meja. Bajunya basah oleh keringat. Laki-laki itu membuka bungkusan daun pisang. Garwa berdiri dekat pintu dapur. Dadanya berdebur. Apa akan ketahuan? Tidak. Suaminya tidak mungkin tahu. Garwa sudah mencampurkan banyak irisan daun kemangi, bumbu penyedap dan daun bawang. Garwa memperhatikan gigi Agus mencabik-cabik isi piring dalam hitungan kedipan mata. Decakan laki-laki itu melebihi mulut kuda. Perut Garwa diaduk-aduk. Mual. Cairan asin memenuhi rongga mulut. Ia ingin memuntahkan dahak bercampur butiran nasi yang tidak sempurna dikunyah. Garwa menekan bibir bawahnya sampai gigi-giginya terasa menancap.

“Air.”

Agus menyudahi makan siangnya dengan berkumur air putih hangat. Menelannya dalam sekali tegukan. Bersendawa.

Malam beranjak. Semakin gelap. Kereta baru saja melewati jembatan panjang. Pori-pori perempuan itu membesar karena tiupan angin yang masuk dari jendela kereta yang rusak. Ia telah selesai makan. Bibirnya mendengus-dengus kepedasan. Dari ujung plastik yang telah digigit, teh hangat membasahi kerongkongan.

Kini ia memejamkan mata.

Kereta memasuki terowongan hitam. Besok pagi-pagi sekali ia akan sampai ke sebuah tempat yang tak seorang pun mengenalnya. Tak seorang pun. Tak seorang juga akan tahu tentang seekor tikus yang dicincang untuk makan siang suaminya.

Ia memejamkan mata.

Dimuat di Media Indonesia 5 September 1999

Published in: on 07/31/2008 at 7:11 am Leave a Comment
Tags: , ,